oleh

Jakob Oetama; Pastor, Guru, Jurnalis

Jakob Oetama lahir di Magelang, Jawa Tengah, pada 27 September 1931.

Dikutip dari buku Syukur Tiada Akhir, Jakob Oetama merupakan putra pertama dari 13 bersaudara dari pasangan Raymundus Josef Sandiya Brotosoesiswo dan Margaretha Kartonah.

Jakob, yang lahir dengan nama asli Jakobus Oetama, awalnya bercita-cita menjadi seorang pastor, tetapi niatnya itu tidak terwujud.

Jakob berkeinginan untuk menjadi guru karena guru juga menjadi profesi dari sang ayah. Adapun ayah Jakob merupakan seorang guru sekolah rakyat (SR) yang selalu berpindah tugas.

Setelah lulus dari seminari menengah atau sekolah calon pastor setingkat SMA, Jakob sempat menempuh pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi ke seminari tinggi.

Namun, Jakob hanya menjalani masa studi di seminari tinggi sekitar tiga bulan.

Pergi ke Jakarta

Semenjak saat itu, Jakob memutuskan untuk merantau ke Jakarta guna mewujudkan cita-citanya menjadi guru seperti sang ayah.

Sesampainya di Jakarta, Jakob diminta untuk menemui kerabat sang ayah yang bernama Yohanes Yosep Supatmo pada 1952.

Untuk diketahui, Supatmo bukanlah guru, melainkan baru saja mendirikan Yayasan Pendidikan Budaya yang mengelola sekolah-sekolah budaya.

Jakob mendapat pekerjaan, tetapi bukan di sekolah yang dikelola Supatmo.

Dia mengajar di SMP Mardiyuwana, Cipanas, Jawa Barat, pada 1952 hingga 1953. Kemudian, Jakob pindah ke Sekolah Guru Bagian B di Lenteng Agung, Jakarta, pada 1953-1954.

Lalu, dia pindah lagi ke SMP Van Lith di Gunung Sahari pada 1954-1956. Sambil mengajar SMP, Jakob melanjutkan pendidikan tingkat tinggi.

Dia memilih kuliah B-1 Ilmu Sejarah, lalu melanjutkan ke Perguruan Tinggi Publisistik Jakarta serta Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada (UGM) hingga lulus pada 1961.

Tumbuh minat menulis

Belajar sejarah menumbuhkan minat Jakob untuk menulis. Persentuhannya dengan jurnalistik terjadi ketika dia mendapat pekerjaan sebagai sekretaris redaksi mingguan Penabur.

Karier Jakob Oetama di dunia jurnalistik bermula dari pekerjaan barunya sebagai redaktur majalah Penabur Jakarta.

Pada 1963, bersama rekan terbaiknya, almarhum Petrus Kanisius Ojong (PK Ojong), Jakob Oetama menerbitkan majalah Intisari yang menjadi cikal-bakal Kompas Gramedia.

Kepekaannya pada masalah manusia dan kemanusiaanlah yang kemudian menjadi spiritualitas Harian Kompas, yang terbit pertama kali pada 1965.

Hingga lebih dari setengah abad kemudian, Kompas Gramedia berkembang menjadi bisnis multi-industri, Jakob Oetama tidak pernah melepas identitas dirinya sebagai seorang wartawan.

Baginya, “Wartawan adalah profesi, tetapi pengusaha karena keberuntungan.”

Semasa hidup, Jakob Oetama dikenal sebagai sosok sederhana yang selalu mengutamakan kejujuran, integritas, rasa syukur, dan humanisme.

Di mata karyawan, ia dipandang sebagai pimpinan yang “nguwongke” dan tidak pernah menonjolkan status atau kedudukannya.

Almarhum berpegang teguh pada nilai humanisme transendental yang ditanamkannya sebagai fondasi Kompas Gramedia.

Idealisme dan falsafah hidupnya telah diterapkan dalam setiap sayap bisnis Kompas Gramedia yang mengarah pada satu tujuan utama, yaitu mencerdaskan kehidupan Bangsa Indonesia.

Penghargaan

Berikut sederet penghargaan yang pernah didapatkan Jakob Oetama semasa hidupnya, dikutip dari Kompas.id:

  • 1973

Bintang Mahaputera Utama dari Pemerintah RI

  • 1994

Wira Karya Kencana dari Kantor Menteri Negara Kependudukan/Kepala BKKBN karena dianggap telah berjasa dalam Gerakan KB Nasional

  • 2003

Anugerah Doktor Honoris Causa dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

  • 2004

Chief Executive Officer (CEO) Terbaik Tahun 2003 dari Majalah SWA, Synovate Research Reinvented, dan Dunamis

  • 2005

Entrepreneur of The Year dari Ernst & Young Penghargaan dari Tiga Pilar Kemitraan berkaitan dengan Hari Antikorupsi Alumnus Teladan dari Universitas Gadjah Mada dalam Rangka Dies Natalis ke-56, Yogyakarta

  • 2006

World Entrepreneur of the Year Academy 2006 dari Ernst & Young, Monaco

  • 2007

Lifetime Achievement Award dari Bank BRI

  • 2008

Lifetime Achievement Award dari PWI

  • 2009

Bintang jasa “The Order of The Rising Sun, Gold Rays with Neck Ribbon” dari Pemerintah Jepang

  • 9 Februari 2010

Number One Press Card dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI)

  • 24 Maret 2010

Bintang Jasa The Order of The Rising Sun dan Gold Rays with Neck Ribbon dari Pemerintah Jepang

  • 18 Agustus 2010

Soegeng Sarjadi Award on Lifetime Achievement

  • 19 April 2011

Medali Emas Spirit Jurnalisme dari Komunitas Hari Pers Nasional 2011

  • 16 Oktober 2011

Tokoh berpengaruh penting dalam menyebarkan semangat dan kecakapan kewirausahaan bidang sosial dalam Ciputra Award

  • 13 Juli 2012

Penghargaan Pengabdian 30 Tahun Tokoh Pers di Industri Media Cetak dari Serikat Perusahaan Pers (SPS)

  • 10 Januari 2013

Jakob Oetama dinilai berkontribusi besar terhadap perkembangan media di Tanah Air, sekaligus mematangkan media massa untuk memperkuat demokrasi di Indonesia sehingga mendapat award di ajang Paramadina Award dari Universitas Paramadina

  • 4 Juli 2013

Asia Communication Award dari Asian Media Information and Communication Centre (AMIC)

  • 12 Juli 2013

Lifetime Award dari Asian Publishing Convention

  • 5 September 2014

Gelar doktor kehormatan (honoris causa) dari Universitas Sebelas Maret UNS), Surakarta

  • 8 Desember 2015

Life Time Achievement Award dari Tahir Foundation

  • 3 Februari 2017

Penghargaan Lifetime Achievement Awards dari SPS

  • 13 Mei 2017

Lifetime Achievement Award dari Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Pendiri Kompas Gramedia sekaligus Pemimpin Umum Harian KompasJakob Oetama (88), meninggal dunia di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading, Jakarta Utara, Rabu (9/9/2020).

Jakob Oetama mengawali kariernya sebagai seorang guru.

Namun, dia kemudian memilih jalan sebagai wartawan hingga kemudian mendirikan jaringan media terbesar, Kompas Gramedia, bersama rekannya, PK Ojong. (kompas.com)

Komentar