oleh

Glenn Fredly dan Perjalanan Kemanusiaan

Setelah meninggalnya Franky Sahilatua, aku merasa sepertinya akan sulit menemukan kembali musisi Indonesia yang punya perhatian begitu besar terhadap masalah sosial masyarakatnya. Namun tampaknya aku keliru. Karena masih ada Glenn Fredly, musisi berdarah Ambon—sebagaimana Franky—yang juga banyak menghabiskan waktunya untuk menyuarakan aspirasi masyarakatnya, khususnya masyarakat Indonesia Timur.

Natal 2011, untuk kedua kalinya aku hadir dalam peringatan Natal GKI Yasmin Bogor bersama sejumlah teman. Kami hadir sebagai wujud solidaritas, karena eksistensi GKI Yasmin terus dipersoalkan oleh sejumlah kelompok, padahal Mahkamah Agung sudah memutuskan bahwa tidak ada yang keliru dalam proses pendiriannya.

Mereka yang hadir umumnya aktivis antar-iman yang peduli terhadap pentingnya toleransi antar-umat—selain jemaat GKI Yasmin tentunya. Di tengah tekanan kelompok massa bersuara keras, jemaat Yasmin tetap menjalankan misa Natalnya dengan khidmat. Bukan di gereja, karena GKI Yasmin masih disegel Pemda, melainkan di rumah salah seorang anggota jemaatnya.

Paska misa Natal, tamu-tamu yang datang bersolidaritas diminta sambutannya. Beberapa tokoh dan aktivis memberikan sambutan, diantaranya adik Gus Dur, Lily Wahid serta anak bungsu Gus Dur, Inayah Wahid. Tak ada yang mengejutkan dari semua tamu itu, karena mereka memang aktivis-aktivis perdamaian. Suasana menjadi agak berbeda ketika pembawa acara mempersilakan Glenn Fredly, penyanyi dan musisi Indonesia yang dikenal suara emasnya, untuk memberikan sepatah dua patah kata.

Hadirnya Glenn Fredly memberikan suasana berbeda. Ia memberikan dukungan, membacakan puisi dan menyanyikan beberapa lagu. Itu membuat suasana yang sebelumnya sedih dan haru menjadi gembira. Tak banyak musisi yang bersedia hadir dalam acara solidaritas macam itu, karena bisa mendatangkan persoalan baginya. Tapi tidak bagi Glenn Fredly, sebagaimana almarhum Franky Sahilatua.

***

Itulah momen pertama kali aku bersentuhan langsung dengan Glenn Fredly. Ia bukan hanya seorang musisi, tapi juga sosok yang punya kegelisahan mendalam atas kondisi masyarakatnya.

Semua berawal dari momen 2002. Saat itu, di tengah suasana Ambon yang masih mencekam, Glenn memutuskan pulang. Sejumlah kerusuhan terjadi beberapa hari sebelumnya. Namun justru karena itu Glenn ingin pulang, untuk mengetahui keadaan kerabat dan kampung halamannya.

Pesawat menuju Ambon dipenuhi orang-orang yang hendak memastikan kondisi keluarganya. Suasana tampak haru. Beberapa saling mencoba menguatkan. Tak ada sekat kelompok atau agama. Semua seperti keluarga.

Namun situasi langsung berubah ketika para penumpang sampai di tujuan. Turun dari pesawat, para penumpang, lelaki-perempuan, tua-muda, dipisahkan oleh ‘aturan’. Kristen ambil jalan ke kiri dan muslim ke kanan. Glenn Fredly pun terenyak. Tak pernah dalam hidupnya dipisahkan berdasar agama. Dalam budaya Ambon dikenal adanya pela gandong, sebuah ikatan dan tradisi saling membantu dan saling solidaritas antar-kampung atau negeri, tanpa memandang agama.

Beberapa hari di Ambon membuat Glenn kian sedih. Ia saksikan strata budaya masyarakat dan strata sosial terputus. Ikatan pela gandong terputus sedemikian rupa akibat kepentingan-kepentingan dan permainan politik. Glenn pun bertanya pada dirinya sendiri, “Apa yang bisa saya perbuat?”

Selama 3 hari di Ambon Glenn Fredly merasakan kengerian yang luar biasa. “That’s the scariest time in my life. Tidak ada jaminan apa pun di sana. Bahkan keselamatan saya pun tidak ada yang bisa menjamin,” katanya.

Sejak saat itu, Glenn bertekad melakukan sesuatu untuk Ambon, untuk Indonesia Timur, untuk Indonesia.

***

2004, di saat ketegangan di Ambon relatif reda, Glenn menggelar konser di sana. Ia ingin menghibur masyarakatnya yang dalam beberapa kurun waktu terakhir hidupnya diliputi ketegangan dan kekerasan. Ia ingin menghidupkan suasana damai dan aman.

Tak disangka ratusan ribu penonton hadir. Batas-batas dan sekat-sekat yang sebelumnya disematkan pada mereka seolah sirna. Yang ada bahagia. Yang ada gembira.

Glenn pun terharu atas apa yang baru saja disaksikannya. Ia tak menyangka respon warga Ambon akan sedemikian luar biasa. Dan ada satu hal yang membuatnya terpana: ia tak menyangka musik bisa meruntuhkan ketegangan dan mencairkan rasa curiga yang masih tersisa di kepala-kepala warga.

Pengalaman itu membuat Glenn semakin mendalami musik bukan semata sebagai alat penghibur, tetapi juga alat pemersatu. Ia banyak berbincang dengan Franky Sahilatua, Edo Kondolongit dan penyanyi rap Jogja, Marzuki “Kill the DJ” Mohamad.

Dalam obrolan santai di Angkringan (warung makan pinggir jalan khas Solo-Jogja) dengan Marzuki Mohamad, muncullah ide membuat VOTE—Voice from the East, sebuah gerakan budaya untuk menyuarakan aspirasi dan masalah-masalah Indonesia Timur.

“Ide ini sebenarnya sudah ada dari satu tahun yang lalu. Tapi baru ketemu bentuknya saat saya ngobrol dan bertemu dengan beberapa teman dari LSM,” kata Glenn. “Kita berdiskusi, memperbincangkan berbagai permasalahan di Indonesia Timur khususnya Papua yang intensitas kekerasannya semakin tinggi, dan dari situ lah akhirnya muncul “Yuk, let’s do something”.”

Meminjam tempat di FX Senayan, Jakarta, 5 Februari 2012, VOTE akhirnya diluncurkan. Ada banyak orang dan lembaga tergabung di dalamnya. Diantaranya Indonesian Corruption Watch (ICW) serta KontraS, lembaga yang dikenal aktif menyuarakan kasus-kasus pelanggaran hak asasi manusia. Sejumlah artis juga hadir, diantaranya Tompi, Maliq & D’Essential serta penyanyi asal Papua, Edo Kondolongit.

Lewat pendekatan budaya khususnya musik, VOTE berharap akan bisa menyuarakan lebih keras suara dan aspirasi Indonesia Timur yang selama ini terabaikan oleh pemerintah pusat. “Permasalahan Indonesia Timur ini adalah permasalahan bersama, permasalahan Indonesia,” kata Glenn.

Karena pendekatannya budaya, Glenn berharap dan optimis banyak musisi yang akan mau mendukung dan terlibat. Dalam konser VOTE di Yogyakarta, sejumlah grup band dan musisi hadir. Diantaranya Slank, Superman is Dead dan Jogja Hip Hop Foundation. Bahkan Gubernur Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X pun tak ketinggalan mendukung apa yang dilakukan para seniman dan musisi tersebut.

Setelah Jakarta dan Yogyakarta, VOTE berencana akan menggelar konser musik dan beragam kegiatan budaya di berbagai kota di Indonesia khususnya Indonesia Timur seperti Kupang, Ternate, Ambon dan Sorong.

Glenn berharap VOTE menjadi gerakan yang berkesinambungan dan berkelanjutan, dengan musik sebagai jembatan. “Tujuan utamanya adalah untuk memberikan inspirasi pada masyarakat sekaligus untuk mengingatkan kepada pemerintah bahwa permasalahan di Indonesia Timur adalah permasalahan yang serius yang pendekatannya tidak cukup hanya dengan diplomasi politik seperti selama ini terjadi.”

Setelah konser yang ia gelar di Ambon 2004, Glenn percaya musik dan musisi bisa memainkan peran lebih. Di tengah kondisi sosial dan kebangsaan yang membuat frustasi, menurut Glenn musisi bisa melakukan semacam pencerahan. “Justru inilah momentum yang tepat,” kata Glenn, “di mana musisi bisa menjadi role-model untuk menyuarakan isu-isu kemanusian.”

Jika dilihat dari sejumlah musisi yang hadir dalam perhelatan yang digelar VOTE serta yang menyatakan bersedia, di mana ada nama-nama seperti Indra Lesmana, Slank, Edo Kondolongit, Tompi, Endah n Rhesa, Barry Likumahua dan banyak lagi yang lainnya, Glenn tampaknya cukup berhasil dalam mengkonsolidasikan musisi untuk lebih aktif dalam kegiatan-kegiatan kemanusiaan.

Hal ini mengingatkan pada Bono, vokalis U2, yang dalam beberapa tahun terakhir aktif membujuk dan menggerakkan musisi-musisi dan artis-artis dunia untuk peduli dan terlibat dalam berbagai advokasi kemanusiaan dan kemiskinan di Afrika dan berbagai belahan dunia. Konser-konser yang direncanakan VOTE—dengan skala yang berbeda—juga mengingatkan akan Live 8 Concert, serangkaian konser kemanusiaan di sejumlah kota di Eropa dan Afrika Selatan yang dihelat oleh musisi-musisi dunia 2 Juli 2005.

Di dunia di mana berbagai persoalan ketidakadilan dan kesenjangan kian menganga, panggilan untuk bertindak (call for action) tampaknya memang menghinggapi banyak kalangan—tak terkecuali artis dan musisi. “It’s not about charity, it’s about justice,” kata Bono dalam sebuah wawancara terkait aksi-aksi sosialnya.

Glenn tentu bukan Bono. Ia adalah musisi Indonesia dengan segala kegelisahannya sendiri. Ia berasal dari wilayah yang pernah mengalami pergolakan yang luar biasa. Itu cukup membantunya untuk melihat dan menyadari apa yang sedang menimpa bangsa ini. Ketimpangan, juga kekerasan, adalah isu-isu yang sering ia diskusikan dengan Marzuki Mohamad atau teman-temannya di KontraS. Dan itu membuatnya tak bisa berpangku tangan.

Inisiatifnya mengkonsolidasikan musisi agar menjadi corong isu-isu kemanusian telah mendapatkan jalan dan momentumnya. Edo Kondolongit tergerak untuk bergabung dan mendukung VOTE setelah mendapat penjelasan dari Glenn, meski selama ini ia juga mengetahui dan merasakan apa yang terjadi di kampung halamannya, Papua. Sebagai propinsi dengan sumber emas terbesar di Indonesia, Papua mengalami nasib yang tak lebih dari Nusa Tenggara Timur yang lebih sedikit sumber daya alamnya. “Uang triliunan memang mengalir ke Papua, tapi tidak sampai pada masyarakatnya. Sebagian besar penduduk Papua tetap miskin,” kata Edo dalam lauching VOTE. Oleh karenanya Edo menekankan pentingnya pemberantasan korupsi. Karena ia menduga uang itu hilang di laci-laci pribadi.

Tentu, VOTE bukan berarti semata soal Indonesia Timur. Karena Glenn juga menyadari bahwa apa yang terjadi di timur juga terjadi di tengah atau di barat. Namun dengan ketimpangan dan kesenjangan yang menganga, Glenn mengajak pentingnya untuk kembali membangun Indonesia menjadi Indonesia bersama dengan kembali secara serius memikirkan nasib Indonesia Timur. Dan hal itu dimungkinkan jika elit-elit Indonesia bukan hanya melihat dengan mata tetapi juga dengan hati. “Dengan VOTE kita bukan hanya mengajak masyarakat untuk berpikir, tetapi juga mengajak masyarakat untuk melihat dengan hati,” katanya.

Dengan keprihatinan yang begitu mendalam atas nasib Indonesia Timur, Glenn bersama Marzuki Mohamad menciptakan lagu yang diberi judul Tanah Perjanjian yang ia bawakan dalam berbagai kesempatan acara VOTE. Dalam lagu tentang Papua itu keduanya menegaskan diri sebagai suara, sebagaimana slogan VOTE: I’m the Voice.

Tibalah waktunya aku bersuara
Untuk saudaraku suara pembebasan

Keadilan sosial semestinya terbagi rata
Tak memandang kulit, kelas bahkan bola mata

Persatuan tak tercapai dengan laras senjata
Perdamaian tak tercapai dengan secara paksa

Tanah perjanjian harusnya tertanam Pancasila

Negeriku semestinya adil dan sejahtera

Dengan lirik dan syair yang demikian kuat bermuatan sosial, Glenn sepertinya akan menapaki babak baru dalam hidupnya. Bukan hanya sebagai musisi, tetapi sekaligus aktifis kemanusiaan. Di Eropa-Amerika, musisi seperti Bono dan aktor seperti Matt Damond dan George Clooney dalam beberapa tahun terakhir telah menjadi separuh artis-separuh aktifis, dan Glenn serta musisi-musisi yang tergabung dalam VOTE sepertinya akan memasuki lintasan yang sama. Sehingga dalam beberapa tahun ke depan, kita bisa berharap artis-artis dan musisi kita bukan hanya asyik dengan dunia panggung dan pertunjukan, tetapi juga peduli dengan berbagai persoalan lingkungan.

Dengan demikian, setelah era Iwan Fals dan Franky Sahilatua, kita berharap akan muncul lagi lagu-lagu yang bertemakan sosial seperti lagu Suara Kemiskinan ciptaan Franky Sahilatua yang sering dinyanyikan Edo Kondolongit dan Glenn di berbagai kesempatan,

Kami tidur di atas emas
berenang di atas minyak
tapi bukan kami punya

 

*) Savic Ali dan Kristian Erdianto; Tulisan lama yang diambil dari Majalah VOICE+.

Komentar