oleh

Eksistensi Budaya Lokal Ditengah Pembangunan Pariwisata Manggarai Barat

-Mabar, Opini, WisBud-1.385 views

Penulis :
Sebastianus Aquirino Ben 
Siswa SMAK St.Ignatius Loyola Labuan Bajo

 

RADARNTT- Kabupaten Manggarai Barat terbentuk berdasarkan undang-undang nomor 8 Tahun 2003 Tentang pemekaran Wilayah Kabupaten Manggarai Barat di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kabupaten Manggarai Barat merupakan pemekaran dari Kabupaten induk yakni Kabupaten Manggarai tahun 2003 silam. Luas wilayah Manggarai Barat, yakni 9.450 Kilo Meter Persegi dengan masing-masing luas wilayah darat 2.947 Kilo Meter Persegi dan luas Laut 7.052 Kilo Meter Persegi. Jumlah penduduk saat ini kurang lebih 250.000 jiwa.

Sebagai wilayah kepulauan, kabupaten ini memiliki kurang lebih 46 Pulau yang berada disekitar Labuan Bajo. Hal ini memungkinkan Labuan Bajo sebagai sentral pariwisata di NTT. Berbagai ikon pariwisata yang menarik disekitar Taman Nasional Komodo ada 42 dive spot yang sangat digemari oleh wisatawan untuk memanjakan diri dengan aktifitas snorkling dan diving dengan berbagai sajian pemandangan bawah laut yang sangat indah dan merupakan destinasi wisata bahari terbaik di dunia selain Taman Nasional Komodo dengan binatang Komodo sebagai daya tarik utamanya.

Geliat pariwisata Kabupaten Manggarai Barat dari tahun ketahun semakin meningkat. Hal ini membuat Kabupaten Manggarai Barat ditetapkan sebagai salah satu dari sepuluh destinasi pariwisata prioritas nasional oleh Presiden Joko Widodo juli 2017 lalu. Penetapan Kabupaten Manggarai Barat sebagai salah satu dari sepuluh destinasi prioritas nasional mendorong kebijakan pemerintah pusat untuk menyalurkan dana pembangunan di bidang pariwisata dengan target kunjungan 20 juta wisatawan asing di Indonesia per tahun 2019.

Bantuan pemerintah pusat ini sangat signifikan dari tahun ke tahun untuk menunjang penyelenggaraan kepariwisataan di Kabupaten Manggarai Barat. Pengembangan pembangunan periwisata tersebut terkait dengan empat aspek yakni: pengembangan atraksi, pengembangan aksesibilitas, pengembangan amenitas, dan pengembangan Sumber daya manusia.

Pengembangan atraksi berkaitan dengan pengembangan kualitas destinasi serta kualitas tampilan budaya/atraksi. Salah satu contoh tampilan budaya/atraksi yang paling menonjol di Kabupaten Manggarai Barat adalah seni tari. Ada beberapa seni tari yang cukup terkenal diantaranya adalah Tari Caci dan Tari Ndundundake.

Pengembangan aksesibilitas berkaitan dengan pengembangan 3 aspek yakni: Pengembangan kualitas transportasi udara, transportasi laut, dan transportasi darat.

Upaya peningkatan kualitas transportasi udara yang dilakukan oleh Pemerintah Pusat, Provinsi dan Kabupaten Manggarai Barat adalah meningkatkan status Bandara Komodo dari bandara kelas 2 menjadi bandara internasional. Selain itu, pemerintah melakukan perpanjangan landasan pacu bandara dan pembukaan jalur penerbangan langsung Internasional dari Sidney Australia, Timur Leste serta Singapure.

Pengembangan amenitas bertumpu pada upaya peningkatan kualitas layanan air minum, ketersediaan listrik, rumah sakit, telekomunikasi dan perbankan. Upaya pemerintah dalam bidang telekomunikasi adalah membangun beberapa tower baru di beberapa daerah di Kabupten Manggarai Barat untuk meningkatkan kualitas telkomunikasi di Kabupaten Mangarai Barat. Selain itu, Pemerintah Manggarai Barat juga telah membangun rumah sakit baru di Marombok.

Pengembangan sumber daya manusia pariwisata yang memiliki kualifikasi serta kompetensi yang berdaya saing tinggi. Hal ini ditandai dengan membuka sekolah-sekolah pariwisata yakni Politeknik Pariwisata Komundus. Politeknik Pariwisata Komondus akan membuka jurusan-jurusan Pariwisata untuk mendukung perkembangan Pariwisata Kabupaten Manggarai Barat.

Gencarnya pembangunan sektor pariwisata dapat meningkatkan kunjungan wisatawan dari tahun ke tahun. Hal ini dapat dilihat dari data sebagai berikut pada tahun 2015 kunjungan wisatawan ke Kabupaten Manggarai Barat berjumlah 61.257 wisatawan yang terdiri dari wisatawan manca negara berjumlah 45.372 wisatawan dan wisatawan Nusantara 15.754 wisatawan dan pada tahun 2016 meningkat menjadi 83.712 wisatawan terdiri dari wisatawan manca negara berjumlah 54.336 wisatawan dan wisatawan nusantaranya berjumlah 29.377 wisatawan. Tahun 2017 meningkat menjadi 111.749 wisatawan terdiri dari wisatawan manca negara sebanyak 66.601 wisatawan dan wisatawan nusantara berjumlah 43. 556 wisatawan. Dengan lama menginap rata-rata 5 hingga 6 hari. Rata-rata pengeluaran per orang perhari Rp. 750.000 hingga 800.000/orang perhari ( sumber data Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Manggarai Barat).

Data diatas menunjukkan bahwa Kabupaten Manggarai Barat merupakan destinasi pariwisata yang sangat digemari wisatawan manca negara maupun wisatawan nusantara.

Meningkatnya kunjungan wisatawan kekabupaten Manggarai Barat tentu berpengaruh terhadap kehidupan sosial dan budaya masyarakat Manggarai Barat. Budaya merupakan instrumen sosial yang senantiasa melekat dengan kehidupan manusia. Budaya juga tidak terlepas dari pengaruh situasi lingkungan di sekitarnya.

Hal ini dapat dilihat dari perubahan perilaku kehidupan masyarakat Manggarai Barat. Misalnya masyarakat dahulu bekerja sebagai nelayan penangkap ikan dan sekarang menjadi pekerja pariwisata karena telah mengubah kapalnya menjadi kapal wisata pengangkut wisatawan.

Pengaruh pariwisata terhadap kehidupan budaya lokal masyarakat Manggarai Barat terlihat jelas pada perubahan fungsi dan tujuan pementasan budaya. Dahulu kegiatan seni atau pementasan seni budaya hanya ditampilkan pada saat acara-acara adat tertentu tetapi saat ini budaya lokal sudah memiliki nilai jual. Budaya saat ini tidak saja menjadi sebuah jati diri orang Manggarai tetapi budaya sudah menjadi sebuah komoditas.

Budaya sebagai sebuah komoditas ini oleh sebagian masyarakat Manggarai menjadi momok yang menakutkan. Hal itu dikarenakan kegiatan budaya yang dieksploitasi menjadi komoditas tersebut akan berpotensi menghilangkan keunikan, keaslian dan keluhuran budaya tersebut. Hemat penulis, perkembangan pariwisata Manggarai Barat pada hakekatnya tidaklah harus menghilangkan keaslian budaya Manggarai itu sendiri tetapi hendaknya tetap dijadikan sebagai sebuah budaya yang luhur dan berdiri diatas fondasi yang kuat dan senantiasa terus dipertahankan. Apalagi akhir-akhir ini kecenderungan untuk memodernisasi budaya gerak tari yang dipengaruhi dengan budaya modern seperti reggae terus mempengaruhi gerak tarian yang asli tetapi sekarang dikreasikan sehingga keaslianya menjadi hilang.

Perkembangan pariwisata Kabupaten Manggarai Barat tentu merupakan sebuah anugrah sekaligus sebagai sebuah tantangan bagaimana menjaga eksistensi budaya lokal Manggarai ditengah gempuran perubahan zaman. Menjawabi hal tersebut tersebut diperlukan upaya dari beberapa pihak, yakni pemerintah, pelaku pariwisata, LLS, pencinta pariwisata, lembaga pendidikan serta masyarakat di wilayah Kabupaten Manggarai Barat maupun yang ada di luar wilayah Manggarai Barat

Adapun upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga eksistensi dan keaslian budaya Manggarai, antara lain pertama, pemerintah selaku pemangku kepentingan lebih tegas dalam memberlakukan Peraturan Daerah terkait pariwisata dan pelestariaan budaya lokal, serta secara rutin menggelar even terkait promosi pariwisata dan pengembangan budaya lokal dengan melibatkan berbagai kalangan masyarakat.

Kedua, Lembaga pendidikan hendaknya memasukkan kesenian dan budaya lokal Manggarai ke dalam kurikulum pendidikan untuk diajarkan kepada peserta didik selaku generasi masa depan Manggarai Barat. Selain sebagai bentuk apresiasi terhadap budaya lokal juga bertujuan agar siswa dapat membentengi diri dari pengaruh budaya asing.

Ketiga,Pelaku pariwisata dan masyarakat, hendaknya secara aktif menjaga dan mempromosikan aset wisata dan budaya lokal Manggarai. Selain itu juga masyarakat mestinya berpartisipasi dalam menjaga kebersihan, keamanan, dan meningkatkan ketrampilan dalam industri lokal baik industry rumahan maupun ketersediaan pangan lokal,sebagai bentuk dukungan terhadap pariwisata dan budaya lokal Manggarai.

Apabila hal tersebut di atas dapat di laksanakan oleh semua stakeholder pariwisata maka hemat penulis pariwisata Manggarai Barat tetap eksis di mata dunia dan keberadaan komodo tetap tersohor. (***)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru