oleh

RSUD Naibonat Jadi Rumah Sakit Penyangga

RADARNTT, Oelamasi — Impian Rumah Sakit Umum Daerah Naibonat menjadi rumah sakit penyangga rupanya bukan lagi isapan jempol. Pasien yang dirujuk ke rumah sakit umum Prof. WZ Johanes Kupang, apabila tidak tertampung akan dirawat di rumah sakit umum daerah Naibonat.

Direktur RSUD Naibonat dr Erol Permata Alam didampingi sekretaris RSUD Naibonat Maher Ora saat ditemui radarntt di ruang kerjanya Rabu (25/7/2018) mengatakan, dirinya terus melakukan pembenahan manajemen rumah sakit baik sarana maupun prasarana serta tenaga medis, perawat dan bidan untuk meningkatkan pelayanan agar sebagian pasien dari rumah sakit RSUD WZ Johanes Kupang dapat ditampung dan rawat di RSUD Naibonat.

Keberadaan RSUD Naibonat yang letaknya tidak jauh dari rumah sakit Prof. WZ Johanes Kupang, dapat dijadikan sebagai rumah sakit penyangga untuk menampung sebagian pasien dari RSUD W.Z Johanes Kupang.

Untuk meningkatkan pelayanan kepada pasien, jauh hari sebelumnya RSUD Naibonat telah melakukan Memorandum of Understanding (MoU) dengan RSUD WZ Johanes Kupang, tetapi tidak berjalan. Kedepan akan ada kerja sama antar RSUD Naibonat dengan RSUD WZ Johanes Kupang untuk meningkatkan pelayanan kepada pasien.

Bila dilihat kondisi sekarang, menurut dr Erol pasien dari daerah yang hendak dirujuk ke RSUD WZ Johanes Kupang harus ada pemberitahuan terlebih dahulu. jika ada pasien yang tidak tertampung di RSUD WZ Johanes Kupang akan dirawat di RSUD Naibonat.

dr Erol Permata Alam RSUD Naibonat menjelaskan, RSUD Naibonat memiliki 90 tempat tidur dari berbagai kelas dengan harga, murah dan mudah dijangkau oleh keluarga pasien. Selain merawat pasien umum, juga merawat pasien yang memiliki kartu BPJS. Untuk tenaga medis sebagian dokter spesialis maupun dokter umum sudah tersedia, pihak rumah sakit masih mengajukan ke Depkes RI untuk menambah dokter spesialis bedah, kandungan, mata, THT dan specialis jiwa. Tahun 2019 mendatang, ada penambahan dokter spesialis untuk meningkatkan pelayanan di RSUD Naibonat.
Untuk tenaga bidan dan perawat lebih dari 200 orang, baik ASN maupun tenaga honor yang bekerja di RSUD Naibonat dan siap untuk melayani pasien. Untuk meningkatkan pelayanan kepada pasein, para dokter dan perawat serta bidan yang bekerja di RSUD Naibonat, dibagi dalam beberapa shift untuk melayani setiap saat baik pagi maupun di waktu malam hari terutama pasien yang membutuhkan operasi.

Menyinggung soal ketersediaan gedung menurut dr Erol Permata Alam, sudah ada gedung rumah sakit yang dibangun tinggal ada peningkatan dan penambahan gedung rumah sakit. Dalam tahun anggaran berjalan sebenarnya ada rencana pembangunan gedung transfusi darah yang menggunakan dana alokasi khusus (DAK) tahun 2018 sebesar Rp 3.132.791.000. Dari jumlah dana tersebut untuk pembangunan gedung transfusi darah sebesar Rp 1.350.000.000, untuk pembelanjaan alat kesehatan sebesar Rp 1.782.791.000.

Namun, dikatakannya bahwa dana tersebut masuk dalam DPA Dinas Kesehatan Kabupaten Kupang, yang belum bisa dialihkan ke DPA rumah sakit daerah Naibonat. Pihak RSUD Naibonat masih memperjuangkan ke pusat, karena ada kendala administrasi pada dinas PPKAD.

Pihaknya mengharapkan dana tersebut dialokasikan kembali kepada rumah sakit Naibonat dalam tahun anggaran 2019 mendatang. Karena dalam tahun anggaran berjalanan DAK untuk pembangunan gedung transfusi darah, tidak bisa direalisasikan. Pihak RSUD Naibonat terus berupaya, DAK untuk pembangunan gedung rumah dan pembelanjaan alat alat kesehatan tidak masuk dalam DPA Dinas Kesehatan karena hingga batas akhir pelelangan proyek yang bersumber dari DAK tidak bisa dilaksanakan dan dapat merugikan daerah.

Untuk membangun sarana dan prasarana rumah sakit dibutuhkan dukungan dana pusat baik dana APBN maupun DAK untuk menjawab kebutuhan, baik untuk pembangunan gedung rumah sakit maupun pembelanjaan peralatan kesehatan di rumah sakit. (Set/RN)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru