oleh

Rektor Undana Diduga Membangkang Keputusan Menteri

                 Prof. Simon Sabon Ola

RADARNTT, Kupang—Rektor Undana saat ini Prof.Ir Fredrik Lukas Benu, M.Si.,Ph.D.  sedang mendapat tudingan melakukan korupsi 6,2 milyar rupiah oleh Prof. Yusuf Henuk, dan disinyalir juga terindikasi meyalahi aturan perundang– undangan yang berlaku.

Hal itu diketahui Pasca dilaporkan Prof. Yusuf Henuk beberapa waktu lalu pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Kini sejumlah pihak pun mulai berbicara tentang keabsahan Kebijakan yang melegalkan Fredrik Benu bisa menjadi Komisaris Bank NTT pada periode kedua ini.

Pada Hari Sabtu yang lalu (14/07/2018) saat diwawancara oleh tim media, Guru Besar Universitas Nusa Cendana, Prof. Dr. Simon Sabon Ola, M.Hum mengatakan, “ Indikasi Fred Benu melakukan pembangkangan meskipun Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI sudah menolak permohonan Prof. Ir. Fredrik Lukas Benu, M.Si., Ph.D. untuk merangkap jabatan sebagai Komisaris Independen Bank NTT untuk periode jabatan 2013 – 2017, namun yang bersangkutan tetap menjabat sebagai Komisaris Independen Bank NTT untuk periode jabatan 2013–2017”.

Kemudian Profesor Simon juga menjelaskan, “Surat Keputusan yang menunjukkan Rektor Undana melakukan pembangkangan terhadap Kebijakan Mendiknas RI, dapat saya kemukakan pada Surat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang ditandatangani Dirjen Dikti 751/E.E1/KP/2014, Perihal : Mohon Ijin Sebagai Komisaris Bank NTT tertanggal 1 September 2014.

Surat tersebut menjawab permohonan Rektor Undana Prof. Ir. Fredrik Lukas Benu, M.Si, Ph.D, Nomor 5395/UN15.1/TU/2014 tanggal 27 Juli 2014, karena secara peraturan tidak diperbolehkan seorang pimpinan Perguruan Tinggi menjabat sebagai Komisaris Bank tanpa kebijakan dari atasan dalam hal ini Menteri.”

Hal senada juga disampaikan Dr. Kalid K. Moenardy, M.Si sebagai anggota Senat Univerisitas Nusa Cendana, sempat  mengatakan, “ Dampak pembangkangan Rektor Undana Prof. Ir. Fredrik Lukas Benu, M.Si, Ph.D terhadap Surat dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini, menyebabkan kerugian Negara selama kurang lebih 4 (empat) tahun berkisar antara Rp 5 milyar sampai dengan Rp 10 milyar (belum termasuk fasilitas mobil, asuransi, dan lain-lain).”

“Perkiraan besaran nominal remunerasi satu tahun dapat dilihat pada Annual Report Bank NTT 2014,” terang Moenardy.(Yo/RN).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru