oleh

Beralasan Sakit, Rosina Menoh Mangkir Dari Pemeriksaan Korwas Pendidikan Dasar

RADARNTT, Kupang—Rencana pemeriksaan oleh Tim Koordinator Pengawas Pendidikan Dasar Kota Kupang terhadap Kepala Sekolah SD Inpres Liliba Rosina Menoh selama dua hari berturut turut belum juga tuntas.

Koordinator Pengawas (Korwas) Pendidikan Dasar Se-kota Oktovianus Naitboho bersama tim yang terdiri Salomi Dethan, Budi Suwarso, Maria M.A Mone dan Luis Maria Soares hanya sempat memeriksa bendahara keuangan Dana BOS Rinjani Lidia Kapiluka dan mantan bendahara sebelumnya Aprilia Bardama Tombi, sedangkan Kepala Sekolah SDI Liliba Rosina Menoh mangkir dari pemeriksaan dengan alasan sakit secara tiba tiba.

Berdasarkan pengakuan bendahara BOS Rinjani Kapiluka kepada radarntt via seluler (Sabtu/07/07/2018) terkait pemeriksaan hari pertama oleh Korwas bersama tim dilakukan pada Hari Kamis tanggal 5 Juli 2018 adalah sebagai berikut: Hasil investigasi dana BOS SD Inpres Liliba Kota Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur terhadap bendahara keuangan atas nama Rinjani Lidia Kapiluka S Pd.

Pertama berbunyi bahwa secara jujur SK yang diterbitkan kepala sekolah berlaku mundur dengan TMT Per 1 Januari 2018, Kedua sejak jadi bendahara tidak pernah dilibatkan dalam penyusunan RKAS, Ketiga tidak pernah ada serah terima dari bendahara BOS yang lama ke Bendahara BOS yang baru, Keempat bendahara BOS mulai melaksanakan tugas pencairan uang di bank untuk triwulan I tahun anggaran 2018 pada bulan April sebesar 156 juta rupiah namun perincian akan diberikan dalam bentuk dokumen selanjutnya, Kelima bendahara menyebutkan pernah melakukan tugas pembelanjaan yang menurut kepala sekolah adalah menggunakan uang pribadi milik kepala sekolah, Keenam dari pencairan dana Triwulan I bendahara hanya untuk mengelola uang pembayaran guru honorer dan keperluan lainnya, ketujuh pencairan Triwulan I yang sudah dicairkan dirincikan berapa dana BOS yang dikelola kepala sekolah dan berapa yang dikelola bendahara, kedelapan RKAS Anggaran 2018 yang sudah ditetapkan mengalami revisi dua kali dan dilakukan kepala sekolah tanpa sepengetahuan bendahara dan dewan guru, kesembilan pernah ada revisi RKAS tetapi tidak pernah melibatkan tim RKAS sebagaimana ditentukan oleh pedoman BOS dan tidak pernah melibatkan bendahara BOS, Kesepuluh pembelanjaan yang dilakukan bendahara BOS berdasarkan memo yang dikeluarkan oleh kepsek SDI Inpres.

Kemudian pemeriksaan lanjutan hari kedua pada hari Jumat tanggal 6 Juli 2018 Korwas bersama tim tetap gagal memeriksa Rosina Menoh karena menurut informasi yang bersangkutan tiba tiba ada urusan dinas mendadak bersama kepala bidang.

Namun dihari yang sama tim pemeriksa berhasil mendapatkan sejumlah data yang dibutuhkan dari bendahara antara lain: Buku Kas Umum (BKU) Triwulan I, Buku Keuangan Bendahara, Buku Keuangan Kepsek, Tanda terima uang dari bendahara ke kepsek, Memo kepsek, RKAS yang sudah ditandatangani dan RKAS revisi kepsek yang belum ditandatangani.

Saat Dikonfirmasi terkait pemeriksaan ini, Korwas Oktavianus Naitboho kepada wartawan hanya mengatakan, hari pertama hanya memeriksa bendahara karena kepala sekolah sakit.

Namun beberapa saat kemudian kepsek memberikan janji bahwa esok hari ia bersedia datang dan diperiksa namun tiba tiba secara mendadak mengabarkan yang bersangkutan ada urusan dinas tapi itu katanya, ujar Okto via whatsaap.

Fakta lain yang didapat dari pengakuan sejumlah guru SD Liliba pada saat pemeriksaan secara marathon selama dua hari berturut turut oleh Korwas bersama tim, ada keganjilan yang terjadi dilemari ATK yang berada di ruang operator sekolah dimana dalam lemari itu bendahara keuangan dana BOS menyimpan sejumlah berkas namun ternyata dalam keadaan tumpah tindih.

Menurut pengakuan bendahara sejumlah dokumen raib yaitu laporan asli realisasi dana BOS triwulan I, padahal sejak kasus mencuat hampir 4 Minggu yang lalu ia tidak pernah menjamah lemari tersebut.

Sedangkan laporan asli realisasi dana BOS hasil audit BPK pusat selama 4 triwulan dari tahun 2017 mujur ditemukan di lemari ATK oleh bendahara lama.

Seperti yang disaksikan sejumlah guru, kedatangan tim pemeriksa sempat diwarnai insiden manakala seorang guru yang bernama Indah Non mendapat teguran salah seorang tim pengawas, saat yang bersangkutan hendak ikut masuk ke ruang operator padahal dalam agenda pemeriksaan dirinya tidak berkepentingan.

Untuk ketahui publik bahwa kunci ruang operator SD Inpres Liliba menurut pengakuan para guru dipercayakan kepada seorang tenaga honor yang bernama Carla Berhitu, namun sejak kasus dugaan skandal ini mencuat ke permukaan tempat itu disterilkan oleh seseorang dari jamahan para guru. (TIM REDAKSI)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru