oleh

Segitiga Emas Pendidikan

-Opini-501 views

Oleh : HENDRINA ERVING RIBERU, S.Pd

 

Education is the most powerful weapon which you can use to change the world , demikian kata Nelson Mandela. Kata-kata inilah yang menjadi landasan keyakinan saya bahwa perubahan itu bisa terjadi bila kita mulai berfokus pada pendidikan. Melalui pendidikan, kita mencerdaskan rakyat. Mencerdaskan adalah salah satu misi negara. Jika kita bisa menghasilkan SDM NTT yang unggul yang mampu berkarya dan berkompetitif, artinya kita telah mewujudkan salah satu misi negara.

Tapi untuk meningkatkan mutu SDM NTT, apa yang harus kita lakukan dalam pendidikan? Perlu diingat bahwa pendidikan itu memiliki makna yang luas. Tidak hanya berkaitan dengan pendidikan di lingkungan sekolah, tapi pendidikan juga menjadi tanggung jawab masyarakat luas. Dan untuk meningkatkan sumber daya manusia, kita harus memulainya dari kelompok-kelompok yang berperan langsung dalam pendidikan. Dan saya melihat ada tiga kelompok utama yang menjadi sasaran pendidikan itu, yaitu ibu, guru dan anak. Ketiga kelompok dalam masyarakat ini saya menyebutnya sebagai Segitiga Emas Pendidikan (STEP).

Mengapa  kaum  ibu  harus  menjadi  kelompok  yang  penting  dalam  peningkatan  mutu sumber daya manusia kita? Dan mengapa kita perlu memberikan pendidikan pada kaum ibu atau perempuan?

Karena ibu adalah orang pertama yang menanamkan pendidikan pada anaknya sejak usia dini atau berusia nol. Seorang ibu sudah seharusnya tahu bagaimana mendidik anaknya terutama sejak ia mengandung.

Selama ini kita cenderung memaksimalkan peran ibu hanya dalam penanganan kesehatan anak  dan  peningkatan  ekonomi  keluarga atau peran-perannya  dalam berorganisasi, tapi  kita kurang menaruh perhatian pada perannya   sebagai pendidik. Sudah seharusnya kita meningkatkan pengetahuan mereka tentang cara mendidik anak, baik sejak berusia nol, balita, anak maupun remaja. Kita juga perlu menunjukkan solusi pada mereka mengenai berbagai persoalan pendidikan anak dalam keluarga. Kita harus meyakinkan para ibu betapa pentingnya peranan mereka dalam mendidik. Kita membutuhkan generasi yang unggul, berkarakter dan berbudaya. Dan tidak  ada  tawar-menawar,  kita  hanya  bisa  memperolehnya  bila  kita bisa meningkatkan kualitas kaum perempuan kita. Seperti kata pepatah Inggris ‘you educate a man, you educate a man; you educate a woman, you educate a generation.’

Tetapi bagaimana caranya meningkatkan peranan kaum ibu sebagai pendidik?

Sebagai langkah awal, kita bisa menggunakan cara pendekatan dengan penyuluhan. Kita bisa mengadopsinya pada kegiatan posyandu atau kegiatan sosial wanita lainnya. Kita bisa melakukan penyuluhan atau sosialisasi tersendiri. Untuk daerah-daerah pedesaan, kita harus melakukan penyuluhan atau sosialisasi. Sementara di daerah perkotaan kita bisa melakukan sosialisasi lewat sosial media seperti Facebook, Twitter, Youtube dsb. Kita juga bisa menyerap sistem propaganda seperti yang digunakan di jaman orde baru, ketika pemerintah melakukan propaganda tentang Keluarga Berencana. Melalui media atau iklan atau telepon dan SMS, kita bisa menyuarakan pentingnya pendidikan dalam keluarga. Kita bangun sebuah pesan yang bisa menggugah atau memotivasi kaum ibu untuk terlibat secara serius pada pendidikan keluarga. Contoh pesannya bisa seperti ini: ibu cerdas menghasilkan generasi cerdas. Kita membuat pesan ini kuat dan menarik.

Bagaimana membuat pesan yang menarik?

Pesan kita harus berbasis pada: isu, memberikan solusi, menyakinkan, diulang-ulang dan menciptakan sebuah citra atau pencitraan sehingga pada akhirnya pendidikan keluarga menjadi keharusan atau gaya hidup masyarakat kita.

Selain ibu, guru juga memiliki peran yang tidak kalah penting dalam menghasilkan sumber daya manusia yang unggul. Guru adalah perwakilan orang tua di sekolah. Selain orang tua, guru juga memiliki pengaruh besar dalam pembentukkan karakter anak.

Dan kita harus mengakui bahwa kualitas guru di NTT belum memenuhi harapan. Kita kekurangan  dalam menyediakan guru-guru yang profesional  dan berkompeten  di bidangnya. Masalah  ini  tidak  hanya  berada  di  tingkat sekolah  dasar  hingga  menengah  tapi  juga  hingga tingkat  universitas.  Setiap  tahun  prestasi  kelulusan Ujian  Nasional  para  pelajar  di  NTT tetap berada di peringkat bawah.  Sementara di tingkat universitas kita banyak menghasilkan lulusan sarjana  yang  tidak  siap  berkompetisi.  Pengangguran  terus  bertambah  seiring  banyak yang tenaga  sarjana yang  tidak terpakai.  Selain tidak  cukup  memiliki  kompetensi,  kita  juga  masih menemukan adanya guru yang memiliki karakter yang rendah seperti melakukan kekerasan baik secara fisik maupun kata-kata seperti memaki dan menghina murid.

Karena  keadaan  ini  kita  perlu  melakukan  pembenahan.  Kita  perlu  merumuskan  suatu sistem  kepemimpinan dan  menagement  pendidikan  yang  tepat  di  sekolah-sekolah  negeri maupun swasta untuk meningkatkan kinerja guru-guru di NTT. Kita dorong pemerintah untuk melakukan  pembenahan  dengan  mengadakan  sistem penyaringan  tenaga  guru  yang  tepat melalui pengujian kompetensi bidang ilmu yang ditekuni dan kemampuannya dalam kegiatan belajar mengajar. Sementara guru-guru yang sudah bekerja kita tingkatkan melalui penyediakan pelatihan atau pembekalan bidang studi yang berkelanjutan melalui seminar dan workshop yang berkualitas, dengan begitu guru bisa terus mengasah kemampuannya dan mendapatkan ide-ide segar untuk pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di kelas; melalui pemberian beasiswa bagi guru-guru untuk melanjutkan studi guna meningkatkan kompetensinya; dan melalui pemberian reward atas prestasi yang diraih baik itu berupa kenaikan gaji atau bonus.

Sementara untuk guru-guru sendiri kita bangun kesadaran dan kecintaan mereka pada profesi. Kita memotivasi mereka untuk menjadikan profesi guru sebagai tempat untuk mengembangkan diri, mengabdi dan berkarya.

Selain ibu dan guru, anak adalah kelompok yang paling terpenting. Merekalah aset masa depan kita, NTT dan negara. Menangani anak memerlukan pendekatan yang cermat karena kita tidak bisa menyamaratakan mereka. Kita harus melihat mereka berdasarkan usia, karakter dan kegemaran. Namun pada intinya kita ingin membentuk mereka menjadi generasi yang unggul, berkarakter dan berbudaya. Kita ingin membangun mereka menjadi individu yang kaya mental, seperti memiliki kepercayaan diri, berani berkompetisi, menyukai ilmu pengetahuan, kreatifitas dan inovasi.

Permasalahan anak-anak di NTT cukup kompleks; pendidikan yang tidak merata, tidak berprestasi, pergaulan yang merusak (seperti tawuran, miras, judi dan narkoba), pernikahan dini akibat seks bebas dan korban human trackfiking.  Namun bukan berarti kita tidak bisa mencegah mereka dari semua masalah tersebut. Selama ini kita hanya kurang memperhatikan kebutuhan mereka. Kita mengabaikan mereka. Kita melakukan pembiaran. Kita membiarkan mereka dengan ketidaktahuan mereka dan tak pernah sungguh-sungguh mengarahkan mereka. Kita baru memperhatikan mereka ketika mereka dalam kesulitan. Kita tidak pernah sungguh-sungguh menganggap mereka sebagai pribadi yang juga memiliki kebutuhan.

Anak-anak membutuhkan wadah untuk menyalurkan kreatifitas, kesempatan untuk mengekspresikan diri dan jalan menemukan jati diri mereka. Mereka suka berkumpul dengan seusia mereka. Dan yang terpenting mereka juga membutuhkan pengakuan dan penghargaan atas keberadaan diri mereka.

Apa yang bisa kita berikan pada anak-anak kita?

Melakukan pendekatan pada anak-anak tidak sesulit melakukan pendekatan pada masyarakat  lain.  Anak-anak  masih  bisa  dibentuk.  Kita  juga  bisa  mendapatkan  kepercayaan mereka selama kita bisa memastikan bahwa kita ada ketika mereka membutuhkan kita. Dengan begitu mereka tidak berpaling pada pilihan yang menyesatkan.

Selain pendidikan di sekolah yang perlu dibenahi (seperti sistem, guru dan fasilitas) kita juga perlu mendorong pemerintah untuk menyediakan wadah bagi generasi kita untuk menyalurkan kreatifitas mereka; seperti tempat olah raga, perpustakaan yang lengkap, sanggar- sanggar seni (seperti seni lukis, tari, musik, teater, film dan animasi), pusat komunikasi dan informatika; dan kelompok ilmiah dan teknologi (seperti KIR, robotic, dsb.). Dengan penyediaan wadah ini, kita bisa mengasah talenta dan kretifitas generasi kita. Orang NTT sangat berbakat dalam sastra, seni, olah raga dan juga iptek. Tidak sedikit tokoh-tokoh nasional yang berasal dari NTT. Contohnya Frans Seda – seorang politikus, menteri, diplomat, penasehat presiden, pengusaha, tokoh Katolik, pengurus universitas, serta cendikiawan yang unik. Siapa yang tidak mengenalnya, sumbangsihnya pada negara diberikan dari jaman revolusi hingga reformasi.

Ada juga Prof. Dr. Ir. Herman Johannes – tokoh nasional, pejuang revolusi, ilmuwan, dosen Fisika, Menteri Perhubungan saat Kabinet Natsir, dan rektor kedua Universitas Gadjah Mada. Beliau dikenal sebagai tokoh yang konsisten dalam kata dan perbuatan. Putera-putera NTT lainnya yang dikenal  secara  nasional  seperti  Ben  Mboi  (politikus  dan  Gubernur  NTT),  Gorys  Keraf  (pakar Bahasa Indonesia), Adrianus Moy (Gubernur BI), Hasan Asyari Oramahi (penyiar RRI dan TVRI), Gerson Poyk (sastrawan Indonesia), Obby Messakh (penyanyi dan pencipta lagu), dll. Dengan melihat sejumlah nama tokoh nasional yang berasal dari NTT, merupakan bukti bahwa NTT menyimpan potensi SDM yang luar biasa. Selama bekerja di Jakarta saya juga sering bertemu dengan  putera-puteri  NTT yang  memegang  posisi penting  dalam  perusahaan  tempat  mereka bekerja, termasuk di tempat kerja saya.

Setiap orang harus  menjadi  motivator  dan  fasilitator  buat  generasi muda NTT. Pemimpin daerah harus memotivasi generasi muda NTT untuk berani memiliki mimpi dan fokus dalam mengejar mimpi mereka; dan untuk mencintai ilmu dan kebenaran. Selain memotivasi, juga memfasilitasi mereka dengan kemampuan yang dimiliki (dengan memanfaatkan link atau pergaulan yang luas nasional maupun internasional untuk mendapatkan dukungan dan kepedulian jejaring dari luar dalam pengembangan SDM NTT), seperti mengupayakan tenaga profesional di bidang seni dan olah raga untuk memberikan workshop pada generasi kita yang berbakat; mengupayakan putera-puteri NTT yang berprestasi untuk masuk dalam wadah seni, olah raga dan iptek nasional maupun internasional; mengajak putera-puteri NTT yang berhasil di luar untuk mengabdi di NTT atau sharing ilmu dan pengalaman pada generasi kita bisa melalui seminar atau workshop atau kunjungan ke sekolah-sekolah; melakukan  sosialisasi  yang  intensive dan berkelanjutan tentang pengembangan diri atau character building, leadership, pendidikan seks, bahaya pergaulan bebas dan narkoba, penggunaan teknologi dan internet yang tepat, dsb. pada generasi kita; mengupayakan forum kreatifitas seperti traditional dan modern dance, musik, film dan animasi, teater, seni lukis, sastra yang memiliki visi go national and international; mengupayakan forum toleransi antara remaja mesjid dan pemuda gereja dan mudika; memaksimalkan pendidikan muatan lokal pada generasi NTT tentang budaya lokal seperti cara berkebun/bertani, berternak, menangkap ikan, menenun, bahasa dan sastra daerah, mengayam daun lontar menjadi peralatan rumah tangga (seperti tikar, nyiru, kapisak dll.), mengiris tuak, kuliner lokal dan obat-obatan tradisional.

Program-program tersebut dapat diolah dengan sistem management yang profesional, seperti memiliki team yang capable, pembagian tugas yang jelas, memiliki kalender kegiatan yang jelas, memiliki standar pelaksanaan tugas yang jelas, norma dan peraturan yang jelas, mekanisme kegiatan yang detail, prosedur penyelesaian kasus atau masalah yang jelas, langkah-langkah penanganan kasus/masalah yang jelas, dsb.

Dengan memiliki tujuan hidup yang benar, generasi kita nantinya akan sukses bertumbuh menjadi generasi yang mandiri dan berwawasan. Dengan pendidikan yang baik para remaja ini kelak   akan   menjadi   penerus   kita   yang hebat   yang   mampu  melahirkan   generasi-generasi berikutnya yang cemerlang.

Sejalan  dengan  pendidikan,  pemerintah  juga  dapat  memotivasi  masyarakat  untuk  menjaga dan melestarikan budaya lokal seperti tenunan, tarian, musik, upacara adat, dan sebagainya. Ketika saya bersekolah dulu saya sangat suka pada tarian daerah baik dari lokal maupun daerah lain di Indonesia. Sekarang ketika budaya luar lebih menonjol, saya ingin generasi sekarang maupun mendatang mencintai budayanya sendiri. Pemerintah  juga  menjadi  fasilitator untuk memperkenalkan budaya lokal ke dunia internasional.

Selain itu pemerintah juga membangun masyarakat NTT untuk memiliki pola pikir yang baik seperti kaya mental. Kaya mental berarti memiliki nilai-nilai positif seperti; tanggung jawab, yakin, percaya diri, sabar, suka tantangan dan berkompetisi, disiplin, pekerja keras, komitmen, punya integritas, ulet, tidak mudah menyerah, menghargai waktu, jujur, kemauan untuk belajar, berani, mencintai pekerjaan, tegar, rajin, bisa bekerja sama, dan bersyukur.

Kita menyadari mendidik masyarakat itu tidak mudah dan perlu waktu yang lama. Kita mungkin juga tidak bisa merubah orang perorang, tetapi bila kita bisa membentuk mayoritas, dengan sendirinya sikap dan pola pikir yang baik akan menjadi budaya atau gaya hidup masyarakat. Walau sulit, bukan berarti tidak mungkin. Selama kita mau mencoba, pasti ada jalan. Dan kita harus memulainya dari sekarang, karena tidak ada alasan bagi kita untuk menunda lagi atau menunggu orang lain yang memulainya. Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Kalau bukan kita, siapa lagi?

 

 

(Penulis adalah Guru Bahasa Inggris dan Penulis Novel)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru