oleh

Dewan Guru SD Inpres Liliba Kirim Surat Terbuka Kepada Walikota Kupang

Ket: Sejumlah guru SD Inpres Liliba yang dipanggil Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang pada Tanggal 10 September 2018.

 

RADARNTT, Kupang — Situasi yang terjadi di SD Inpres Liliba belum juga kondusif dari tarik menarik kepentingan yang diduga bertujuan memperkeruh suasana yang terjadi saat ini di SD yang cukup favorit di Kota Kupang.

Geger skandal dana BOS yang menjadi titik awal kemelut di sekolah itu dianggap mengganggu eksistensi beberapa oknum yang diduga menjadi aktor intelektual menilep dana pendidikan yang dialokasikan oleh pemerintah pusat di SD Inpres Liliba.

Situasi yang dinamis ini tercermin dari Surat Terbuka Dari Dewan Guru SD Inpres Liliba kepada Walikota Kupang Jefirstson Riwu Kore, dengan harapan agar walikota mengambil sikap tegas dalam kurun waktu yang cepat terhadap beberapa oknum di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang yang menurut sebagian besar para guru sudah kelewatan.

Surat terbuka ini diterima redaksi radarntt yang dilampirkan tandatangan 27 orang guru yang mengajar di SD Inpres Liliba. (Sabtu, 22/09/2018).

Adapun isi surat terbuka yang diberikan dewan guru sebagai berikut;

Syalom, Salam Sejahtera,

Mencermati situasi dan kondisi sekolah yang terus mengalami dinamika pasca mencuatnya berita media online www.radarntt.co tanggal 17 Juni 2018 tentang pemberitaan dugaan skandal penyelewengan dana BOS di SD Inpres Liliba yang berisi ;

1. Pembelanjaan dilakukan Kepala Sekolah SDI Liliba, Rosina Menoh, S.Pd, selama 4 triwulan mengelola dana BOS dan secara terang terangan membelanjakan langsung barang barang sekolah tanpa didampingi oleh Bendahara BOS dan Bendahara Barang.

2. Mengubah RKAS (Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah) oleh Kepala Sekolah secara pribadi tanpa sepengetahuan tim manajemen BOS Sekolah.

3. Segala pengambilan keputusan di SD Inpres Liliba dilakukan secara otoriter (sepihak) oleh Kepala Sekolah dan sangat arogan sehingga hubungan antar guru guru dengan yang bersangkutan jadi tidak harmonis.

Pemberitaan yang berkelanjutan oleh media radarntt.co rupanya berdampak Kepala Sekolah SD Inpres Liliba yang kemudian menuduh secara terselubung dan sepihak bahwa ada guru yang telah melapor dan menyerahkan data ke polisi.

Sehingga tuduhan itu ditindaklanjuti dengan memecat Bendahara dana BOS bermodus memanipulasi tujuan dan maksud rapat bulanan bersama dewan guru dan komite sekolah pada Jumat, 31 Agustus 2018, yang seolah-olah telah bersepakat untuk memecat Bendahara BOS.

Pemecatan sepihak kepala sekolah (Rosina Menoh) kepada bendahara BOS (Rinjani Kapiluka) mendapat respon, kami guru – guru yang merasa dibohongi oleh kepala sekolah. Karena merasa ditipu lantas secara spontan kami melakukan aksi mogok mengajar.

Memang pasca insiden itu Kepala Sekolah akhirnya membatalkan pemecatan Bendahara BOS dengan menerbitkan surat pembatalan pemecatan.

Namun rentetan insiden mogok mengajar membuat 8 orang guru bersama kepala sekolah dipanggil Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang untuk dilakukan pembinaan (Senin,10 September 2018) namun Kepala Sekolah justru tidak terlihat dalam pembinaan bersama 8 guru lainnya sehingga disinyalir Kepala Sekolah seolah-olah dilindungi oleh oknum Dinas P & K Kota Kupang atau dengan kata lain Dinas Pendidikan bertindak pilih kasih dalam menyelesaikan kemelut yang terjadi.

Di antara 8 guru yang dilakukan pembinaan terdapat salah satu guru yang tidak tahu menahu dan tidak terlibat dalam insiden mogok mengajar karena bersangkutan sedang tidak berada di sekolah, justru diikutsertakan dalam pemanggilan ini dan selama pembinaan berlangsung, guru guru dipaksa mengakui kesalahan dengan menuduh melanggar kode etik dan ketika guru – guru menanyakan pasal pelanggaran kode etik kepada KASI PTK, Bapak Markus Dju Djani, pihak Dinas kelabakan dan kami menganggap pihak Dinas P & K hanya mencari-cari kesalahan kami para guru di SD Inpres Liliba.

Gencarnya pemeriksaan oleh TIPIKOR Polda NTT yang memeriksa secara intensif kepala sekolah dan manajer BOS Kota Kupang (Robby Ndun), hal ini berujung adanya pemanggilan kembali terhadap 8 guru minus kepala sekolah untuk dibina kembali pada Hari Senin, 24 September 2018 dan Selasa, 25 September 2018.

Menurut kami (guru-guru di SD Inpres Liliba) pemanggilan pembinaan ini adalah salah sasaran karena menurut kami dalang dari kekacauan proses belajar mengajar di sekolah yang kami cintai ini adalah ROSINA MENOH, S.Pd Kepala Sekolah SD Inpres yang terhormat, namun yang bersangkutan justru diperlakukan istimewa oleh oknum di Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Kota Kupang.

Untuk itu kami para guru SD Inpres Liliba bersikap dan mendukung 8 Guru untuk tidak menghadiri pembinaan di Dinas Pendidikan yang kami sinyalir sebagai pembelokan atas persoalan yang sebenarnya terjadi di sekolah kami.

Selain itu pembinaan dadakan ini dapat menghambat proses kegiatan belajar mengajar di SD Inpres Liliba secara sistemik, karena pembinaan dilakukan tanpa dasar apapun yang terkait dengan penyidikan dugaan tindak pidana korupsi oleh POLDA NTT terhadap manajer BOS Kota dan manajamen BOS sekolah sehingga atas saran dan dukungan para guru, kami 8 orang bersepakat menolak untuk hadir dalam pembinaan di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan yang sedianya digelar pada hari Senin, 24 September 2018 dan Selasa, 25 September 2018.

Selanjutnya Kami memohon Bapak Walikota untuk segera mengambil sikap tegas menertibkan oknum Dinas P & K Kota Kupang, agar tidak mengambil keputusan yang kami anggap meresahkan dan sangat mengganggu proses belajar mengajar di SD Inpres Liliba ini.

Demikian pernyataan sikap ini dibuat tanpa paksaan dari pihak manapun. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.

Hormat kami,
Guru SDI Liliba Kota Kupang

Untuk diketahui publik dari pantauan wartawan saat terjadi insiden mogok mengajar terjadi pada Tanggal 4 September 2018 di sekolah tersebut seorang guru yang bernama Kristina Uly sedang tidak berada sekolah karena suatu urusan. Namun anehnya yang bersangkutan dipaksa ikut pembinaan oleh Dinas Pendidikan melalui Bidang PTK karena dianggap salah satu biang mogok mengajar.

Sementara itu semakin santer beredar informasi dari penyelidikan yang kini mulai masuk tahap penyidikan di Tipikor Polda NTT perlahan lahan menuju titik terang, pasalnya menurut keterangan beberapa saksi kunci yang sudah diperiksa, polisi berhasil mengendus dana BOS SD Inpres Liliba yang diduga ditilep mencapai ratusan juta rupiah. (TIM/RN)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru