oleh

Pedagang Pakaian Bekas di Kupang Menjerit

RadarNTT.com-Kupang,-Surat Edaran Kementerian Perdagangan beberapa waktu lalu mengenai larangan penjualan pakaian bekas impor dikeluhkan oleh para penjual di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Para pedagang menjerit karena merasa akan kehilangan pendapatan mereka, karena menjual rombengan sudah menjadi lapangan pekerjaan tetap.

Wati, penjual rombengan di Pasar Kasih Naikoten, Kota Kupang yang ditemui, Selasa (10/2) mengatakan larangan itu pasti akan berdampak pada penutupan belasan lapak rombengan di pasar itu. Pemerintah diminta siapkan modal untuk para pedagang jika melarang menjual pakaian bekas. “Siapkan modal dan pekerjaan yang menjanjikan buat kami jika pemerintah melarang jual pakaian rombengan,” kata Wati.

Dia mengakui, sejak tahun 1986 berbisnis rombengan, namun belum ada komplain dari pembeli bahwa ada virus pada pakaian yang dijualnya. Andaikan ada virusnya, maka pasti virus itu sudah menyebar pada keluarganya karena mereka menggunakan pakaian-pakaian yang dijual itu.

Bibi Nur, penjual lainnya mengatakan, isu virus itu sudah ada sejak dulu. Namun, patut dipertanyakan jika benar pakaian rombengan itu mengandung kuman tetapi bisa masuk ke pasaran di seluruh Indonesia. “Saya mau tanya, kenapa barang-barang tersebut bisa masuk padahal menurut pemerintah ada virus. Lemahnya di mana, salahnya di mana,” tegasnya.

Dia berharap pemerintah meninjau kembali larangan itu dengan menyediakan alat pendeteksi. Jika ada virus langsung dimusnahkan dan jika tidak, maka biarlah pakaian bekas itu diimpor untuk mendukung perekonomian keluarga.

Sebelumnya, Kepala Dinas Peridustrian dan Perdagangan Nusa Tenggara Timur (NTT), Bruno Kupok menyebutkan pakaian bekas impor mengandung bakteri yang bisa menyebabkan sakit kulit dan infeksi saluran kencing, sehingga warga diminta untuk waspada.

“Kami sudah melakukan koordinasi dengan instansi terkait untuk secepatnya melakukan penertiban di lokasi–lokasi penjualan pakaian bekas impor,” kata Bruno.

Menurut dia, pihaknya juga segera mengeluarkan larangan penjualan pakaian bekas impor, menindaklanjuti surat edaran Kementerian Perdagangan. Saat ini, banyak produk garmen dari Indonesia yang kualitasnya cukup bagus. Selain itu, harga pakaian produksi dalam negeri juga dijangkau masyarakat. Karena itu, dia mengimbau masyarakat untuk berhati-hati membeli atau menggunakan pakaian bekas impor yang masih dijual bebas di NTT.(*Ega)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru