oleh

Memperhitungkan Peran Figur Dalam Kontestasi Politik

-Opini-406 views

Oleh: Petrus Plarintus

 

Hiruk pikuk pilkada di NTT telah usai. Kini tinggal menunggu perhitungan akhir dan penetapan dari KPU.

Sekalipun demikian hal ini tidak menjadi sebuah indikasi kalau pesta demokrasi itu akan memasuki garis finis.

Dikatakan demikian karena belum tuntas penetapan pilkada, penyelenggara pemilu khususnya KPU; sudah disibukan kembali dengan proses penjaringan calon legislatif dan kandidat presiden yang akan ikut dalam pilpres 2019. Maka dapat dipastikan kalau taman-taman kota dan pinggiran jalan akan kembali dihiasi oleh spanduk dan baliho dari para kandidat.

Sekalipun gegap gempita pilkada telah usai, namun sejumlah kisah unik dan mungkin memilukan seakan tak habis terkisahkan.

Pasalnya ada paket yang memborong hampir semua partai politik namun ternyata gagal dalam menjaring perolehan suara. Ada lagi paket yang melawan kotak kosong namun ternyata keok dalam meraup suara terbanyak. Tapi lebih lengherankan lagi ketika ada paket yang pasangannya sudah jadi tawanan KPK tapi berhasil unggul dalam perolehan suara.

Fenomena seperti ini kiranya tidak hanya menjadi sebuah sejarah baru dalam dunia perpolitikan di tanah air;  tapi juga penting untuk menjadi introspeksi mendasar baik bagi  penyelengara pemilu maupun bagi pihak partai politik.

Hal ini karena, bukan tidak mungkin kalau sebagian masyarakat berasumsi bahwa KPK terjebak dalam urusan politik praktis karena telah menghalangi tahapan  kontestasi dan sekaligus turut berperan dalam menggagalkan paslon tertentu.

Disamping  itu menangnya paslon yang sedang dalam tahanan KPK memberikan sinyal cukup kuat kalau lembaga antirasuah ini sedang mendapat mosi tidak percaya dari sebagian masyarakat. Dan sekaligus pada saat yang sama, partai pendukung serta para pemilih dianggap tidak rasional karena telah memilih calon yang jelas-jelas berada dalam kursi pesakitan.

Berkaca dari dinamika politik seperti ini maka sebaiknya ke depan tidak hanya SKCK dari pihak kepolisian yang diminta sebagai persyaratan pencalonan tetapi sebaiknya juga ada semacam rekomendasi atau catatan khusus dari lembaga antirasuah terhadap para calon yang akan diusung. Dengan demikian baik para calon, penyelenggara dan partai pendukung tidak sampai kehilangan muka karena telah menjatuhkan pilihan yang dianggap tidak tepat atau dianggap mendukung orang yang salah.

Selanjutnya yang terjadi selama ini dalam proses kontestasi politik, partai politik selalu mengutamakan kandidat yang memiliki popularitas dan elektabilitas yang tinggi. Memang dalam konteks kontestasi standar ini menjadi prioritas. Namun pandangan ini telah menjerumuskan partai hanya sebagai user semata dan mengabaikan peran pentingnya sebagai creator bagi lahirnya politisi yang memiliki kapasitas dan integritas yang memadai.

Realitanya, ada banyak politisi yang ikut membesarkan partai tapi tidak banyak partai yang membesarkan politisi. Lalu dimanakah peran partai sebagai mesin politik itu?

Sekalipun sudah ada partai yang melakukan rekrutmen tanpa mahar,  namun sebagian besar partai politik masih memerankan fungsi menyerupai angkutan umum yang bisa mengangkut siapa saja asalkan bisa membayar. Namun substansi permasalahannya bukan pada hal membayar ataupun gratis tetapi bagaimana peran partai ini bisa merepresentasikan amanat penderitaan rakyat sehingga antara partai, konstituen dan politisi: “jangan ada  dusta di antara kita”.

Lebih dari pada itu perolehan suara yang signifikan dari paslon yang duduk di kursi pesakitan mengisyaratkan ada yang salah dalam sistim demokrasi yang sedang kita bangun, dimana semangat KPK untuk memerangi korupsi tidak in line dengan kehendak dan aspirasi masyarakat bawah. Oleh karena itu ke depan perlu ada sebuah sarana yang merupakan jalur informasi dan komunikasi antara masyarakat dan KPK sehingga masing-masing pihak tidak sampai berburuk sangka atau jangan sampai antara para pihak menganggap: “kau bukan dirimu”. Dan dalam kondisi seperti ini partai harus bisa memediasi dengan baik sehingga pada akhirnya ada jalan tengah yang bisa diambil sehingga ada pengakuan antara para pihak bahwa: “aku masih seperti yang dulu”.

Sementara itu kekalahan koalisi gemuk dalam pilkada menjadi bukti bahwa ada distansiasi yang sangat jelas antara kehendak partai dan aspirasi di akar rumput. Kondisi ini tidak hanya selesai dengan meratapi apa yang sudah terjadi tapi perlu sebuah langkah solutif kalau partai politik mau menghadirkan diri sebagai jembatan aspirasi rakyat.

Bila moment ini tidak ditanggapi secara serius maka bukan tidak mungkin partai akan kehilangan simpati dari masyarakat dan koaliasi yang dibangun hanya akal-akalan di tingkat partai tapi tidak berefek pada perolehan suara saat pemilihan berlangsung.

Dengan memperhatian figur beberapa politisi yang kini cukup mendapat perhatian dan tingkat elektabilitas di tengah masyarakat yang cukup bagus, maka partai politik harus melihat kesempatan ini sebagai momen untuk mengorbitkan politisi yang sesuai dan bisa memenuhi kebutuhan dan aspirasi masyarakat.

Standar dan kualifikasi yang dipakai untuk seorang politisi, harus disesuaikan dengan tingkat kebutuhan dan penerimaan masyarakat. Dan tugas partai setelah memastikan kualitas dan kapasitas calon politisi tersebut adalah membantu meningkatkan popularitas sang kader yang bisa berefek pada elektabilitasnya nanti.

Pileg dan pilpres 2019 adalah moment yang tepat bagi partai untuk mengorbitkan jagoannya kepada masyarakat dan tidak perlu mendompleng pada  figur tertentu yang telah memiliki tingkat elektabilitas yang tinggi yang berasal dari partai lain. Hal ini berarti sudah saatnya partai harus bisa mengorbitkan politisi-politisi baru yang akan turut membesarkan partainya yang berasal dari putra kandungnya sendiri, dan bukan suara yang signifikan itu tergapai karena hadirnya anak angkat dalam partai politik.

Tahapan pileg dan pilpres mulai berajak dari titik start. Semoga saja di garis finis ada sejumlah politisi yang tidak diragukan kualitas dan kapasitasnya lahir sebagai kader harapan bangsa yang berasal dari setiap partai peserta pemilu. Semoga.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru