oleh

Petani Garam Desa Oebelo Kabupaten Kupang Dibantu Dosen FKM Undana

Agus Setyobudi Dosen FKM Undana bersama Jemmi Petani Garam Di Desa Oebelo

RADARNTT, Oelamasi — Sekitar 24 Dosen yang tergabung dari Perguruan Tinggi Universitas Nusa Cendana (UNDANA) dan Universitas Timor (UNIMOR) terpilih oleh P2M Kemenristekdikti Tahun 2018 untuk melakukan kegiatan pengabdian.

Dua Tim diantaranya ialah Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat, Agus Setyobudi, S.KM.,M.Kes dan Ribka Limbu, S.KM.,M.Kes dengan melaksanakan pengabdian mengenai percontohan tempat pengelolaan garam bagi petani garam bagi di Desa Oebelo, Kabupaten Kupang.

Salah satu dosen yang melakukan pengabdian, Agus Setyobudi, S.KM.,M.Kes, mengatakan pada radarntt (Sabtu, 20/10/2018).

“Kegiatan pengabdian untuk petani garam ini kita prioritaskan pada aspek Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3), seperti yang kita ketahui para petani garam ini untuk tempat memasak atau megelola garam itukan kondisinya memprihatinkan baik bagian atap dan kemudian juga ventilasinya serta lantainya juga cuma beralaskan tanah saja, tidak ada beton atau semen yang kalau hujan pasti kondisinya memprihatinkan dan terutama produksi garam bisa terhambat apalagi saat musim penghujan garam sulit diolah karena ketika terkena air hujan pastinya akan mencair sehingga kami tim, membuatkan tempat kerja percontohan yang layak bagi mereka,” ungkapnya.

Selanjutnya Agus Setyobudi menjelaskan, “Membangun tempat percontohan mengolah garam ini, maka masalah ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) yang sering diderita oleh petani yang bersangkutan sedikit tidaknya dapat teratasi. Selain itu juga masyarakat petani terkadang tidak merata mendapatkan bantuan dari pihak desa.”

“Kami bersyukur sekali karena sudah didanai oleh kemenristek dikti, karena kebutuhan petani garam ini tetapi sering kali tidak diperhatikan oleh pihak pemerintah desa. Kami bersyukur juga sudah bisa membantu petani garam dari aspek kesehatan juga karena menurut data profil kesehatan Kabupaten Kupang ISPA merupakan penyakit tertinggi di wilayah Kabupaten Kupang dan apalagi lingkungan kerjanya petani ini sering terpapar asap olahan garam dan tentunya produksi garam dapat lebih baik bahkan akan meningkat sekalipun di musim penghujan dan artinya hal ini akan dengan sendirinya dapat membantu perekonomian masyarakat petani garam,” tukasnya.

Sementara itu, salah satu warga penerima bantuan, Jemmi Bastian Gabriela saat diwawancarai  radarntt dirumahnya (Sabtu, 20 Oktober 2018) mengatakan,

“Saya sudah menjadi petani garam sejak 40 tahun yang lalu dan tempat masak , yah cuman begitu – begitu saja dari dulu karena penghasilan lain tidak ada selain garam saja. Berkebun juga cuman saat musim hujan datang saja itupun untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari. Terkait kesehatan juga saya sering mengeluh rasa sakit di bagian paru – paru karena sering batuk – batuk dan terkena pilek kalau sering didalam tempat kerja olahan garam yang lama,” ungkapnya.

Kemudian Jemmi Bastian Gabriela menyampaikan, “ Saya bersyukur bisa dapat rumah kerja baru untuk mengolah garam lebih baik lagi, kami senang karena sudah mau dibantu oleh bapa dan ibu dosen yang sudah mau kasih kita bantuan, karena kami sudah tidak merasa kurang mengeluh rasa sakit batuk lagi apalagi kalau saat musim hujan datang kalau dulu tempat kerjanya cuman pakai lantai tanah, karena sekarang sudah pakai beton jadi sudah tidak susah lagi dan produksi garam bisa lebih banyak saat musim hujan nanti.”

“Kami sekeluarga ucapkan terima kasih, kami sudah dibantu banyak oleh bapa dosen dari Undana dan ini sudah kali ketiga di lingkungan petani garam ini dibantu. Harapan saya semoga bapa bersama tim selalu diberkati Tuhan dan dilancarkan segala aktivitasnya dan jangan lupa juga selalu kunjungi kami,” harapnya. (YO/SET/RN)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru