oleh

Senator Medah Bertemu Menteri PU dan PR Bahas Kekeringan TTS

RadarNTT.com,Kupang-Setelah bertemu langsung dengan masyarakat yang mengalami gagal tanam dan gagal panen akibat kekeringan di Kecamatan Amanuban Selatan dan Kecamatan Kualin Kabupaten Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur(NTT) serta berkoordinasi dengan Ketua DPR RI, senator/anggota DPD RI asal NTT Ibrahim Agustinus Medah kembali menjumpai Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Dr. Ir. Mochamad Basoeki Hadimoeljono, M.Sc di kantornya, Kamis (25/6/2015).

Medah bersama Ketua Komite II DPD RI Parlindungan Purba dan sejumlah anggota diantaranya Habib Ali, Jasmen Purba dan lainnya untuk mendesak kementrian PU dan PR agar segera mengambil langkah-langkah konkrit yang permanen untuk mengatasi persoalan kekeringan yang saban tahun melanda masyarakat di Kabupaten TTS dan NTT pada umumnya.

Kepada wartawan usai pertemuan itu Medah mengatakan, Menteri PU dan PR sudah menjanjikan pada tahun ini akan dibangun bendungan besar seperti yang dibangun di Raknamo Kabupaten Kupang di wilayah yang mengalami kekeringan.

“Menteri PU dan PR juga menjanjikan pada tahun 2016 akan dibuat lebih banyak bendungan di NTT. Karena di NTT saat ini hanya ada satu bendungan saja yang namanya Bendungan Tilog di Kabupaten Kupang. Sehingga pada Tahun Anggaran 2016 beliau (Menteri PU dan PR) akan memprioritaskan pembangunan bendungan di NTT dan jumlahnya akan disampaikan ke saya selaku senator NTT, utntuk diteruskan ke masyarakat. Tetapi yang sudah pasti itu, akan dibangun banyak bendungan sekelas bendungan Tilong,” kata Medah.

Mantan Bupati Kupang dua periode itu juga mengatakan, pada kesempatan pertemuan itu, ia juga menyampaikan soal irigasi di NTT. Dijelaskannya, irigasi untuk NTT tidak boleh menggunakan irigasi  konfensional yang sama seperti di Pulau Jawa yang salurannya menggunakan selokan. “Tetapi saya katakan ke Menteri PU dan PR bahwa contoh seperti di Australia, Turki dan Israel, karena airnya kurang maka harus menggunakan irigasi hemat air. Irigasi itu menggunakan irigasi tetes atau springkel. Apapaun bentuknya untuk NTT, irigasi itu jangan lagi menggunakan seperti selokan yang di Jawa yang boros air,” tegasnya.

Dijelaskan Medah, irigasi dimaksud menggunakan pipa, atau menggunakan pipa karet yang saat ini mulai popular digunakan. Sehingga  ketika mengalirkan air ke sawa, ladang, serta kebun masyarakat jangan lagi menggunakan saluran yang kovensional seperti di Jawa tetapi menggunakan irigasi pipa atau pipa karet yang besar sehingga hemat air, dan airnya tidak bocor ditengah jalan dan tidak menguap di jalan.

“Dan Menteri PU dan PR sudah setuju dan mengatakan bahwa mereka sudah uji coba di Oesao dengan menggunakan springkel untuk kebun-kebun jagung. Dan beliau akan memperbanyak irigasi seperti itu yang namanya irigasi hemat air untuk diperbanyak di NTT,” katanya.

Tidak hanya itu, mantan Ketua DPRD Provinsi NTT itu menambahkan, kepada Menteri PU dan PR ia juga menjelaskan bahwa ada banyak sumur bor di NTT termasuk di TTS yang mengalami gagal tanam dan gagal panen itu tetapi tidak ada pompa. “Menteri PU dan PR juga setuju untuk memberikan bantuan-bantuan pompa untuk sumur bor yang belum ada pompa airnya sehingga bias dimanfaatkan sumur bor itu dengan baik oleh masyarakat,” katanya.

Medah menambahkan, dalam tahun ini dan tahun depan akan dibangun embung-embung dalam jumlah yang banyak sehingga bias mengcover daerah-daerah yang kering di NTT. “Dan embung-embung itu bukan hanya sekedar embung tada hujan tetapi embung-embung yang bisa digunakan untuk irigasi. Kalau selama ini embung-embung yang ada hanyalah embung-embung tetapi tidak berfungsi untuk irigasi karena tidak ada infrastruktur untuk irigasinya. Jadi embung-emnung yang nanti dibangun lagi dalam jumlah banyak itu adalah embung-embung yang disertai dengan infatsrtsr untuk irigasi. Dan irigasi yang digunakan adalah irigasi hemat air dengan menggunakan pipa karet atau paralon,” sebutnya.

Pada kesempatan itu, lanjut Medah, menteri PU dan PR juga berjanji akan membangun perumahan bagi masyarakat di daerah-daerah  perbatasan di NTT. “Mengani jumlahnya beliau tidak ingat persisi tetapi akan saya koordinasikan dengan Dirjen yang berkaitan dengan perumahan rakyat suapay bisa tahu jumlahnya untuk bantuan perumahan bagi daerah perbatasan,” katanya.

“Jadi kita tidak saja stop pada diskusi-diuskusi tetapi kita memfoloup dengan mendatangi dan mendesak menteri, dan menteri telah meresponsnya dengan sangat baik. Nah, sekarang diharapkan selain kami dari DPD, juga Pemerintah Provinsi NTT untuk ikut mengawal janji-janji menteri PU dan PR ini agar dapat teralisasi. Jadi jangan sampai kita sudah biacarakan dengan Menteri, tetapi kita tidak kawal, dan mwenteri ini bukan hanya urus NTT tetapi urus Indonesia. Karena itu, baik kami dari DPD maupun pemerintah Provinsi NTT ikut mengawal supaya apa yang sudah dijanjikan menteri ini dapat ditindaklanjuti dalam pelaksanaanya nanti,” jelas Medah.(*Lores/R1)

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru