oleh

Kampung Adat Tarung Obyek Wisata Budaya Ludes Dilahap Si Jago Merah

RADARNTT, Waikabubak – Kampung Adat Tarung destinasi wisata andalan Kabupaten Sumba Barat Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ludes dilahap si jago merah, Sabtu (7/10/2017) petang. Sebanyak 28 unit rumah adat berkonstruksi tradisional itu ludes terbakar, kerugian yang diderita para penghuni rumah adat mencapai miliaran rupiah.

Agustinus Tamo Mbapa, salah satu putra Sumba di Jakarta menyampaikan sangat sedih atas kejadian terbakarnya kampung bersejarah dan bernilai kultural religius di Sumba. “Kami Ikatan Keluarga Besar Sumba di Jabodetabek telah menggalang bantuan dana untuk membantu meringankan beban bagi keluarga yang ditimpa musibah, kami pasti bangkit dari musibah dan tentunya rumah-rumah adat yang terbakar akan dibangun kembali baik atas dukungan pemerintah pusat dan daerah, juga sumbangan suka rela dari masyarakat, untuk tetap melestarikan nilai kultural Kampung Tarung sebagaimana sediakalanya,” ungkapnya.

Kampung Tarung berada di sebuah bukit dengan tatapan langsung dari tengah Kota Waikabubak. Kampung Tarung dan Waitabar telah menjadi destinasi wajib yang harus masuk dalam daftar penjelajahan selama mengarungi keindahan Waikabubak. Kedua kampung ini meski berbeda nama, namun nyatanya menyatu dalam sebuah kawasan. Anda dapat menyambangi kampung luar biasa ini di tengah kota Waikabubak. Cuma butuh beberapa menit saja dari pusat kota maka sudah bisa melihat wajah asli budaya sumba yang begitu murni.

Kampung ini bukan sekadar kampung biasa melainkan juga berfungsi sebagai institusi sosial dan keagamaan (Marapu). Inilah salah satu potret terbaik menyentuh langsung agama Marapu di Sumba bersama tradisinya yang tidak banyak berubah sejak masa lampau.

Rumah adat Sumba atau uma merupakan bentuk bangunan adat dengan arsitektur vernakular pencakar langit. Strukturnya segi empat di atas panggung yang ditopang tonggak-tonggak kayu dengan kerangka utama tiang turus (kambaniru ludungu) sebanyak 4 batang, juga ada 36 batang tiang (kambaniru) berupa struktur portal dengan sambungan pen memakai kayu mosa, kayu delomera, atau kayu masela.

Ada tiga bagian utama rumah adat sumba, yaitu: pertama: bagian atap rumah (toko uma) berbentuk kerucut seperti menara biasa digunakan untuk menyimpan benda-benda pusaka. Terkadang pula di sana digunakan untuk menyimpan hasil panen. Kedua, ruang hunian (bei uma) yang tidak menyentuh tanah. Pada ruang dalam dibedakan atas ruang akses untuk pria dan wanita. Ada juga ruang hunian berlantai bambu untuk tempat bermusyawah berupa beranda luas (bangga). Ketiga, adalah bagian bawah rumah (kali kabunga) menjadi kandang ternak, seperti kambing, babi, atau bahkan kuda dan kerbau.

Selain bagian dari struktur bangunan rumah adat di atas, ada beberapa jenis bangunan adat dengan peruntukan khusus di Sumba, yaitu: rumah tinggi bertingkat tempat memelihara ternak kuda dan babinya dikolong rumah (uma jangga), rumah keramat pemujaan marapu atau roh leluhur yang tidak dipergunakan sebagai tempat tinggal (uma ndewa), serta rumah besar tempat bermusyawarah adat (uma bokulu).

Apabila Anda perhatikan sambungan atap bangunan ini memakai ikatan dengan usuk maupun penutup atap dari ilalang (Imperata cylindrica).  Sistem struktur yang sederhana ini berkaitan dengan tidak dikenalnya alat pertukangan selain parang dan kampak karena orang Sumba baru mengenal logam ketika Portugis mulai menguasai wilayah ini.

Di kampung ini berdiri rumah adat Sumba (uma) dengan pola memanjang sebagiamana aslinya sejak masa lalu. dibagian tengah rumah-rumah adat ini berdiri kubur batu megalitik yang disebut waruga. Uma dan waruga tersebut menjadi simbol kosmologi lokal adat Sumba yang terus bertahan dari zaman ke zaman.

Anda dapat mengamati setiap detail bagian rumah adat ini bersama kubur batu. Puaskan mengambil foto kegiatan keseharian penduduk setempat dengan rasa hormat dan empati. Menyapa dan berbincanglah dengan mereka karena suku Loli adalah orang yang ramah dan mudah tersenyum.

Anda dapat mengamati dinding-dinding di rumah adat ini yang dihiasi tanduk-tanduk kerbau dan rahang babi. Ornamen-ornamen ini pertanda status sang pemilik rumah. Makin banyak hiasan, makin tinggi status sosial pemilik rumah. Banyaknya tanduk menunjukkan banyak pesta yang telah digelar.

Selain menikmati artistektur tradisional rumah adat dan batu megalitik, ada juga Uma Marapu yaitu semacam kuil keramat yang dipercaya sebagai tempat persemahyaman arwah leluhur. Ada pula tiang yang disebut adung yaitu kayu mati yang telah berusia ratusan tahun yang digunakan untuk menggantung kepala musuh.

Pengunjung yang datang ke kampung ini, umumnya adalah turis, budayawan, peneliti, mahasiswa dan pelajar. Mereka tidak sekadar melihat, tetapi juga mempelajari budaya dan adat istiadat Marapu. (TIM/RN)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru