oleh

Pemkab Malaka Tidak Serius ‘Kawal’ Petani Bawang Merah

     Petani Bawang mereh yang kesal dengan kondisi pemasaran hasil yang belum jelas

RADARNTT , Besikama – Petani bawang merah di beberapa desa kecamatan Malaka Barat  kabupaten Malaka Nusa Tenggara Timur (NTT) menilai Pemerintah Kabupaten (Pemkab) tidak serius menangani dan mengawal hasil produksi bawang merah, pasalnya hingga kini hampir setiap rumah penduduk memiliki bawang merah yang tidak terjual akibat harga yang mematikan harga produksi bawang di daerah tersebut.

Pantauan RadarNTT di desa Fafoe kecamatan Malaka Barat, Selasa, (5/9/2018 ), hampir setiap rumah warga ada bawang merah yang sudah dipanen, ini dikuatirkan rusak dan membusuk.

Hubertus Seran (52) kepada RadarNTT di kediamannya, mengaku kalau dusun Tooskreis desa Fafoe kecamatan Malaka Barat , merupakan petani  yang sudah dua  tahun menerima bibit bawang merah.

“Liis a hanawa, kalo tinan ida liu ba sei diak uit kilo ida 25.000 lale 15.000, foin ba tinan ne’e folin si tun, tun, to’o oras ne’e folin rihun tolu. Mau tidak mau ami tetap faen, tan kalo ami faen hai, liis si at mos.” Bahasa Fehan)”Berhenti dengan bawang, tahun  lalu itu masih baik karena harga bawang ada 25.000/ kg atau turun 15.000/kg, sementara tahun ini harga turun  sampai 3.000 /kg. Mau tidak mau kami tetap jual kalau tidak jual, bawang rusak semua”)

Hubertus juga menyayangkan sikap Pemda setempat khususnya dinas pertanian kabupaten Malaka, “dari petugas PPL itu sudah bagus sekali,  saat awal tanam saja selalu didampingi. Tapi, giliran panen satu petugas dari dinas pertanian atau wakil pemerintah daerah Malaka saja tidak ada yang muncul untuk  lihat hasil panen bawang merah petani”, tuturnya dengan nada kecewa.

Ia menambahkan, hampir setiap rumah didusun tersebut memiliki bawang merah, sehingga tidak heran kalau dirinya bertanya, siapa yang bersedia jadi pembeli?, “mau bawa ke pasar paling satu atau dua karung. Tapi kalau di wilayah Malaka saja seperti hari Senin pasar Besikama, atau hari Sabtu pasar Betun pasti tidak ada yang beli karena di pasar itu tengkulak dari luar Malaka sudah tunggu dan beli bawang kami dengan harga dibawah, yang diuntungkan bukan petani tapi tengkulak, ini artinya kami rugi, rugi, rugi”, lantang Hubertus nada kesal.

Saking kecewanya terhadap kondisi tersebut, Hubertus meminta dinas pertanian Malaka untuk berhenti memberikan bibit bawang merah pada tahun yang akan datang  kalau cara pengawetan saja tidak tahu. “Kalau tahun depan masih dikasih lagi bibit bawang merah kepada kami  di desa Fafoe, pemerintah daerah dan dinas pertanian jangan kasih di semua warga desa tetangga, cukup dua atau tiga desa sebagai contoh, desa yang lain tanam lombok, tomat, atau sayuran yang lain. Ini hampir sebagian besar desa di wilayah kecamatan Malaka Barat terima bibit bawang merah, yang jadi persoalan saat panen bersamaan pasarannya kemana”, sambung Hubertus.

Politisi PDI Perjuangan Emanuel Nahak Seran, yang juga mencalonkan diri maju dalam pemilihan legislatif dapil II kabupaten Malaka membenarkan hal tersebut, saat dihubungi awak media via seluler Rabu, (5/9/2018).

“Pemerintah semestinya mengawal bukan melepas petani begitu saja, komoditi bawang merah adalah representasi dari visi dan misi pemerintahan SBS-DA yang merupakan program unggulan Revolusi Pertanian Malaka (RPM) dan pemerintah daerah berkewajiban menampung dan membantu memasarkan hasil, bukan membiarkan petani merugi. Dan bawang merah saat ini jual di pasar tradisional dengan harga 4000 per kilo”, kata Emanuel. (Ab/Set/RN)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru