oleh

Ribuan Labu Misterius Masih Terus Terdampar di Pantai-pantai Nusa Utara

-News-125 views

RadarNTT.com -Manado,- Hingga Senin (16/3/2015) pagi, puluhan ribu labu misterius masih terus terdampar di pantai-pantai Nusa Utara, Sulawesi Utara. Labu yang hingga kini belum diketahui berasal dari mana itu awalnya terdampar di Pantai Tabukan Selatan, Kabupaten Kepulauan Sangihe, pekan lalu.

“Tapi, sampai saat ini, labu-labu itu masih saja terdampar, sedikitnya di tiga desa di bagian Timur Karakelang,” ujar Richter, warga Kabupaten Talaud.

Kejadian yang sama walau hanya dalam jumlah yang sedikit juga dilaporkan terjadi di Pantai Kalahiang, Siau Timur Selatan, Kabupaten Sitaro. “Ada puluhan labu yang terdampar di pantai itu,” ujar Buyung, warga Sitaro.

Belum ada penjelasan secara resmi bagaimana labu-labu itu bisa terbawa arus dan terdampar di beberapa pantai di Nusa Utara itu.

Nusa Utara merupakan wilayah di bagian utara Provinsi Sulawesi Utara dan berbatasan langsung dengan negara Filipina. Di Tabukan Selatan, lokasi awal labu ini ditemukan, sedikitnya ada 21.000 labu yang ditemukan warga.

Di atas labu-labu yang masih terlihat segar itu, tertempel stiker yang bertuliskan “New Zealand”. Beberapa spekulasi merebak bahwa labu-labu itu hanyut terbawa arus dan terdampar karena ada kapal yang tenggelam.

“Boleh jadi ada kapal yang mengangkut labu itu dan dihantam ombak, lalu sengaja membuang muatannya untuk menyelamatkan diri,” kata Richter.

Perairan Nusa Utara, terutama di perairan sekitar Sangihe dan Talaud, merupakan kawasan perairan yang sering dilintasi berbagai kapal dari dan menuju ke Filipina. Perairan ini juga sering dijadikan sebagai rute penyelundupan barang-barang dari Filipina ke Sangihe.

Hingga saat ini, belum ada pihak yang bisa dimintai penjelasan dan konfirmasi terhadap kejadian terdamparnya labu-labu misterius itu. Demikian pula belum ada laporan mengenai adanya kapal yang tenggelam.

Pemerintah setempat hanya mengingatkan kepada warga untuk berhati-hati dan tidak sembarangan mengonsumsi labu tersebut. Namun, dari informasi yang dihimpun, beberapa warga sudah mengonsumsinya dan menjualnya di pasar. (sumber kompas)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru