oleh

Hubungan Alam dan Manusia Pada Pertanian Organik

Dewasa ini bisa dipastikan hampir semua orang yang tinggal di dalam setting perkotaan modern dan hidup dalam budaya populer, baik yang di kota kecil maupun kota besar, pasti merasakan secara intuitif ada sesuatu yang ‘hilang’.

Ketika kita mendapati bahwa semua iklan yang menjual ‘keindahan alam’ sebagai barang dagangan, apakah itu kompleks perumahan, resort, hotel, taman bermain, tempat rekreasi dan berbagai obyek wisata, ternyata tidak lebih dari sekedar mempermainkan ‘sentimen’ konsumen karena yang mereka sebut ‘keindahan alami’ ternyata tidak lebih dari tiruan alam buatan manusia alias artifisial saja, kekecewaan yang mendalam kita rasakan.

Ketika melihat sungai tempat kita bermain air di waktu kecil dulu dengan riang bersama teman, sekarang telah menjadi saluran kotor dengan tumpukan sampah dan buih detergen yang menggunung, kepahitan yang kita rasakan sangat mendalam!. Bahkan dampak destruktifnya terhadap jiwa kita jauh lebih besar dari yang kita kira.

Alam telah kehilangan maknanya, dan itu menimbulkan ruang kosong di dalam jiwa manusia modern yang jika dibiarkan terus kosong akan termanifestasi menjadi sikap kecewa, apatis, hilang kepercayaan pada apa saja, sampai pada kekerasan (violence) dan gangguan mental yang lain.

Untuk menghubungkan kembali (reconnect) manusia dengan alam, tidak banyak pilihan yang ada di zaman ini. Yang pasti sekedar berwisata melihat alam bukanlah pilihan yang tepat, karena ke manapun kita pergi yang kita lihat adalah kerusakan alam. Dan berwisata tidak akan menimbulkan ‘sense of connection’ apapun karena kita memang tidak berpartisipasi secara aktif, melainkan hanya menonton secara pasif.

Bertani organik adalah satu cara terbaik untuk ini, kalau kita tidak bisa bergabung dalam aktifitas penanganan sampah dan penanggulangan krisis lingkungan lainnya. Yang dimaksud bertani organik di sini adalah kita betul-betul menanam atau menjadi petani organik meskipun hanya di halaman rumah kita, bukan cuma sekedar berwisata melihat-lihat pertanian organik.

Bila dalam pertanian biasa (konvensional) yang menggunakan berbagai bahan kimia, alam dipandang sebagai pihak yang harus dikalahkan untuk dinikmati dan harus memuaskan kebutuhan manusia, dalam pertanian organik alam dipandang sebagai partner untuk diajak bekerja sama.

Dapat diibaratkan, bukannya dianggap sebagai ‘istri’ dari mana seorang suami memperoleh berbagai layanan tapi sekaligus sang suami menjadi pelindung bagi si istri, dalam cara pandang pertanian konvensional alam dipandang sebagai ‘prostitute’ (pelacur) yang hanya dinikmati tapi tidak ada kewajiban untuk melindungi dan mengurusnya lagi.

Dan masalah terbesar yang dihadapi manusia sekarang adalah alam ‘sang pelacur’ – tidak mempunyai banyak yang bisa dinikmati lagi. (Tim Redaksi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru