oleh

Ini Kata Kades Nembrala Terkait Nembrala Beach Hotel yang dikeluhkan Warga.

RADARNTT,  Ba’a – Keluhan warga desa Nembrala kabupaten Rote Ndao Nusa Tenggara Timur (NTT) terkait penutupan akses jalan setapak sepanjang pantai wisata Nembrala oleh managemen Nembrala Beach Hotel akhirnya kepala Desa Nembrala Bernat Lenggu angkat bicara.

Sebagai kepala wilayah tentunya ingin melindungi warganya dari segala dikriminasi dalam bentuk apapun, termasuk terhambatnya aktivitas warga, apalagi yang berhubungan langsung dengan objek pencaharian warga setempat.

Kades Bernat Lenggu mengakui kalau keluhan warganya soal akses tersebut sudah lama, bahkan belum lama ini warga juga keluhkan hal yang sama, dan kali ini terhambatnya lalulintas warga akibat pengerjaan berupa galian dipesiair pantai oleh pihak Hotel Nembrala dengan maksud membangun pagar baru.

Akibat galian tersebut, kata Bernat tumpukan pasir pada bibir pantai cukup banyak,  dan dirinya kwatir kalau pekerjaan itu tidak diselesaikan secara cepat, maka air laut ketika pasang ombak akan menghempas tumpukan pasir hasil galian tersebut kedalam laut,  maka ini akan berpeluang merusak tanaman rumput laut,  maka warga pasti akan lebih kecewa lagi kalau kondisi ini tidak ditanggapi dengan cekat.

Kades Lenggu juga menceritakan,  sebelum dirinya menduduki jabatan kepala desa Nembrala, bahwa ada masyarakat yang mengatakan kalau pihak hotel dan masyarakat sudah ada kesepakatan terkait jalan setapat tersebut.

” kata warga ada kesepakatan tapi saya tanyakan kesepakatan dalam bentuk apa,  tertulia atau hanya suara yang keluar dari mulut ketika terdesak,  ya kalau kalian punya bukti yang kuat, itu tidak masalah,  cuman kalau sekedar bicara maka itu tidak bisa menjadi kekuatan untuk berdali,” ujarnya saat dijumpai dikediamannya,  Jumat,  30/03/2018.

Sebagai kepala desa Nemberala, dirinya telah menghimbau kepada pihak hotel, agar menunjukan dokumen-dokumen hotel tersebut, sehingga lebih jelas  berdirinya hotel tersebut,  termasuk  pembangunan pagar yang baru  sementara  membangun sudah menimbulkan keluhan warga.

Dikatakannya sebelum pihak Hotel mengerjakan pagar beton tersebut dari pihak asisten meneger hotel mendatangi dirinya untuk meminta tanda tangan pemberkasan kepengurusan ulang sertivikat, yang pengakuannya hilang.

Pada saat itu dirinya sebagai kepala desa menegaskan agar sebelum pengerjaan pagar tembok baru, pihak hotel harus duduk kembali bersamanya untuk komunikasi secara baik karena pembangunan tembok  penahan tempat di pantai tersebut adalah tanah milik orang lain bukan milik pihak Hotel Nemberala Beach.

“Memang ada perjanjian kontrak, katanya kontrak seumur hidup, sementara kesepakatan kontrak dengan pemilik tanah tersebut orangnya sudah mati, Sedangkan kita tahu bahwa pantai itu tersendiri dan laut itu tersendiri Tidak bisa kita bilang laut menutupi pantai” imbuhnya.

Hingga berita ini diturunkan kepala Dinas Permukiman dan Lingkungan Hidup kabupaten Rote Ndao belum berhasil dihubungi. (Cta/RN)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru