oleh

Masyarakat Lamboya Kembali Minta Polisi Tindak Tegas Pelaku Penembakan Poro Duka

RADARNTT, Waikabubak – Peringatan mengenang 100 hari meninggalnya Poro Duka warga Desa Patiala Bawa, Kecamatan Lamboya Kabupaten Sumba Barat yang diduga ditembak oleh oknum Polres Sumba Barat pada Tanggal 25 April 2018 Lalu.

Sejumlah aktivis WALHI NTT, YKBH Sarnelli, GMKI dan GMNI Cabang Tambolaka bersama warga Lamboya melakukan aksi damai di depan Kantor Bupati Sumba Barat, Kantor DPRD Kabupaten Sumba Barat, Kantor ATR/BPN Sumba Barat, Mapolres Sumba Barat dan terakhir di depan Kantor Kodim 1613 (Selasa 07/08/2018).

Kedatangan Walhi NTT, GMKI dan GMNI Cabang Tambolaka, YKBH serta keluarga korban dalam acara peringatan ini untuk menuntut keadilan atas tewasnya Poro Duka warga Desa Patiala Bawa yang diduga ditembak oleh oknum Polres Sumba Barat beberapa bulan lalu.

Deddy F.Holo selaku Koordinator Lapangan (Korlap) Peringatan 100 hari itu menegaskan, “Kedatangan kami hari ini untuk menuntut keadilan atas meninggalnya poro duka yang tembak oleh oknum polisi Bulan April lalu yang sampai dengan detik ini pelakunya belum terungkap serta kasus ini belum ada titik terang kepada publik, kami hadir untuk menanyakan sampai dimana kasus ini ditangani oleh pihak terkait?”

GMKI dan GMNI Cabang Tambolaka saat audiens dengan Kapolres Sumba Barat AKBP Michael Irwan Thamsil, S. IK, dengan nada tegas mengatakan, “Jika dalam beberapa minggu ke depan, kasus ini belum ada kejelasan atau belum juga terungkap siapa pelakunya dan tidak bisa dituntaskan, maka kami bersama dengan teman-teman GMKI dan GMNI akan turun lagi di luar kontrol, kami akan tinggal di tempat ini sampai ada kejelasan/terungkap siapa pelakunya”.

Menanggapi hal yang disampaikan oleh Deddy F. Holo selaku korlap, Kapolres Sumba Barat AKBP Michael Irwan Thamsil, S. IK mengatakan, “Pada tanggal 21 Mei 2018 serah terima jabatan di Polda NTT, nanti tanggal 21 Agustus tepat saya tiga bulan bertugas di Polres Sumba Barat.”

Lebih lanjut Kapolres Sumba Barat itu menjelaskan, “Kehadiran saya di sini mungkin bapak/ibu sudah tau, saya menggantikan Kapolres sebelumnya AKBP. Gusti Maychandra Lesmana yang bertanggungjawab atas kasus ini. Itu adalah wujud dari pimpinan Polri untuk memperhatikan kasus ini, sehingga kapolres sebelumnya dicopot dari jabatannya sehingga sayalah yg menggantikan.”

Kemudian Kapolres mengungkapkan, “Setelah saya sampai di Polres Sumba Barat, berkas perkara atas kasus ini sudah dilimpahkan ke Polda NTT. Artinya, kalau berkas perkara sudah dilimpahkan ke Polda, maka Polda NTT yang akan menangani kasus ini, karena merekalah yang punya kemampuan kapasitas lebih baik dari pada kami, sehingga mereka yang menangani kasus ini. Biar bagaimanapun, kami tetap menunggu dari Polda, kami tetap ikut aturan yang ada.”

Beberapa pernyataan sikap yang dirumuskan oleh WALHI NTT, YKBH, GMNI dan GMKI Cabang Tambolaka yang diserukan oleh Deddy F. Holo, “Bahwa kami mengenang kepergian saudara kami Poro Duka, 100 hari yg lalu, dengan suatu keyakinan mendalam bahwa kebenaran dan keadilan adalah harga mati bagi setiap orang. Karena itu, seraya mendoakan Poro Duka, kami menuntut agar kebenaran dan keadilan ditegakkan di pesisir Marosi dan di seluruh NKRI.”

Sampai hari ini, proses atas peristiwa Tanggal 25 April 2018, yang merenggut nyawa Poro Duka di pesisir Marosi, Desa Patiala Bawa belum secara serius ditangani oleh kepolisian maupun instansi penegak hukum lainnya. Kepada presiden RI, Ir. H. Joko Widodo untuk:

  1. Menghentikan segala bentuk kebijakan pembangunan dan segala bentuk investasi yang mengorbankan hak hidup dan kelestarian lingkungan serta memiskinkan masyarakat di Patiala Bawa dan seluruh wilayah dan Pulau Sumba.

  2. Menindak tegas semua oknum, termasuk pimpinan wilayah dan lembaga negara yang terlibat dalam dengan pelanggaran hak asasi berat di pesisir Marosi, Desa Patiala Bawa Kecamatan Lamboya, Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur pada tanggal 25 april 2018.

  3. Memulihkan korban pelanggaran hak asasi manusia berat di pesisir Marosi Desa Patiala Bawa, Kecamatan Lamboya, Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur.

  4. Mengembalikan hak ulayat adat warga masyarakat Sumba.

  5. Memberikan tanah terlantar dan tanah terindikasi terlantar di pesisir Marosi kepada rakyat lewat Program Tora.

Kepada Kapolri Jenderal Tito Karnavian dan Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto untuk:

  1. Mengusut pelaku kekerasan dan pelaku penembakan Poro Duka serta para pimpinan pasukan yang indisipliner sesuai hukum pidana yang berlaku.

  2. Mengusut dan menindak semua pihak yang terlibat pada pemaksaan dengan pengerahan personil Polisi dan TNI yang berlebihan pada pengukuran tanah pesisir Marosi, Desa Patila Bawa, Kecamatan Lamboya, Kabupaten Sumba Barat pada tanggal 25 April 2018.

Dihadapan Kapolres Sumba Barat, Deddy F. Holo menyerukan, agar keadilan di bumi pertiwi tercinta ini tetap ada dan cepat terungkap siapa pelaku penembakan Poro Duka yang merenggut nyawa di pesisir Marosi.

“Kami yang mengenang dengan duka mendalam atas kepergian saudara kami, Poro Duka dan dengan penuh kepedulian merindukan tegaknya keadilan di bumi pertiwi tercinta, tegasnya. (AG/RN)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru