oleh

Edi Endi, Anak Petani Jadi Bupati

WAKTU terus mengalir. Hidup manusia pun turut berubah dalam aliran waktu itu. Manusia adalah homo viator (makluk peziarah) yang tak pernah jedah mencari orientasi dan makna hidup. Dalam perjalanan itu, ada banyak ‘kisah’ yang akan kita torehkan. Kisah-kisah itu terjelma dalam medan perjuangan, tempat di mana kita ‘mendedikasikan’ diri untuk membahagiakan diri, keluarga, dan sesama.

Dari kodratnya, manusia selalu terarah pada yang lain’. Seorang anak manusia akan keluar dari ‘cangkang egonya’ untuk menjumpai ‘yang lain’. Dalam dan melalui perjumpaan itu, potensi kemanusiaan kita teraktualisasi secara kreatif. Manusia ‘tertantang’ untuk memanifestasikan kerinduan primordialnya dalam ‘membahagiakan sesama’.

Edistasius Endi, bisa menjadi salah ‘satu teks’ di mana riwayat perjalanan dalam ‘mengais’ serpihan makna hidup itu terukir indah. Cerita tentang ‘kemenangan’ dalam kontestasi Pilkada Manggarai Barat edisi 9 Desember 2020, tentu hanya salah satu judul bab dari satu kitab kehidupan yang belum rampung ‘dituliskannya’. Menjadi kampiun kontestasi, memang menjadi satu fragmen kisah yang tidak akan terlupakan dalam sejarah hidupnya.

Tetapi, sesungguhnya Edi Endi, demikian sapaan akrabnya ‘lahir’ dari lingkungan yang serba sederhana di sebuah dusun yang udik di Manggarai Barat ini. Kampung Kakor, Kecamatan Lembor Selatan adalah ‘tempat spesial’ di mana dirinya mencium aroma semesta untuk pertama kalinya pada tanggal 25 September 1972, 48 tahun yang silam. Beliau lahir sebagai anak pertama dari tuju bersaudara dari pasangan Viktor Hanggur dan Paulina Bumbung.

Sebagai anak sulung, tentu saja kedua orangtuanya meletakkan harapan yang besar pada pundaknya untuk ‘membuka pintu’ keberhasilan bagi adik-adik dan kalau dapat semua anak dari anggota keluarga besar lainnya. Harapan itu, dijawab dengan sangat sempurna oleh Edi Endi. Jawaban itu tidak dinyatakan dalam retorika yang manis, tetapi dibuktikan dengan prestasi demi prestasi yang diukirnya.

Kondisi keluarga dan kampung yang bersahaja itu menjadi ‘faktor pengingat’ bagi Edi Endi untuk tidak membuang kesempatan emas yang diberikan oleh kedua orangtuanya dan ‘Sang Pencipta. Hal itu terlihat dari ‘jejak’ perjalanan pendidikan, karier ekonomi, dan kiprahnya dalam bidang politik yang relatif tidak mengalami ‘hambatan’ yang berarti. Ia tahu diri bahwa hanya dengan ketekunan dan kerja keras, apa yang menjadi impiannya sejak kecil bisa terwujud.

Pendidikan formal bagi Edi Endi hanya menjadi ‘alat bantu’ untuk mengeksplorasi dan mengembangkan bakatnya dalam ‘berwirausaha’. Keseriusannya menekuni dunia pendidikan hingga meraih titel sarjana Ekonomi tidak hanya dilatari oleh motif ‘mencari kerja’ (job seeker) semata, tetapi terlebih dan terutama menciptkan lapangan kerja (job creator). Untuk mengasah ketajaman berpikir dan kepekaan sosial, beliau terlibat aktif dalam organisasi ekstra kampus seperti Perhimpungan Mahasiswa Katolik (PMKRI) Cabang Malang dan PERKEMI Malang.

Karena itulah, setelah meraih gelar sarjana ekonomi dari UNIKA Widya Karya Malang tahun 1995, Edi Endi kembali ke kampung halaman untuk ‘mengubah kondisi ekonomi’ keluarga dengan menekuni dunia bisnis. Sebelum terjun ke gelanggang politik pada tahun 2003, beliau dikenal luas sebagai salah satu ‘pebisnis beras’ yang sukses.

Setelah pondansi ekonomi kian kokoh, Edi Endi memberanikan diri untuk terjun ke dunia politik. Sebuah dunia yang sejatinya sudah lama digelutinya semenjak aktif sebagai aktivis mahasiswa di Malang. Medan pengabdian kapabilitas politik itu, kini semakin luas. Beliau harus menjadi ‘garam dan terang’ dalam panggung politik lokal Manggarai Barat. Kebetulan, Manggarai Barat lahir persis di saat Edi Endi semakin matang sebagai seorang politisi.

Partai Pelopor menjadi ‘kendaraan politik’ pertama bagi Edi Endi untuk menjadi ‘jembatan aspirasi dan pengeras suara publik’. Pemilu legislatif 2004 menjadi ‘tahun pembuka’ sepak terjang alumni SMAK St Ignatius Loyola Labuan Bajo ini dalam pentas politik lokal. Dari pemilu ke pemilu, kepercayaan publik pada Edi Endi tak pernah surut. Kendati, dirinya selalu berganti kendaraan politik, beliau tetap sukses merebut simpati publik untuk berkarya di ruang parlemen lokal. Edi Endi adalah salah satu dari politisi lokal yang terpilih menjadi anggota DPRD Manggarai Barat selama empat periode.

Dalam pileg 2019, Edi Endi menjadi calon legislatif (caleg) yang meraih suara terbanyak. Kali ini, perjuangan politiknya ditempuh melalui Partai NasDem setelah sebelumnya pernah menjadi salah satu tulang punggung keberhasilan partai Golkar Manggarai Barat. Atas prestasi itu, beliau ‘berhak’ menjadi pemegang palu (Ketua DPRD). Sebuah prestasi politik yang sulit ditandingi oleh politisi lainnya di Manggarai Barat ini. Karier politik Edi Endi terus ‘menanjak naik’. Keberhasilan demi keberhasilan ‘diraihnya’ dalam usia yang relatif muda.

Baru satu tahun menjabat Ketua DPRD Manggarai Barat, dirinya dengan penuh kepercayaan diri ikut berlaga dalam Pilkada Manggarai Barat 2020 untuk memperebutkan jabatan Bupati Manggarai Barat. Mutasi jabatan politis dari wilayah legislatif ke domain eksekutif, tidak tanpa ‘tantangan’. Namun, bersama dengan pak Dokter Yulianus Weng, pelbagai tantangan itu bisa diatasi dengan baik. Kini, anak petani sederhana dari Kampung Kakor itu, tidak lama lagi akan menyandang jabatan politik paling prestisius, Bupati Manggarai Barat periode 2021-2025. (*)

Komentar

Jangan Lewatkan