oleh

Memoriam Bapak WELEM LANGKO (Guru Agama Senior)

Nafas yang terdengar menderu oleh kegelisahan berubah teratur setelah mendapatkan pengurapan dengan Minyak Suci dari tangan Romo Yanto Faot. Dimulai dengan helaan yang sedikit panjang, berangsur memendek lalu normal dan akhirnya berhenti sama sekali.

Demikian Bapak Welem Langko yang akrab disapa Ba’i Weko menutup lembaran hidupnya, Rabu, 18 Oktober 2017 sekitar pukul 19.30 WITA di rumah kediamannya Dingsinang, beberapa jam sebelum ulang tahunnya yang ke-77.

Bapak Welem terhitung sebagai salah satu Guru Agama senior yang turut andil dalam menumbuhkembangkan benih Iman Katolik di wilayah Alor bagian tengah/ timur (Atoita, Maumang, Manegeng, Kamana – sekarang wilayah desa Nailang kecamatan Alor Timur Laut) yang waktu itu baru disemai.

Guru Agama dalam Gereja Katolik adalah kaum awam yang diangkat dan diberi tugas oleh hierarki untuk menangani urusan liturgi khususnya di tempat-tempat yang jarang dilayani oleh imam. Jabatan sebagai Guru Agama diperoleh Welem pada tahun 1959 saat ia ditunjuk oleh Pastor Paroki Alor Pantar RP. Didakus Diwa, SVD.

Waktu sedang itu ia menjalani tugas sebagai tenaga lepas Kantor Pertanian Alor di Persawahan Yaifo daerah Fanating, Alor Barat Daya. Ia pun meninggalkan pekerjaaannya itu dan kembali ke kampung halamannya menunaikan tugas suci sebagai tenaga pastoral. Ia ditugaskan sebagai Guru Agama di Kampung Tuaibui. Atas tugasnya ini, Welem juga pernah mendapatkan Surat Keputusan (SK) dari Gubernur Nusatenggara Timur Ben Mboi.

Welem dilahirkan di Manegeng, 19 Oktober 1940 dari pasangan Laurensius Laumai dan Bendelina Asamai sebagai anak ke-4 dari 5 bersaudara. Pada tahun 1950 ia pendah ke Kota Kalabahi untuk menuntut ilmu di SD Katolik Lipa. Selama di Kalabahi, ia tinggal di asarama paroki dan turut membantu Pastor dalam banyak urusan termasuk hal-hal liturgi. Pengalaman inilah yang menjadi modal baginya untuk menjalankan tugas sebagai Guru Agama terutama karena ia hanya mengenyam pendidikan sampai kelas lima SD.

Saat menerima tugasnya, usia Gereja Katolik di wilayah Alor tergolong masih sangat muda, belum genap 20 tahun. Umat Katolik baru segelintir dan tinggal di daerah terpencil di pegunungan yang sulit dilayani oleh pastor dari Kalabahi. Gereja ini baru mulai bersemi pada pertengahan tahun 1940-an dan berkembang pada akhir dekade itu. Semua yang menganut Katolik pada waktu itu pindah dari Protestan dan sudah pasti mengalami penentangan yang tidak sedikit.

Namun itu tak menyurutkan semangat Welem untuk melayani. Dari Manegeng, setiap minggunya ia menuju Tuaibui untuk melayani umat di sana dengan suka hati. Sesekali di dibantu oleh Arnoldus Asamai yang kemudian menggantikan posisinya.

Bagi umat Katolik Bukapiting, Welem dikenal sebagai seorang pelayan altar (Ajuda) sampai pada usia tuanya. Ia selalu setia berada di samping Pastor yang sewaktu-waktu mengadakan patroli. Ba’i Weko tahu persis apa yang harus dilakukannya untuk mempersiapkan misa, melayani imam dalam misa dan menyimpan kembali stelah misa. Ketelatenannya sebagai misdinar itu kini telah ia wariskan kepada anak-anak di paroki dan ia boleh berbangga akan hal itu.

Gereja Katolik di Tuaibui (kemudian pindah ke Bondata) sendiri tidak berkembang dengan baik dan akhirnya hilang. Umat yang masuk dari Protestan kemudian kembali lagi.

Bapak. Yohanes Lauwai, Guru Agama Bondata terakhir yang ditemui di tempat duka mengatakan Gereja Bondata resmi ditutup pada tahun 1985. Ia mengungkapkan, pada awalnya ada sekitar 10 jiwa kemudian satu-satu kembali ke agama sebelumnya.

Pada sebuah pelayanan Ibadat Hari Minggu di tahun itu, demikian Yohanes berkisah, hanya ada 2 jemaat perempuan. Setelah ibadat mereka menemui Guru Agama dan mengatakan bahwa mereka pun akan mengikuti jejak teman-teman yang lain. Itulah yang menjadi Ibadat Minggu yang terakhir disana. Ketika ditanya asal-muasal orang Tuaibui menjadi Katolik, ia mengatakan itu adalah kemauan mereka sendiri dan sebagai minoritas, ada banyak pengaruh yang menyebabkan mereka kembali.

Selamat Jalan Ba’i Weko. Terima kasih atas benih iman Katolik yang telah engkau wariskan. Semoga bahagia di sisi Bapa. Doakan kami yang masih berziarah di dunia ini.

Penulis : Hilarius Benidiktus Asalau

Komentar