oleh

Ratusan Kepala Keluarga di Kelurahan Buraen Kecamatan Amarasi Selatan Krisis Air

Ket: Thomas Tonay di lokasi sumur bor yang macet di Kelurahan Buraen Kabupaten Kupang

RADARNTT, Oelamasi — Musim kemarau tahun dirasakan warga Kelurahan Buraen, Kecamatan Amarasi Selatan, Kabupaten Kupang sebagai musim yang paling meresahkan, karena sudah 3 bulan lamanya sekitar 300 KK susah mendapat mendapat air bersih. Hal tersebut diungkapkan Thomas Tonay warga Kelurahan Buraen RT 9/RW III kepada wartawan radarntt baru baru ini (Selasa, 11/09/2018).

Menurut Thomas kelangkaan air bersih yang mendera warga setempat karena alat untuk menghisap air dari sumur bor yang mempunyai kedalaman 36 meter ke bak penampungan mengalami kerusakan dan belum diperbaiki. Sebenarnya kami tidak terlalu susah air kalau mesin ini bisa berjalan normal, repotnya lagi pengurus pengelolaan air bersih disini belum mengambil tindakan responsif untuk dilakukan perbaikan mesin sesegera mungkin.

Kami sudah 3 bulan harus mengambil air sejauh 1 Km lebih tepatnya di mata air Bibobo yang lokasi berada dibawah kampung kami, ujar pemilik bengkel tambal ban ini.

Kami tidak sanggup terus menerus membeli air tangki yang harganya 200 ribu, kalau per jerigen 5 liter 3 ribu padahal mata pencaharian kami hanya seperti ini, kata Thomas.

Kemudian ia menceritakan, saat sumur bor itu berfungsi, warga yang menggunakan air dipungut oleh pengurus pengelola air sebesar 25 ribu per bulan setiap KK dengan tujuan untuk membiayai operasional dan membayar operator yang mengatur distribusi air ke warga.

Pernyataan Thomas Tonay kepada media ini diamini warga Buraen lainnya yang bernama Timo Kanaf, secara gamblang ia mengungkapkan kekecewaan atas krisis air yang dialami warga.

“Mestinya pungutan saat iuran bisa dipakai untuk biaya perbaikan, kalau seperti ini ya kasihan kami semua,” kata Timo.

Menurutnya, warga selama ini bersyukur sudah memiliki sumur bor yang dibangun seorang dermawan asal Italia pada tahun 1998, kemudian masuk juga program PNPM untuk membangun bak penampuan air bersih, sayangnya semua itu menjadi sia sia karena warga disini harus tetap pikul air sejauh 1 Km untuk mendapat air bersih, karena mesin penghisap di sumur bor rusak dan belum jelas kapan akan diperbaiki.

Kedua warga Buraen ini mengharapkan pemerintah kabupaten melalui dinas terkait mengintervensi penanganan kesulitan air bersih yang dialami warga, karena sebagian besar warga sudah tidak sanggup menghadapi kelangkaan air bersih.

Kami minta pemerintah turun tangan agar secepatnya kondisi ini teratasi, supaya masyarakat tidak resah hanya gara gara susah air, harap Thomas Tonay dan Timo Kanaf.

Berdasarkan pantauan wartawan dilokasi, posisi pemukiman warga berada diatas, sedangkan mata air yang sementara digunakan warga ada di Bibobo berada di bawah pemukiman penduduk dengan radius 1 Km.

Warga kelurahan yang rata rata petani, peternak dan pedagang merasa kondisi kelangkaan air ini merupakan masalah serius yang harus cepat diselesaikan.

Untuk diketahui pengurus yang mengelola air bersih di Sumur Bor tersebut diketuai Bernard Tonay, sedangkan operator air dipercayakan Philipus Tefa. Namun hingga kini kabarnya pengurus belum melakukan rapat evaluasi bersama dengan para konsumen. (TIM/RN)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru