oleh

Stikom Uyelindo Gagal Jamin Nasib Mahasiswa

Radar NTT. Com, Kupang – Sekolah Ilmu Tinggi Komputer ( STIKOM) Uyelindo Kupang diam-diam tanpa memiliki ijin resmi dari Dikti, nekat membuka “Program Jurusan Tambang” di Sekolah Tinggi Komputer Uyelindo Kupang akhirnya berujung pada sulit melanjutkan aktivitas perkuliahan resmi bagi mahasiswa jurusan tambang di sekolah tersebut. Bahkan tidak hanya itu, melainkan gagal mewisudakan mahasiswa jurusan tambang yang telah menyelesaikan tugas akhir.Hal tersebut di akui Ketua Yayasan Stikom Uyelindo Kupang Tarsius Tukan, ketika dikonfirmasi wartawan diruang kerjanya, Kamis Siang kemarin pukul, 1.00. wita.

Tarsius beralasan bahwa proses transfer mahasiswa jurusan tambang yang ada di Uyelindo Kupang, bukan solusi permanen, melainkan hanya mengamankan sementara. Pasalnya proses ijin ke DIKTI sudah dilaksanakan sejak dari tahun 2008 namun belum mendapatkan kepastian ijin hingga saat ini.

Ia menyampaikan sebanyak puluhan mahasisiwa jurusan tambang yang berasal dari Sekolah Tinggi Uyelindo Kupang telah ditransfer ke sekolah Tinggi Artha Buana Kupang.

Tukan yang dimintai tanggapan lanjut tentang jumlah penerimaan mahasaisiwa sejak dari tahun ajaran 2007 hingga tahun ajaran 2015 tahun tahun kemarin, enggan membeberkan secara detail.
Sepintas hanya merincikan bahwa dari total mahasiswa jurusan tambang yang akan ditransfer, di antaranya sebanyak 24 orang mahasiswa yang berasal dari semester IV dan VI.

Sedangkan untuk mahasiswa yang sudah hampir selesaikan tugas akhir Skripsi PKL berjumlah 18 orang. Rinciannya 12 orang telah ditransfer, Sementara sisanya 6 orang belum dapat ditransfer dengan alasanya belum dapat menghubungi mereka.
Tarsius mengakui sangat beban dengan masalah proses ijin yang belum selesai di urus. Ia bahkan melemparkan proses ijin sepenuhnya kepada dikti, dengan alasan berulang-ulang mengurus namun belum mendapat ijin resmi. Padahal pihaknya telah melengkapi seluruh admintrasi kepada dikti sejak dari tahun 2008.

Ia menambahkan, bahkan proses ijin tersebut telah dilalui juga dengan lobi politik melalui tingkat Dewan Pimpinan Daerah (DPD) RI dan DPR Republik Indoensia yang berasal dari Dapil NTT. namun sangat sulit mendapatkan ijin. Terhadap hal ini, dirinya pasrah sambil menunggu proses ijin yang telah diajukan ke dikti. (fdel)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru