oleh

Memilih dengan Prinsip “Minus Malum”

-Opini-245 views

Oleh : PM Tangke

 

Memilih satu diantara yang lain bukanlah hal yang mudah. Ada banyak faktor yang perlu dipikirkan. Ada banyak konsekuensi yang perlu dipertimbangkan. Ada banyak keluarga dan sahabat yang perlu didengarkan. Ada banyak informasi yang perlu dikumpulkan dan disaring. Ada banyak visi dan misi yang perlu dikaji dalam konteksnya. Ada banyak kemampuan yang perlu ditakar. Ada banyak kepentingan yang perlu direnungkan.

Ada banyak harapan, karir, kekecewaan, jabatan, dan lain-lain, yang memang harus diketahui dan menjadi bahan pertimbangan. Memilih satu diantara yang lain, suatu keharusan yang perlu diputuskan secara sadar. Tiada memilih satu diantara yang lain, itu juga pilihan. Suatu pilihan menyimpang dari pilihan satu diantara yang lain.

Memilih, dalam konteks Politik, satu diantara yang lain, tidaklah mudah. Benar, tidak semudah membalik telapak tangan. Ada banyak faktor yang juga perlu dipertimbangkan. Jika faktor telah dipertimbangkan, maka pilihan pada satu calon diantara calon lainnya, mutlak diputuskan.

Konsekuensi memutuskan pilihan itu harus diterima dengan lapang dada dan penuh sukacita. Memilih di luar satu diantara yang lain, bukanlah pilihan cerdas di zaman demokrasi. Pilihan menyimpang, tidak memilih satupun calon, dari segi pendidikan politik merupakan suatu pembodohan yang tidak selaras dengan tujuan luhur NKRI untuk mencerdaskan kehidupan berbangsa.

Pilihan menyimpang, netral, dari segi hak adalah suatu perugian diri. Pilihan menyimpang, hanya menunjukkan lemahnya kualitas diri, lemahnya pengetahuan, lemahnya tanggung jawab, lemahnya visi dan misi. Apalagi, jika itu dilandasi rasa takut, maka jelas menunjukkan sikap pilih aman sendiri, egoism, ini suatu pengkhiatan pada pilihan hati nurani.

Hati nurani sering menjadi dasar kita memutuskan pilihan. Setuju. Secara biblika, hati nurani (Yunani: suneidesis = hati nurani, suara hati, pertimbangan, kesadaran)  tidak selamanya murni. Ada hati nurani murni/telah dibersihkan (Kis 23:1; Ibr 10:22b), tetapi ada juga hati nurani lemah (Kis 1:8), bahkan ada hati nurani yang jahat (Ibr 10:22) dan hati nurani memakai cap Iblis (1Tim 4:1-2).

Hati nurani kita harus disucikan dari yang jahat (egoism, uang, dll). Menolak hati nurani yang murni berakibat rohani: iman akan kandas (1Tim 1:19).

Memilih, satu diantara yang lain, membutuhkan keberanian. Keberanian itu muncul karena alasan memilih dibenarkan oleh kesadaran. Kesadaran terhadap siapa kandidat, visi-misi kandidat, integritas kandidat, kemampuan kandidat, konteks daerah, dan spiritualitas kandidat.

Prinsip “Minus Malum” (memilih yang paling sedikit keburukannya) merupakan cara memilih yang terbaik. Kita tidak memilih “kucing dalam karung”. Kita mengetahui kebaikan dan keburukan para kandidat. Anggaplah, keburukan itu dosa. Anggaplah, semua kandidat buruk/korup/berdosa. Anggapan itu dapat sah.

Inipun alkitabiah: tidak seorangpun yang tidak berdosa, kecuali Yesus (Roma 3:2; 1 Yoh 8:1). Memilih kandidat yang paling sedikit keburukannya, berarti kita mencegah terpilihnya kandidat yang paling banyak keburukannya. Tidak memilih, berarti membiarkan kandidat yang paling banyak keburukannya berpeluang terpilih. ***

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru