oleh

Medah Wajibkan Peserta Sidang Raya Sinode GMIT Tanam Kemiri Sunan

RadarNTT.com,Kupang,-Senator/Anggota DPD RI, Drs Ibrahim Agustinus Medah, terus menggencarkan tekadnya membudidayakan Kemiri Sunan di Kabupaten Rote Ndao. Salah satu yang dilakukan adalah mewajibkan seluruh peserta Sidang Raya Sinode Gereja Masehi Injil di Timor (GMIT) ke-33 pada September 2015, untuk menanam anakan kemiri sunan di lahan yang telah disiapkan oleh panitia dan Pemkab Rote Ndao.

Hal itu terungkap dalam pertemuan antara Ketua Panitia Sidang Raya Sinode GMIT ke-33 Ibrahim Agustinus Medah dengan Bupati Rote Ndao Leonard Haning, Wakil Bupati Rote Ndao Johanes Lun serta pimpinan SKPD Rote Ndao di ruang kerja Bupati Rote Ndao, Selasa (14/4/2015).

Senator Medah mengatakan, momentum Sidang Raya Sinode GMIT kali ini yang sesuai rencana akan dibuka secara resmi oleh Presiden Jokowi tidak sekedar untuk melaksanakan agenda protokoler empat tahunan dari GMIT. Namun, ditargetkan akan menjadi titik awal menjadikan Rote Ndao sebagai penghasil biodisel atau bahan bakar pengganti solar dengan bahan baku kemiri sunan serta Rote Ndao sebagai penghasil bioetanol berbasis nira dari pohon lontar.

“Bapak Presiden diharapkan untuk hadir, tidak saja untuk membuka Sidang Raya Sinode GMIT dan melihat Rote Ndao sebagai pulau terdepan dari NKRI tetapi melihat dari dekat potensi Rote Ndao yang bisa menjadi solusi nasional dalam mengatasi persoalan BBM di bangsa ini,” katanya.

Medah yang kini menjadi anggota DPD RI dari NTT itu mengatakan, lahan tidur yang belum tergarap di Rote Ndao saat ini diperkirakan seluas 40 ribu hektare yang akan ditanami kemiri sunan oleh masyarakat. “Bapak Presiden akan melakukan penanaman perdana ketika pembukaan Sidang Raya Sinode GMIT dan diikuti oleh semua peserta Sidang Raya dan seluruh masyarakat, dan ditanami di seluruh lahan tidur di Rote Ndao, ” katanya.

Selain itu, sebut Medah, potensi pohon lontar di Kabupaten Rote Ndao sangat melimpah dengan para penyadap yang menyebar di seluruh wilayah Rote Ndao juga masih eksis hingga sekarang meski jumlahnya mulai menurun lantaran nilai ekonomis dari nira yang dihasilkan dari sadapan lontar itu menurun.

Itu pasalnya, Medah mengajak Pemda Rote Ndao dan seluruh jemaat dan masyarakat Rote Ndao untuk beralih pada pengolahan bioetanol berbasis nira dari lontar. “Saya optimis gerakan ini akan mendongkrak perekonomian jemaat dan menjadikan Rote Ndao sebagai penghasil bioetanol dan biodisel,” ujar mantan bupati Kupang dua periode itu.

Mantan Ketua DPRD NTT itu menambahkan, pada bulan Mei 2015, pihaknya akan mendatangkan mesin pengolah bioetanol sebagai bahan bakar pengganti bensin berbasis nira dari lontar untuk dilakukan uji coba di Rote Ndao. “Nanti setelah Bapak Presiden menekan tombol peluncurannya pada pembukaan Sidang Raya Sinode GMIT, kita akan tempatkan mesin pengolahan itu di setiap desa satu unit mesin, atau setiap 20-30 penyadap ditempatkan sebuah mesin pengolahan. Ini untuk memudahkan akses para penyadap dengan mesin pengolahan,” ujar Medah.

Ia merincikan, pihaknya telah melakukan uji coba dan diperoleh hasil setiap 15 liter nira akan menghasilkan 1 liter bioetanol sebagai bahan bakar pengganti bensin. Sedangkan untuk kemiri sunan sebagai bahan baku penghasil biodisel yang adalah bahan bakar pengganti solar, menurut Medah, setiap satu hektar lahan bisa ditanami 150 pohon kemiri sunan dan pada tahun keempat akan dipanen bijinya yang setelah diolah akan menghasilkan satu ton biodisel.

“Kita akan bangun pabriknya di Rote Ndao untuk menampung dan mengolah biji kemiri sunan menjadi biodisel. Jika masing-masing Klasis di Rote Ndao wajib menanam kemiri sunan maka kita bisa tempatkan pabriknya di klasis tersebut,” katanya.

Bupati Rote Ndao Lenonard Haning, saat itu juga langsung merespons gagasan besar yang dikemukakan Ibrahim Medah itu dengan menunjuk Wakil Bupati Jonas Lun menjadi penanggungjawab untuk mempersiapkan hal-hal yang lebih tekanis untuk mewujudkan gagasan besar itu.

Bupati haning mengatakan, ada dua point besar yaitu menjadikan Rote Ndao sebagai penghasil bioetanol dan biodisel. “Jika bioetanol dengan berbasis nira dari lontar maka posisi Rote Ndao saat ini sudah siap 50 persen karena ketersidaan lontar yang melimpah dan dengan tenaga penyadap yang sudah siap karena ini merupakan budaya turun temurun dari para leluhur. Sedangkan untuk biodisel maka harus dipersiapkan dari awal mulai lahan dan bibit kemiri sunan untuk ditanami di seluruh lahan tidur di Rote Ndao,” katanya.

Ia mengaku salut dengan semangat yang dilontarkan oleh Ibrahim Medah dan ia berjanji akan mewujudkannya agar gagasan itu mendarat sampai ke masyarakat. “Kita bergandengan tangan dan semangat ini bisa menjadi gerakan bersama seluruh masyarakat dan moment Sidang Raya Sinode GMIT ini yang menghadirkan Bapak Presiden tidak hanya sekedar hadir, namun selanjutnya akan mengangkat harkat dan martabat masyarakat Rote Ndao dan mampu mengatasi masalah BBM karena berkaitan dengan energi baru dan terbarukan,” ujar Bupati Haning.(*laurens leba tukan)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru