oleh

Pertahankan Bahasa Daerah, George Saad Sebut SD Tempat Yang Tepat

RADARNTT, Kalabahi – Mahasiswa asal Universitas Leiden, Belanda, George Saad menyebutkan Sekolah Dasar (SD) sebagai tempat yang tepat dalam mempertahankan bahasa daerah. “Sekolah Dasar itu tempat yang tepat dalam mempertahankan bahasa daerah”, ungkap George, Peneliti berkebangsaan Yunani ini kepada awak media,  di SD GMIT Takalelang, belum lama ini.

Sejak penelitiannya dalam rangka mendokumentasi bahasa Abui di Takalelang, kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur tahun 2017, ia menilai orang tua tidak lagi berbicara bahasa ibu (bahasa daerah) dengan anaknya. Itu dikarenakan, sekitar tahun 1980 sampai 1990-an Orang Timur pada umumnya sudah menerima bahasa Indonesia Melayu dan sekolah pun sempat melarang anak-anak berbicara dalam bahasa ibu.

“Sekitar tahun 80 sampai 90-an, orang timur sudah menerima bahasa Indonesia Melayu dan menurut pengakuan orangtua di Takalelang juga menyebutkan pemerintah sempat melarang anak-anak di Sekolah, jangan bicara bahasa daerah”, kata George.

Baginya, kepunahan bahasa itu salah satu faktor yang kuat adalah melarang anak-anak untuk berbicara bahasa daerah. “Karena melarang anak-anak omong bahasa daerah itu akan menuju kepunahan terhadap bahasa tersebut”, terang George.

Hal terpenting yang ia temukan di SD, sebagian besar anak di Takalelang tidak sanggup berbicara bahasa Abui dengan lancar. “Sebagian besar anak SD tidak sanggup berbicara bahasa Abui dengan lancar”, imbuh George.

Ia berpendapat bahwa Bahasa Daerah yang adalah identitas kita sendiri itu harus diajarkan di SD sehingga mempengaruhi orang tua di rumah bahwa itu penting. “Kalau sekolah melarang bagaimana dengan orangtua?”, tegasnya.

Diakui salah satu orang tua di Kampung adat Takpala (perkampungan tradisional), Abner Yetimauh yang juga pada tahun yang sama (2017) sempat diliput MetroTV dalam acara Menemukan Penutur Terakhir.

Abner berkisah, pemerintah sempat melarang bahasa Abui (bahasa daerah), sampai-sampai siswa dipukul pakai belahan bambu jika ketahuan berbicara bahasa Abui, “Kalau kita bicara bahasa Abui (salah satu bahasa di Alor), di sekolah, pasti sudah kena belahan bambu di betis (kaki)”, katanya.

Perlu diketahui bahwa selain berkunjung ke SD GMIT Takalelang, George juga sempat melakukan Sosialisasi di SD Inpres Mabu, SMPN Likwatang dan SMKN 3 Kalabahi dan sejumlah anak-anak yang berada di daerah lain, lingkup Alor.

Hingga Berita ini ditayangkan, George Saad sedang menulis hasil penelitian bahasa Abui dialek Takalelang untuk gelar doktornya. (Tim/RN)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru