oleh

Akhirnya Kepala Sekolah SDI Liliba Rosina Menoh Buka Suara

RADARNTT, Kupang –Pasca tiga kali pemberitaan yang bertubi tubi melalui media ini yang menyoroti pengelolaan dana BOS yang berasal dari dugaan sejumlah tudingan miring yang dilontarkan beberapa pihak termasuk sebagian guru SD Inpres Liliba, akhirnya kepala sekolah Rosina Menoh via whatsapp menyampaikan klarifikasi secara tertulis atas tudingan miring tersebut (Rabu, 20/06/2018). Adapun isi klarifikasi yang disampaikan kepada wartawan Radar NTT sebagai berikut:

Permendikbud no 1 thn 2018 tentang juknis dana BOS SD, SMP, SMA, SMK sebagai pedoman bagi pemda provinsi, kabupaten/kota dan satuan pendidikan dalam penggunaan dan pertanggung jawaban keuangan BOS.

Ada 8 standar yg diperincikan menjadi 11 komponen yg dibiayai dari dana BOS. Untuk SD RP 800,000/ siswa untuk 1 tahun anggaran, untuk TA 2018 jumlah siswa SDI Liliba 976 orang dengan total dana BOS 780.800.000,- yang dicairkan dalam 4 triwulan yaitu triwulan I sebesar 20 %, triwulan II sebesar 40 % yaitu 20% untuk pembelanjaan buku buku pelajaran, 20% untuk kebutuhan lain termasuk gaji guru guru honor, Triwulan III dan IV sebesar 20 %, dari total dana BOS 15 % untuk bayar gaji guru dan pegawai honor, jumlah guru dan pegawai honor di SDI Liliba 23 orang.

Saya akan klarifikasi beberapa poin yang tercantum dalam berita yang dimuat Radar NTT yaitu ;

1. Pembelanjaan oleh bendahara, apabila ada belanja yang kena pajak baru diurus kepsek.

2. RKAS disusun bersama guru – guru dan Badan Pengurus Komite sekolah, dibuktikan dgn Daftar hadir. RKAS 2018 disusun pada bulan Desember 2017 sebagai syarat pencairan dana BOS Triw IV tahun 2017 dan Triwulan I tahun 2018, dan bisa bersifat draft saja, RKAS bisa direvisi 2 -3 kali dan menjadi RKAS Final setelah disetujui oleh Tim BOS Dinas P dan K Kota Kupang. Jadi tidak benar kalau dikatakan kepsek merubah RKAS secara sembunyi sembunyi.

3. Kepsek mengeluarkan memo kepada bendahara sesuai RKAS untuk melakukan belanja atau pembayaran yang prioritas dalam Triwulan yang berjalan, jadi tidak benar kalau kepsek otoriter dalam mengelola keuangan,

4. Panitia yang dibentuk untuk kegiatan UAS, USBN/US mendapat transport dari dana BOS. untuk konsumsi panitia biasanya dibayar saja dengan uang sesuai kesepakatan bersama, tapi untuk transport panitia tetap dibayar.

5. Dalam penyusunan RKAS, kalimat dalam juknis bersifat umum dan perlu diterjemahkan oleh kepsek bersama guru guru tapi nominalnya harus logis dan masuk akal tapi disesuaikan dgn kebutuhan sehingga 11 komponen dapat terealisasi. Kalau harus mengikuti semua kemauan guru guru maka kebutuhan lain tidak bisa terpenuhi.

6. Pada tahun 2017 kegiatan extra kurikuler ada 6 kegiatan tapi pada tahun 2018 menjadi 8 kegiatan yg dibayar 3 bulan dalam 1 semester. Les kelas 6 dibayar 250.000 per guru utk 3 bulan, les kelas 4 -5 dan guru guru mapel dibayar 100.000 per guru per bulan dan dibayar 3 bulan per semester. Untuk calistung kelas 1-3 dibayar 75.000 per guru per bulan dan dibayar 3 bln dalam 1 semester.

Untuk konsumsi KKG sekolah untuk tahun 2018 dibayar 30.000 per guru per bulan dan dibayar 3 bulan tiap semester sesuai standar kota. Apabila KKG diluar sekolah maka mendapat transport 50.000 per guru per kegiatan. Hal ini yang membuat guru guru tidak puas dan langsung ribut dan langsung pulang tanpa menunggu penjelasan dari bendahara dan kepsek. Hal ini yang menjadi pemicu munculnya aksi mempublikasikan peristiwa ini lewat media ini, Apabila rapat berkala tiap bulan dan dana belum ada untuk konsumsi maka akan dibayar apabila sudah ada dana.

Untuk tahun 2018 ada tambahan anggaran yaitu biaya penulisan rapor 100,000 per guru, transport panitia, transport pelatih IT untuk guru, transport pelatih dan guru guru pendamping kempo. Ada sedikit pengurangan sebesar Rp 20.000 tetapi ada beberapa tambahan anggaran kegiatan lain.

7. Bendahara dana BOS pada Triwulan 3 dan 4 tahun 2017 mengundurkan diri karna masalah pribadi yaitu mengasuh 3 anak yang masih kecil dan dibuktikan dengan surat pengunduran diri dengan resmi. Untuk pengangkatan bendahara BOS ada beberapa faktor yang di pertimbangkan yaitu penguasaan IT, dan dukungan keluarga. Dan ibu Rinjani Kapiluka memenuhi syarat tersebut karena menguasai IT dan belum memiliki anak. Juga cakap dalam melaksanakan tugas sehingga mendapat kepercayaan menjadi bendahara.

8. Tidak ada kuitansi bohong atau rekayasa karna setiap pembelanjaan dicatat oleh bendahara dan pembagian ATK alat kebersihan atau kebutuhan guru – guru ditangani oleh salah seorang pegawai.

Bila ada belanja diatas 1 juta maka kena PPN 10%, hal ini perlu ditambahkan nilai pajaknya dalam kuitansi belanja tersebut, jadi tidak benar kalau ada rekayasa.

9. Semua pembayaran transport kegiatan adalah KEBIJAKAN kepsek sebagai manajer di sekolah karna dalam juknis tidak dijabarkan secara detail jenis kegiatan dan nilai uangnya, sehingga kegiatan dan transport bervariasi tiap sekolah berbeda degan sekolah lain.

Dana BOS bukan bagi bagi uang kepada guru guru tapi penghargaan kepada guru guru yang melaksanakan kegiatan kegiatan tambahan degan syarat syarat pendukung berupa program kegiatan, jadwal pelaksanaan, dan daftar hadir, tapi ada beberapa guru yang tidak memenuhi persyaratan tersebut tapi menuntut dengan kekerasan sehingga dibayar oleh bendahara BOS.

Sebagai guru profesional harusnya melaksanakan tugas dengan tanggung jawab karena sudah mendapat gaji dari negara bukan bekerja karena ada dana BOS. Sebagai kepala sekolah saya menyadari ada orang orang yang suka dan tidak suka dalam kepemimpinan saya sehingga timbul insiden ini.

10. Pada bulan Maret 2018 SDI Liliba di audit oleh BPK , Badan Keuangan Daerah Kota Kupang,  Dinas P dan K Kota Kupang, dan tidak ada temuan. Ada 3 sekolah yang menjadi sampel untuk kota Kupang yaitu SDI Liliba, SDI Lasiana dan SMPN 2 Kupang karna siswa terbanyak.

Apabila ada penyelewengan maka pasti sudah ada temuan dari BPK. Jadi kami tegaskan tidak ada SKANDAL penyelewengan dana BOS di SDI Liliba.

Kami siap memberikan klarifikasi kepada lembaga lembaga yg ingin mendapat informasi dari kami sesuai aturan yang berlaku.(TIM/RN)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru