oleh

MEMBELA DESA MEMBANGUN INDONESIA

-Opini-143 views
            Ilustrasi Suasana Pedesaan

Oleh : Silvester Toni Tokan

Merombak pandang jauh mengelilingi dunia dari poros desa menaburi gagasan besar melewati batas dalam logika menatap panjang dunia dalam melihat desa sebagai ruang lingkup kecil yang penuh drama di balik lingkaran sosial.

Merambah pelan-pelan menatap inci demi inci negara sebagai ruang lingkup menjujung global sebagai ruang modern dalam struktur sains di susupi konstruksi kokoh, desa hadir sebagai penampung lingkaran kemajuan dan terseret perlahan akibat kemajuan zaman.
Melintas jauh tak kurang batas, Negara-Negara maju memanfaatkan desa sebagai alas sekaligus pelindung utama dalam menjujung ekonomi serta pemerataan yang lugas dalam jejak waktu. Tak kurang dari ritus-ritus dalam tradisi dunia yang menjadikan desa sebagai sumbu utamanya.
Ruang lingkup desa yang sempit dan selalu berada dalam kepungan zaman di pinggiran daerah perkotaan dimana semua nafas manusia mulai dari sini dengan keasrian dan keelokan kekerabatan dalam budaya dan kebersamaan, kini sedang berada dalam kondisi kritis dan seakan dilupakan zaman.
Kemajuan dunia yang sedang berada dalam tahap menggebuh-gebuh dan terinfeksi konstruksi sains modern sebagai landasan konseptual merambah bebas di dunia dan menempatkan desa sebagai sebuah sasaran empuk dalam melahap bisnis vertikal maupun horizontal.
Konsep jejak awal desa sebagai landasan ekonomi masyarakat yang berakar pada nilai sosial, budaya dan kebersamaan serta kemakmuran, di ramu kembali dalam mimbar politik dan menyempitkan desa hanya sebagai ruang pemanfaatan tanpa adanya keseimbangan mengangkat dan memberdayakan.
Paradigma masyarakat dunia dalam melihat desa hanya seperti sebuah ruang lingkup kecil sebagai lahan perbudakan manusia lain demi mencapai keuntungan secara perseorangan bahkan sebuah perusahaan atau instansi tertentu.
Dogma sempit yang melahirkan paradigma dangkal tersebut benar-benar merasuki desa melalui setiap sudut-sudut aturan yang kurang sejalan dengan realita masyarakat desa sebagai tulang punggung negara.
Tak bisa dipungkiri, subangsi desa dalam membangun sebuah negara adalah sebuah fakta yang tak terbantahkan dalam segi teori manapun. Alasan lahirnya pemikiran ini berlandaskan kemutlakan desa sebagai akar dalam menyokong kokohnya sebuah negara.
Renkarnasi zaman dalam doktrin teknologi yang membentuk paradigma individualistik yang apatis dan prakmatis merambah merata sampai ke pelosok setiap negara-negara berkembang seperti indonesia dan negara-negara berkembang lainnya.
Penghambatan pemberdayaan dan kemajuan desa tak pernah di rasa nyata para pewaris tahkta pemerintahan yang hanya sibuk pada urusan-urusan di luar negara sedangkan melupakan secara sistematis desa sebagai jubah yang melandasi kemajuan negara.
Perlindungan dan perhatian yang rendah sangat sulit dicairkan dalam kemajuan globalisasi dan doktrin-doktrin dangkal budaya hedon yang nyatanya tak punya treck record sebagai hasil dan landasan pijak yang jelas.
Jumlah kemiskinan meningkat tajam, keterpurukan desa seperti tumpukan kopra di ladang dan tak terurus serta pengangguran merajalela di setiap sisi negara-negara di dunia. Semua kemelut ini hanya dilihat sebagai hiburan semata yang tak perlu di sentuh dengan akal sehat untuk memperbaiki dan membenahi.
Jembatan pemersatu dalam lingkaran kemajuan menjebak desa sebagai tulang punggung ekonomi negara terlepas dari perhatian publik dalam kekerdilan berpikir dan bertindak sehingga asas pembiaran diterapkan sebagai ganti partisipasi pragmatis.
Konstruksi kekokohan nilai sosial yang ditunangkan dalam berbagai teori kemanusian tak bisa dipungkiri lahir dari masyarakat desa yang selalu memahami adat istiadat sebagai landasan yang mengatur pola hidup mereka dan merangsang cara tindakan mereka.

Memandang Indonesia dari Bibir Sawah
Luas wilayah Indonesia membentang dari sabang sampai marauke memiliki 34 propinsi, 486 kabupaten, 6.793 kecamatan, 72.944 desa dan 81.253 kelurahan. Aneka ragam budaya dan adat istiadat bersatu padu dalam jubah nusantara.
Negara dengan bentangan seribu pulau tak bisa di pungkiri kekayaan alam melimpah ruah dari hasil tanah dan laut sebagai sumber kehidupan masyarakat menjadi sesuatu yang sudah ada sejak nenek moyang bangsa ini menginjakan kaki di dalamnya kemudian merambah sampai pada usaha dalam mengelola hasil-hasil alamnya dimulai dari desa sebagai ruang lingkup terkecil.
Desa yang merupakan salah satu aspek penting dimana masyarakat bermukim, dimana lahirnya adat istiadat atau budaya, dimana orang-orang berkumpul demi mencapai sebuah kesepakatan hidup berdampingan satu sama lain, memiliki mata pencaharian antara lain sebagai petani dan nelayan.
Pola kehidupan sederhana yang kemudian membentuk budaya juang demi menghidupi dirinya sendiri dan juga membantu orang lain adalah sebuah sisi positif dimana semua struktur sederhana lahir sebagai penopang nilai-nilai sosial.

Seiring perkembangan zaman, indonesia sebagai sebuah negara kepulauan tak terlepas dari kaca mata global sebagai lahan perkembangan sains dan teknologi serta sebagai sebuah negara dengan subangsi oksigen dari hutan-hutan hujannya yang terdapat pada wilayah kalimantan dan papua.
Perkembangan zaman dalam pengaruh arus globalisasi kembali dilihat melalui kacamata desa dalam ruang lingkup pertanian. Proses perkembangan yang meningkat secara besar-besaran dalam dunia, memaksa masyarakat desa yang sebagian besar merupakan masyarakat dengan mayoritas petani dan nelayan serta memegang erat nilai sosial mengalami kerusakan dalam mainset berfikir akibat dari kemajuan teknologi yang tak memiliki batas.
Perkembangan dunia pun menekan secara sistematis masyarakat pedesaan melalui pebisnis yang memegang secara total arus barang dan jasa ketika keluar maupun masuk pada suatu pulau sehingga ada sekat pembatas dalam rongrongan penculikan secara terakomodir dibalik layar lebar perhelatan.
Memandang indonesia dari bibir sawah terus meluapkan rasa perihatin dan penasaran akibat dari tidak meratanya konsep pengembangan daerah berlandaskan pancasila serta kesejahtraan masyarakat pedesaan.
Kesenjangan penganggapan ini dapat kita lihat melalui pola yang dibangun dalam setiap proses dalam daerah yang menyebabkan desa sebagai sebuah sasaran empuk. Dimana hasil alam sebagai sumber kehidupan seperti padi, jagung dan lain-lain dijadikan santapan para investor atau pemilik modal demi mencapai keinginannya memiliki uang, sedangkan para petani sebagai neraca yang menanam kemudian memetik dengan sistem olah manual, di kapling sedemikian rupa demi kepuasan individual tertentu.
Rotasi tengkulak yang semakin hari semakin meningkat dalam daerah, hanya dipandang sebagai sebuah lahan dimana sleksi alam terjadi. Jika di telaah secara utuh, konsep ini hanya sebagai akibat dari pembentukan karakter individualis dari sebab kemajuan struktur sains modern dalam tubuh teknologi.
Masyarakat desa yang notabene memiliki pendidikan terbatas tak mampu membantah kebijakan yang telah ditetapkan pada setiap mimbar demokrasi indonesia. Kereta tanpa rell sebagai penghantar arah yang logis menuju kemakmuran bersama, belum tampak di panggung indonesia.
Kehidupan dewasa ini desa mengalami suatu perubahan dimana setiap desa diberikan kebebasan mengurus rumah tangganya sendiri. Namun jika di kaji lebih dalam, masih banyak sekali desa di indonesia yang hanya bisa menggunakan kebijakan ini sebagai ruang dimana hadirnya uang negara demi sebuah pembangunan infrstruktur yang di inginkan. Tetapi apakah harapan dari undang-undang No. 6 tahun 2014 tentang desa telah sampai pada pencapaian tertentu? Perlu adanya pengkajian lebih dalam.
Secara utuh desa-desa di indonesia belum dapat dikatakan mandiri secara baik, alasannya karena SDM yang merosot drastis dan pada umumnya masih dalam situasi terbelenggu dan keterbatasan sudut pandang kreaktivitas adalah sebuah titik tekan yang sangat signifikan.
Perhatian pemerintah secara sistematis dalam hal ini pengawasan dan penyaluran perlu di lindasi oleh keinginan melayani orang bayak. Pengawasan secara utuh baik dari segi pengelolaan hasil desa, pengelolaan dana desa dan penyiapan infrastruktur pendukung adalah beberapa point penting yang semestinya digarap dalam pola pelayanan. Kemudian penyaluran hasil-hasil alam desa, penyaluran sumber daya manusia adalah tugas penting pemerintah demi mencapai kemajuaan desa yang mandiri dan sejahterah.

Generasi Muda dalam Menatap Desa
Generasi muda sebagai generasi penerus bangsa, mengecap secara utuh pendidikan dalam setiap tahap dan merupakan motor penggerak kehidupan berbangsa dan bernegara merupakan fakta yang tak terbantahkan.
Kontribusi yang nyata dalam berbagai bidang kehidupan yang sudah diperlihatkan secara konkrit oleh kaum muda, telah menjadi subangsi besar pembangunan negeri serta tanggung jawab yang relevan dengan konsepsi usian dimana pemuda sebagai landasan picu negara dengan ideologi pancasila ini.
Lantas, apakah pemuda telah kembali menatap desa sebagai awal mula pola masyarakat dibangun??
Desa sebagai alat penopang sekaligus pondasi dalam sistem ekonomi negara, tak dapat dipandang sepele. Sebab-sebab yang lahir atas pemikiran lunak kemudian menelan secara utuh adalah sebuah kekeliruan yang perlu diluruskan.
Generasi muda di era globalisasi perlu menelaah lebih jauh pola-pola kehidupan masyarakat pada masa kini dengan memandang desa sebagai sebuah kacamata perbandingan serta dasar riset dalam meramu kebijakan yang pasti.
Jejak pendapat yang panjang sebagai generasi muda yang lahir dalam tubuh nusantara, sudah menjadi kewajiban mutlak untuk memperhatikan masyarakat secara menyeluruh karena tak bisa di pungkiri, tanggung jawab terbesar adalah generasi muda.
Ruang-ruang pendidikan sebagai sebuah lokomotif penggerak kecerdasan perlu melahirkan generasi-generasi muda yang peka dan peduli, sebab pemicu bergeraknya ruang lingkup dalam berbagai aspek kehidupan, sangat bergantung pada sumber daya manusia.
Tata kelola kehidupan yang bergerak semakin cepat memaksa generasi muda tak lepas dari jebakan budaya hedonis yang menggiurkan dan memanjakan logika berpikir sehingga apatis dan pragmatis menebal seiring zaman.
Hampir sebagian besar generasi muda dalam taraf berpendidikan selalu menciptakan kreasi baru yang berbeturan dengan sisi budaya dan runtutan pola dalam sebuah ruang lingkup desa. Umumnya penyebaran budaya selalu lahir dari terhipnotisnya generasi muda akan pengaruh-pengaruh arus global di ruang lingkup yang lebih besar.
Kenyataan rasa penasaran dalam diri kaum muda tak bisa di realisasikan dalam jumlah positif seperti memperhatikan nilai-nilai sosial, melibatkan diri dalam kemajuan desa dan lain-lain tak bisa dicapai mutlak karena pengaruh arus global telah sampai pada kadar yang kritis.
Relevansi antara desa dan anak muda sudah sangat jauh dari harapan dan hampir tak bisa adanya penyatuan yang utuh akibat sekat global sebagai sumbu pembatas yang telah melekat sebagai penjawab rasa penasaran yang berkepanjangan.
Konsep pembelokan cara pandang dalam desain global terhadap generasi muda dewasa ini telah menjadi konsumsi publik secara besar-besaran dan desa sebagai ruang lingkup kecil hanyalah sebuah imbas dampak dari keacuhan masyarakat global.
Rekonstruksi tata ruang pendidikan sebagai ruang lingkup pokok perlu dilakukan secepatnya dengan konsep penyaluran dan penyadaran dalam tingkatan totalitas. Pembatasan sebab-sebab tanpa dasar konstruksi pasti perlu di hindari karena perusakan secara berkala seperti yang kita saksikan dewasa ini adalah sebuah era dimana kekeritisan menigkat tajam.
Perbaikan cara pandang anak muda dalam melihat desa bukan sebagai lahan pameran kemajuan melainkan lahan belajar serta kembali untuk memberdayakan masyarakat pedesaan adalah sisi positif yang perlu dibagun dalam tatanan kehidupan bermasyarakat. Sebab kemajuan desa dan negara tak bisa berjalan tanpa ada sumber daya manusia yang cerdas dan peduli terhadap masyarakat luas.

Pemberdayaan Desa
Desa hadir sebagai tulang punggung perekonomian dan juga sebagai landasan awal mula konsep budaya lahir menjadi penting untuk dipelajari kemudian diperhatikan demi kemajuan negara serta kesejahtraan masyarakat.
Berbagai usaha di era modern selalu berusaha lahir dari pemikiran pemerintah sebagai pengelola negara serta generasi muda kreaktif dan cerdas sebagai pemikir-pemikir muda, berusaha memecahkan pencapaian kesejahtraan terhadap masyarakat sampai pada pemberdayaan masyarakat desa itu sendiri, namun apa lah artinya sebuah solusi jika hanya menyapu permukaaan masalah tetapi tak menyentuh sampai pada akar masalah??
Lahirnya solusi perlu mencari akar masalah bukan akibat dari sebuah isu yang sampai ke permukaan. Jika hanya memberantas lahirnya masalah hanya pada sebuah permukaan, maka akan hadir lagi masalah baru sebagai penganti solusi atau bahkan masalah tersebut dapat lahir dari solusi yang dibangun.
Pemerintah indonesia dewasa ini, telah melahirkan sebuah kebijakan yang cukup menarik dimana desa sebagai sebuah daerah yang mengurus rumah tangganya sendiri kemudian mengatur dirinya sendiri sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.
Jika di telaah secara baik, kebijakan ini lahir dengan tujuan membiarkan desa menggelola hasil alamnya sekaligus melatih desa agar mandiri di tengah tantangan arus globalisasi. Sebuah solusi yang menarik namun kurang cakap dalam pertimbangan.
Jika dibuat perbandingan sesuai dengan fakta dilapangan, hampir sebagian besar desa di indonesia hanya mampu menadah kebijakan yang lahir kemudian melakukan penyesuaian namun nihilnya perubahan dapat di lihat dari pola-pola yang di bangun dalam masyarakat.
Kekerdilan pengelolaan kemudian minimnya cara pandang merupakan sebab dari semua permasalahan-permasalahan yang lahir dalam ruang lingkup desa sehingga sebuah kebijakan hanya tetap stagnan dan mentah di dalam kehidupan.
Sikap apatis pemerintah dalam mengelola kebijakan ini tak seimbang dengan pengawasan dan penyaluran, hanya tetap pada mentahnya coretan kertas dan nilai realisasi hanya memiliki tolak ukur kecil.
Solusi dari adanya aturan dalam undang-undang yang merancang tentang kemandirian desa ini perlu di imbangi dengan tindakan nyata pemerintah pusat dalam melakukan pengawasan, sebab masyarakat awam yang merupakan garis keturunan masyarakat adat, bisa dikatakan akan terikat secara mutlak oleh pola adat sebagai awal mula pijakan desa.
Konsep-konsep dalam aturan dan lemahnya realisasi hanyalah sebuah akibat dari lemahnya sumber daya manusia indonesia yang lahir dari konstitusi pendidikan di indonesia. Perbaikan mutu pendidikan adalah dasar awal pembentukan karakter berpikir masyarakat yang inovatif dan kreatif.
Pendidikan tak bisa dianggap sepele karena dari sinilah pembentukan gaya berpikir itu lahir. Pendidikan yang baik akan menciptakan generasi yang cerdas dan mampu mengabdi dengan gaya berpikir yang rasional dan kreaktif.
Solusi dari permasalahan desa dewasa ini terletak pada pendidikan, kreaktivitas, inovasi, pengawasan dan penyaluran yang dilakukan oleh berbagai elemen penting dalam negara yang mendukung secara langsung maupun tidak langsung kehidupan masyarakat desa.
Dasar yang merangsang pemikiran manusia terletak pada manusia itu sendiri namun kemungkinan untuk berkembang sangat nihil, oleh karena adanya ruang pendidikan merupakan ruang dimana manusia berkorelasi dan mencari serta memicu gaya berpikir demi menajukan tujuan pengembangan alam.
Peran pemerintah dalam hal ini sebagai pengawas dalam kebijakan adalah sebuah kewajiban dasar dimana masyarakat desa perlu diberdayakan dan diperlakukan dengan bijak sampai pada bentuk-bentuk tanggung jawab pelayanan dari pihak pemerintah secara utuh di titik beratkan pada pelayanan secara utuh.
Desa di indonesia yang umumnya masih tergolong kurang mampu perlu diberikan perhatian lebih dan peningkatan sumber daya manusia di dalamnya agar tak hanya sekedar negara yang menjadi kacamata kemajuan, namun desa pun dapat terealisasi kemajuannya. Sebab desa yang maju secara pasti akan mendongkrak kemajuan negara itu sendiri.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru