oleh

Paskah, Kenangan dan Tuan Gibson

Oleh : Mario F. Lawi

“Satis. Mandatum erat hunc hominem punire non eum castigare usque ad mortem.”

Nyaris sebelas tahun, The Passion of the Christ menjadi bagian dari kenangan Paskah, menggantikan film Jesus yang selama bertahun-tahun mengisi trivia Paskah saya. Film garapan Mel Gibson tersebut memang dapat dikatakan kalah aktual dengan Son of God (2014), tapi sebagai salah satu film bertema Yesus yang fokus menggarap passion play sebagai narasi utama, nyaris setiap tahun The Passion of the Christ menjadi bagian wajib dari selingan mengisi ritual Paskah. The Passion of the Christ bahkan menjadi salah satu film dalam kenangan saya yang diputar untuk ditonton bersama dalam gereja selain Soegija.

Saya pertama kali menonton The Passion of the Christ semasa SMP, berkat kepingan DVD yang dibeli ayah dari seorang penjual kaset. Selanjutnya, ketika masuk Seminari Menengah Santo Rafael Oepoi, saya masih sempat menontonnya—seingat saya—karena diizinkan Romo Prefek, ketika diputar di salah satu stasiun televisi swasta. Setelah tamat Seminari, saya tahu, saya dapat memutarnya kapan saja saya mau. Meski demikian, saya dan keluarga besar masih setia memilih momen Paskah sebagai saat kami menontonnya secara bersama-sama.

Ada perkembangan pemaknaan yang saya alami setiap kali menonton The Passion seiring dengan berkembangnya pengetahuan yang saya miliki. Semasa SMP, saya tidak tahu bahwa bahasa yang digunakan oleh Pilatus dan anak buahnya serta Kristus dan murid-murid-Nya berbeda sama sekali. Ketika duduk di Seminari Menengah, saya mulai dapat membedakan bahasa Latin dari bahasa Aram yang digunakan dalam The Passion. Sejumlah adegan dalam The Passion—seperti adegan telinga Malkus yang putus terkena sabetan pedang Petrus—bahkan menjadi rujukan para seminaris ketika melakonkan tablo Kisah Sengsara. Ketika menyaksikannya setelah tamat Seminari, saya mulai mampu mentranskripsikan kembali beberapa kalimat bahasa Latin yang diucapkan Pilatus, Claudia, Abenader dan Yesus. Ketika menyaksikannya kembali saat memilih Jurusan Ilmu Komunikasi di bangku kuliah, saya mulai mengaitkan The Passion dengan sejumlah piranti pemaknaan yang saya temukan dari teori-teori yang berkembang dalam ilmu komunikasi, termasuk dengan wacana seksual, feminis dan rasial yang menjadi bagian tak terpisahkan dari keberadaan film sebagai produk kultural.

Kutipan kalimat Latin yang saya tempatkan sebagai pembuka tulisan ini tidak diambil dari terjemahan Kitab Suci, atau dari karya Horatius, Juvenalis atau para pujangga Latin lainnya. Kutipan itu saya kutip dari perkataan Abenader (Fabio Sartor), kepala serdadu Pontius Pilatus (Hristo Shopov), ketika menemukan siksaan yang ditimpakan para algojonya mengancam nyawa Yesus (Jim Caviezel) di ruang hukuman, yang berarti, “Cukup. Mandat yang diberikan adalah untuk menghukum orang ini, bukan menyiksanya sampai mati.”

Penggunaan bahasa Aram dan Latin dalam film The Passion tidak hanya menjadikannya langka, tetapi juga membuat konflik kultural yang dialami Yesus dalam manifestasi bahasa pada zamannya ikut dirasakan oleh penonton, sekaligus menampakkan kecerdasan manusiawi Yesus sebagai Sang Terpilih. Ketika Pilatus berusaha menawarkan keramahan dengan menyapa Yesus dalam bahasa ibunya, Yesus malah memilih menjawab Pilatus dalam bahasa Latin. Mau tak mau, sebagai sosok yang “dikalahkan”, Pilatus pun selanjutnya melanjutkan tanya jawab dengan Yesus dalam bahasa Latin.

The Passion dibuka dengan suasana di Getsemani, ketika Yesus berdoa, ditemani Yakobus (Chokri Ben Zagden), Yohanes (Hristo Zhivkov) dan Petrus (Francesco De Vito) yang kemudian tertidur, hingga akhirnya digoda iblis (Rosalinda Celentano). Dalam tradisi Kristiani, saat tersebut tak jarang dipercaya sebagai waktu Yesus menanggalkan keilahiannya, berkeringat darah, merasakan ketakutan, hingga, sebagai Adam baru, menyapa Bapa-Nya secara bergantian dengan “Abba” dan “Adonai”.

Dari Getsemani, Yesus berturut-turut dibawa ke hadapan Sanhedrin untuk ditanyai dan dijebak, dihadapkan kepada Pontius Pilatus, sebelum akhirnya memanggul salibnya sepanjang Via Dolorosa menuju Kalvari, wafat di salib dan menggemparkan neraka. Di akhir film, gambaran kebangkitan Kristus ditampilkan sekilas; tubuh yang telanjang dan tangan yang berlubang diterangi cahaya dari luar makam.

The Passion tidak hanya memberi warna berbeda Paskah, tetapi turut mengambil bagian dari realitas Paskah masa kini; momen ketika tafsir terhadap detail kejadian sepanjang Via Dolorosa hingga Kalvari tidak sepenuhnya bergantung pada otoritas hirarkial atau Kitab Suci, tetapi mengizinkan kemungkinan bagi jalan kreativitas awam untuk menerjemahkannya sebagai bagian pemaknaan iman sejauh tidak melecehkan nilai-nilai utama dari ajaran Kristiani.

Di kapela, pada Ibadat Jumat Agung tahun ini, saya melihat wajah Jim Caviezel yang berdarah dicetak sebagai latar baliho yang memuat kalimat tema perayaan saat itu. Setelah Ibadat Jumat Agung, di rumah kami diadakan latihan koor KUB untuk mengisi tanggungan liturgi Minggu Paskah sekaligus menjadi bagian dari pemaknaan kembali terhadap kebangkitan Kristus yang setiap tahun kami rayakan. Setelah latihan koor, kami sekeluarga berencana menonton The Passion of the Christ sekali lagi, juga sebagai bagian dari pemaknaan kembali kebangkitan Kristus. Ibu mungkin akan kembali meneteskan airmata dan menyelipkan doa untuk Tuan Gibson dan semua orang yang memungkinkan The Passion hadir di antara tetes airmatanya.

(* Mario F. Lawi adalah Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Nusa Cendana, Tokoh Sastra Puisi 2014 versi Majalah Tempo dan Peraih NTT Academia Award 2014 kategori Sastra.)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru