oleh

Warga Keluhkan Dana Desa Lakekun Kobalima

RADARNTT, Betun – Pembangunan rumah bantuan pemerintah melalui anggaran Dana Desa (DD) di Desa Lakekun (Induk) Kecamatan Kobalima, Kabupaten Malaka, Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), selama Tahun Anggaran (TA) 2017, tidak memuaskan beberapa pihak. Pasalnya, ada rumah yang dikeluhkan oleh penerima bantuan karena pekerjaan tidak sesuai dana yang dianggarkan.

Sesuai pantauan Radar NTT hari ini, Kamis (17/5/2018) sebagai lanjutan dari investigasi waktu lalu (28/3/2018), kategori rumah yang dibantu adalah rehab ringan dan sedang. Ada seorang ibu yang enggan menyebutkan namanya, ketika diwawancarai perihal pembangunan rumah bantuan pemerintah desa di rumahnya, mengatakan saat kekurangan bahan mereka minta ke Ibu Desa selalu beralasan.

“Uang pembangunan ini katanya, Rp. 10.000.000 per rumah. Tapi saat rehab rumah kami ini, kalkulasi bahannya semua, sepertinya tidak sampai 5 juta juga. Herannya, saat kami kekurangan bahan untuk lanjut kerja rumah ini, Kepala Desa selalu berkelit dan beralasan.” ujar Ibu itu.

Menurutnya, kalau dihitung secara cermat,  dana sebesar Rp.10 juta itu bisa digunakan untuk membangun sebuah rumah parmenan sederhana. Tapi kenyataannya, berbanding terbalik. Bagaimana mungkin untuk cat satu rumah secara keseluruhan hanya beli dua kaleng cat oker kecil? Sesalnya.

Dalam kampung yang sama, di belakangnya ada rumah milik Paulus Freitas, Petrus Kanisius Teti dan Yuliana Lotu. Secara fisik, rumah-rumah itu terlihat telah habis dikerjakan. Hanya saja, menurut asumsi mereka, ada dugaan penggelapan uang oleh Kepala Desa lantaran pembangunan fisik tidak seberapa banyak biaya yang dipakai untuk belanja material.

Seperti apa yang dikatakan oleh Herminus Mali, sebagian material berupa kayu dan palepa adalah milik pribadi yang tidak diganti biaya oleh Desa. Begitu juga dengan rumah milik Petrus Kanisius Teti, ada 7 kayu lata seng yang ditambahkan.

“Palepa yang di pasang di dinding samping kanan itu, ada empat daun palepa milik kami sendiri. Begitu juga kayu untuk tarik foris depan, sekitar 4 milik kami.” jelas Petrus dalam bahasa tetun.

Lanjutnya, kalau mau dikalkulasi dengan baik, maka dananya tidak lagi mencapai Rp.7-8 juta karena sudah beberapa rumah yang terpaksa menggunakan kayu dan palepa milik pribadi.

Data mentah yang dihimpum Radar NTT di lokasi hampir setiap rumah pengadaan materialnya sama. Adapun data-data materialnya per rumah berupa 2 ember cat alvian warna kuning, berukuran kecil. 1 cat kaleng kayu warna coklat. Dinding yang diganti palapa ada yang gantinya sampai 20 lembar namun ada juga hanya 4 lembar. 2 daun pintu, muka dan belakang. Jendela ada yang diganti 2, ada juga yang 3. Kayu latah seng sampai 12. Paku kayu 1 kilo (7cm). Paku seng, 1 kilo. Pasir 2 truk. 10 saksemen. Dan 1 truk batu.

Bendahara Desa Lakekun (Induk) Yustinus Leto ketika dihampiri di rumahnya, Kamis (29/3/2018) mengatakan kuitansi belanja material ia simpan di Kantor Desa Lakekun. Dan berjanji akan diperlihatkan besok harinya. Namun ketika esok harinya Radar NTT mampir ke kantor, yang bersangkutan tidak berada di Kantor tanpa ada alasan.

Menurut pengaduan masyarakat Dusun Soka, selama ini Ibu Kades Caesilia Uduk sendiri yang mengurus semua bantuan rehab rumah di desa, termasuk membeli dan mengantar bahan-bahan ke lokasi kerja. Sehingga, masyarakat tidak mengetahui siapa Tim Pengelola Kerja (TPK) nya. Dan ketika dalam proses kerja ada hambatan material, masyarakat segan untuk memintanya.

Ibu Desa Lakekun, Caesilia Uduk, ketika dimintai keterangan oleh awak media ini di ruangan kantornya, cenderung arogan dan penuh tafsiran negatif terhadap kedatangan awak media. Kuat dugaan, beliau tidak mengetahui prosedur kerja jurnalis. Bahwa sebagai seorang pekerja media, wajib hukumnya meminta klarifikasi dari pihak A, ketika pihak B memberikan pernyataan atau penilaian kurang dan lebih terhadap pribadi atau kinerja pihak A.

“Nanti saya kumpulkan orang-orang itu untuk saya tanyai satu-satu. Orang sudah bantu bukannya bersyukur malah lapor sana-sini.” sambar Uduk.

Labih lanjut, Ia mengatakan hari ini Bendaharanya tidak berada di kantor, sehingga tidak bisa dicocokan kuitansi belanja dari Desa dengan kalkulasi mentah dari masyarakat di lapangan, karena kuitansi itu disimpan oleh Bendahara.

Beberapa hari kemudian, cerita beredar. Kepala Desa ini bukannya menghargai dan mengapresiasi upaya mediasi wartawan, malah menyebarkan cerita kepada masyarakat yang tidak benar dan terkesan menyerang pribadi, sesudah kedatangan Radar NTT di ruang kerjanya.

Untuk diketahui, ada sekitar 24 unit rumah yang direhab. Bantuan ini tersebar di beberapa dusun: Soka, Kotafoun, Bersama, Aihun, Fatukres, Umakota. Untuk satu unit rumah, dialokasikan anggaran sebesar Rp.10 juta. Anggarannya bersumber dari Dana Desa (DD) TA 2017.

Dari dana sebesar itu, dana yang diperkirakan diterima masyarakat pemanfaat sekira Rp. 7-8 juta. Sebab, ada potongan pajak sebesar 22 persen, yakni Pajak Penghasilan (PPh) sebesar 10 persen, Pajak Daerah 10 persen dan Pajak Pertambahan Nilai (PPn) sebesar dua persen.

Rumah-rumah itu dibangun secara swakelola. Dan surat Pertanggungjawaban penggunaan dana Tahap II 2017 sudah dilaporkan, selesai. (Baurae/RN)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru