oleh

Politik Dalam Bayang-bayang Kelompok Radikalis

Oleh : Petrus Plarintus

 

Masih segar dalam ingatan kita ketika minggu kelabu itu hadir tak dinanti dan datang tak diundang dalam perayaan ibadat di tiga gereja di Surabaya beberapa waktu lalu.

Beberapa orang terpaksa harus merenggang nyawa termasuk kaum perempuan dan anak-anak akibat kebrutalan kelompok radikalis. Namun aksi ini tidak berhenti di sini karena masih berlanjut keesokan harinya dengan sasaran utama aparat kepolisian.

Akibat rangkain peristiwa terorisme tersebut dan ditambah dengan desakan masyarakat Indonesia, maka akhirnya undang-undang anti terorisme itu pun jadi disahkan setelah mangkrak hampir dua tahun.

Kondisi ini menjadi sebuah indikasi bahwa proses legislasi terhadap undang-undang anti terorisme sudah penuh sesak dengan berbagai kepentingan yang turut bermain di dalamnya.

Disahkannya undang-undang antiterorisme merupakan sebuah loncatan baru dalam rangka memerangi pergerakan kelompok radikalis di negara ini. Dan bukan tidak mungkin, lahirnya undang-undang ini akan semakin mempersempit pergerakan kelompok radikalis.

Sekalipun demikian kondisi ini tidak menunjukan bahwa bahaya laten kelompok radikalis akan tamat riwayatnya. Dikatakan demikian karena peran kelompok radikalis mulai menyusup dalam konstelasi politik di negara ini melalui manuver politik yang dipertontonkan akhir-akhir ini.

Tak dapat dipungkiri lagi bahwa kekalahan telak Ahok dalam pilkada DKI adalah karena dominasi dan strategi yang dimainkan secara terstruktur dan masif oleh aktor intelektual dari sempalan kelompok radikalis. Kemenangan ini disatu sisi menunjukan bahwa kelompok radikalis tidak hanya menjadi kekuatan yang layak diperhitungkan dalam aksi pemboman tetapi juga ketika berafiliasi dengan kekuatan politik maka ia bisa mendapatkan amunisi baru dan kekuatan dasyat dalam meruntuhkan bangunan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Oleh karena itu, moment pesta demokrasi baik pilkada 2018 serta pileg dan pilpres 2019 harusnya menjadi moment strategis sekaligus evaluasi menyeluruh terhadap penyusupan bahaya laten kelompok radikalis dalam lembaga politik untuk mendapatkan legitimasi dalam melancarkan agenda-agenda terselubungnya.

NKRI harga mati. Kiranya argumentasi ini tidak hanya menjadi slogan kosong. Oleh karena itu pilihan politik dalam hajatan politik bulan ini dan April 2019 mestinya merupakan reprentasi dari upaya dan keseriusan masyarakat dalam menghambat pergerakan dan manuver kelompok radikalis yang sedang merambah dalam dunia politik.

 

Penulis : Pemerhati Sosial Politik tinggal di Kupang-NTT

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru