oleh

Terdakwa Baca Pembelaan Sambil Tetes Air Mata

RadarNTT.com,Kupang- Pejabat Pembuat Komitmen(PPK) Don Carlos Nisnoni adalah terdakwa dalam kasus dugaan korupsi pembangunan rumah cetak bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) Direktrif Presiden tahun 2012 di Kabupaten Kupang, terpaksa meneteskan air mata di hadapan majelis hakim saat membacakan pembelaan pribadinya di Pengadilan Tipikor Kupang, Senin (15/6).

Dalam pembelaan tersebut,dirinya mengatakan pembelaan pribadinya didasarkan pada fakta persidangan dan,ia berharap pembelaan pribadinya itu bisa menjadi pertimbangan majelis hakim.

Proyek MBR di Kabupaten Kupang,jelas Carlos,hal itu dilakukan setelah adanya kujungan kerja oleh Presiden tahun 2010 lalu,dan atas dasar itulah, maka program Kemenpera diturunkan ke Kabupaten Kupang dengan total rumnah cetak yang harus dibangun sebanyak 1. 312 ribu unit dengan tipe 3 x 6,dengan pagu anggaran sebesar Rp 29. 638 472 miliar,dan tersebar di wilayah Kabupaten Kupang I, II, III dan IV.

Dijelaskannya, tugasnya dalam proyek MBR tersebut,setelah diangkat sebagai PPK sesuai SK dari Kemenpera, dirinya langsung melakukan pendekatan dengan para pemilik lahan. Akan tetapi,kendala yang dihadapi yakni pemilik lahan justeru menolak warga pendatang.

Selain itu,lanjutnya,persoalan yang ditemui saat penandatanganan kontrak kerja dilakukan tanpa dihadiri para kontraktor,walau kondisi demikian dirinya nekat menandatangani kontrak,dengan alasan takut,jika pekerjaan terlambat dirinya pasti dipersalahkan.

Lebih lanjut dikatakannya,bahwa dirinya pernah mengajukan surat teguran ke para kontraktor melalui konsultan pengawas karena terjadi keterlambatan pekerjaan. Tak hanya itu saja,katanya pernah juga meminta supaya para kontraktor di PHK. Namun Kasatker meminta penambahan waktu kerja.

Beberapa alasan tersebut,dirinya meminta supaya majelis hakim mempertimbangkan putusannya karena dirinya baru diangkat sebagai PNS pada tahun 2000 lalu.Selain itu, dirinya juga menjadi tulang puggung dan panutan keluarga serta penjamin kehidupan bagi isteri dan dua orang anak.

“Saya memohon agar saya bisa melakukan tugas kembali sebagai PNS dan juga berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatan saya. Saya minta agar putusan majelis hakim bisa dibuat seringan- ringannyanya dan seadil- adilnya. Saya juga meminta maaf kepada warga eks Timor- Timur atas proyek MBR yang tidak tuntas di Kabupaten Kupang,” pinta terdakwa sambil meneteskan air mata. (R1)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru