oleh

Herman Seran Memintal Asa Menuju Senayan Lewat Partai NasDem

RADARNTT, Betun – Herman Seran, pria berperawakan pendek ini lahir di RS.  Marianum, Besikama, Kabupaten Malaka,  2 Juni 1971. Sebagai anak pertama dari 8 bersaudara, memaksanya harus bekerja keras. Dalam keseharian, pembawaannya cukup sederhana. Namun siapa sangka, sosok ini adalah mantan direktur eksekutif di salah satu perusahaan tambang.

Hidup dan besar dari keluarga petani yang sederhana, membuat Herman harus berjibaku dengan getirnya kehidupan untuk meraih masa depan yang lebih baik.  Kebesaran jiwa itulah yang membuatnya tidak putus asa ketika kuliah di Jogjakarta,  pada semester 5, ia harus berusaha sendiri membiayai kuliah lantaran pembagian uang dari orang tua yang tidak lagi mencukupi. Tidak diduga, anak dari pasangan Thomas Klau Bria dan Theresia Bano itu, ditempah dalam kesederhanaan semenjak pendidikan dasarnya di kampung halaman hingga kuliah S2 di Australia, selalu masuk rangking 5 besar. Sekalipun sukses di bangku pendidikan dan dunia kerja, tidak membuat Herman menjadi jumawa.

Sosok Herman Seran dikenal luas oleh masyarakat NTT, karena kiprahnya di dunia sosial. Ia adalah salah satu pendiri organisasi, Jaringan Relawan untuk Kemanusiaan (J-RUK) Kupang, demi memberantas perdagangan manusia NTT. Ia juga menjadi anggota Forum Akademia NTT, peneliti di IRGSC serta bersama teman-temannya mendirikan Center for Timor Studies, sebagai salah satu organisasi Think Tank dalam mengelola Sumber Daya Alam dan kebijakan pembangunan yang berhubungan dengan itu.

Salah satu sumbangan pemikirannya yang teranyar untuk Indonesia, terkhusus Malaka adalah dengan diterbitkan bukunya yang berjudul ‘Membangun Indonesia dari Pinggiran.’ Di dalamnya, Herman dan teman penulis lainnya menyajikan berbagai pemikiran dan tawaran kebijakan kepada para pemangku kepentingan di DOB Malaka.

Sebagai seorang cendekiawan pulau Timor,  tidak heran jika ia sering diundang sebagai pembicara dalam seminar-seminar terkait pertambangan dan persoalan seputar human trafficking di NTT. Tak cukup dengan sumbangsi ide, semenjak Mei 2017, pensiun dari posisi eksekutif, ia kini mengelola pertanian dan peternakan yang sifatnya terintegrasi dengan melibatkan penguatan sosial.

Herman telah menikah dengan Toesni Netta, dari Kalimantan. Mereka dikaruniai 2 orang anak (perempuan dan laki-laki). Dan kini menetap di Kota Kupang (dusun Balfai – Penfui Timur).

Tak bisa dipungkiri, bahwa saat ini Herman Seran sedang memintal harapan menuju gedung senayan lewat Partai NasDem. Dia merasa terpanggil untuk bisa memperjuangkan ribuan asa masyarakat Flobamora yang masih tertinggal dalam berbagai aspek pembangunan. Herman adalah sosok yang mampu meyakini diri dan siap untuk merepresentasikan masyarakat NTT menuju level nasional. (Baurae/RN)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru