oleh

Wendy Leki Menilai Bupati Malaka ‘Gagal’

RADARNTT, Betun – Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang ditetapkan pemerintah pada setiap tanggal 2 Mei, adalah tanggal kelahiran salah satu tokoh pendidikan Nasional Indonesia yaitu Raden Mas Soewardi Soerjaningrat atau dikenal dengan Ki Hajar Dewantara. Peringatan Hardiknas tahun 2018 ini adalah momentum merenungkan hubungan erat antara pendidikan dan kebudayaan.

Sudah pasti, baik dari pusat sampe daerah jelas memperingati hari bersejarah ini. Seluruh jajaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menggelar apel upacara memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di halaman Kantor Kemendikbud, Senayan, Jakarta, Rabu (2/5/2018).

Dalam kegiatan itu, Mendikbud Muhadjir Effendy sendiri bertugas sebagai pembina upacara. Sementara di Kabupaten Malaka tidak dapat mengadakan upacara peringatan Hardiknas lantaran Bupati Stef Bria Seran berada di luar Malaka. Sesuai informasi yang beredar, beliau punya agenda pribadi di Semarang, Jawa Tengah, sehingga apel upacara Hardiknas di Malaka baru akan terjadi pada Rabu, tanggal 9 Mei nanti.

Atas kenyataan ini, Wendy Leki, Ketua Posko Perjuangan Rakyat (POSPERA) Malaka angkat bicara. Menurut Leki, Hardiknas adalah momentum yang tepat untuk Bupati SBS menyampaikan hal-hal substansial menyangkut wajah pendidikan di kabupaten baru ini.

“Bupati harusnya berada di tempat untuk mengadakan upacara, sehingga bisa menyampaikan persoalan-persoalan pokok terkait Reformasi sekolah, peningkatan kapasitas dan profesionalisme guru, kurikulum yang dinamis, sarana dan prasarana yang andal, serta teknologi pembelajaran yang mutakhir menjadi keniscayaan pendidikan di Malaka.” tegasnya.

Aktivis muda Malaka ini menilai, jangan sampai kepentingan pribadi lebih diutamakan dari pada kepentingan sosial.

“Jangan samakan Hardiknas dengan perayaan syukuran ulang tahun atau acara kematian yang bisa ditunda oleh karena suatu kesibukan atau urusan pribadi. Tapi Hardiknas itu peristiwa sejarah sebuah momentum untuk melihat dan meredeskripsikan masalah pendidikan di Indonesia, khsusunya Malaka, sekaligus mengenang tokoh atau para pahlawan tanpa tanda jasa yang memiliki kontribusi besar dalam dunia pendidikan bangsa ini.” jelas mantan Ketua GEMMA.

Lanjutnya, Bangsa ini menunda semua agenda negara hanya karena hari bersejarah dalam dunia pendidikan. Sementara di kabupaten yang baru seumur jagung ini dengan seenak hati menunda Hardiknas karena agenda lain.

Sehingga, dalam kacamata berpikirnya, Bupati Malaka telah gagal mewariskan budaya pendidikan yang tepat dan konsisten untuk masyarakatnya. (Baurae/RN)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru