oleh

Rilis Hasil Survei Pilgub NTT, Tidak Pengaruhi Pilihan Rakyat

RADARNTT, Kupang – Sehari jelang penutupan masa kampanye dan memasuki masa tenang Pilkada Serentak 2018, yang jatuh pada Sabtu, 23 Juni 2018. Sontak publik NTT seakan dikagetkan dengan rilis hasil survei beberapa lembaga yang menyajikan perbedaan data yang cukup menyolok dan cenderung saling dipertentangkan antara satu dengan yang lain oleh media massa maupun di sosial media.

Saiful Mujani Research and Consulting (SRMC) yang hasilnya dipublish MetroTV menempatkan pasangan calon Viktor Laiskodat-Josef Nae Soi diurutan teratas dengan elektabilitas 37,4 persen disusul Marianus Sae-Emmiliana Nomleni 21,4 persen, Eston Foenay dan Cristian Rorok 18,8 persen.

Sementara itu untuk pasangan Benny K Harman dan Benny Litelnoni pada posisi 18,4 persen.

Perolehan hasil survei di atas sangat berbeda jauh dengan yang dikeluarkan Roda Tiga Konsultan (RTK) pada Jumat, 22 Juni 2018 di Jakarta.

Elektabilitas pasangan Benny K. Harman-Benny A. Litelnoni berada di 29,6 persen, disusul Viktor Laiskodat-Josef Nae Soi dipilih 20,9 persen, pasangan Marianus-Emmilia dipilih 13,6 persen responden, pasangan Esthon-Christian dipilih 12 persen responden.

Rilis kedua lembaga survei ini menimbulkan polemik dan perdebatan panas di berbagai media massa online dan sosial media, yang cenderung saling menyerang dan mengklaim sebagai yang paling benar.

“Tentang lembaga survei ada aturannya dalam PKPU 8 Tahun 2018, harus dapat akreditasi dari KPU provinsi dan kalau ada persoalan tentang survei menjadi ranah KPU provinsi untuk penyelesaiannya”, tegas Ketua Bawaslu NTT Thomas Djawa, menanggapi awak media via ponsel, Sabtu, (23/6/2018).

Oleh karena itu, jika ada permasalahan terkait survei, nanti ada dewan etik yang dibentuk KPU untuk penyelesaian masalah survei yang bermasalah.

Pengamat politik Universitas Nusa Cendana, Balkis Soraya Tanof mengatakan anomi masyarakat tentang hasil survei yang berbeda dari tiap lembaga survei berdasarkan pesanan internal untuk mengetahui elektabilitas tiap pasangan calon, hanya sebagai parameter untuk mengetahui hasil kerja politik sosialisasi diri ke masyarakat.

“Survei di minggu tenang pengaruhnya hanya pada permainan tim sukses melalui media sosial untuk menekan psikologis kandidat lawan politik bagi paslon yang elektabilitasnya tinggi”, kata Balkis.

Sedangkan bagi masyarakat pemilih akar rumput tidak ada pengaruh untuk merubah pilihan politiknya. Karena masyarakat sudah punya pilihan politik tanpa melihat hasil survei.

Menurutnya survei merupakan strategi politik untuk menekan psikologis kandidat politik lainnya.

Ia menegaskan di masa tenang yang harus diwaspadai adalah politik uang dan politik identitas bukan hasil survei.

Dia mengharapkan masyarakat harus selektif dalam memilih pemimpin NTT untuk lima tahun ke depan.

“NTT butuh pemimpin bukan berdasarkan hasil survei pada keterwakilan masyarakat tertentu sebagai sampel, tetapi NTT membutuhkan pemimpin patriot nasionalis yang cerdas, inovatif, kreatif untuk mensejahterakan masyarakat dari kemiskinan, korupsi, kebodohan dan sebagainya”, pungkas Dosen Fisip Universitas Nusa Cendana. (Tim/RN)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru