oleh

Akhir Ziarah si Mas ‘Putar Kopi, Kah?’

ROBERTUS Cahyo Adji Hargana. Mas Cahyo Adji, nama ringkasnya. Di kalangan rekan-rekan redaksi OZON, majalah bulanan yang ia ikut rintis, kami menyapanya mas Cahyo. Ia yang mengajukan OZON sebagai nama majalah yang concern di bidang lingkunan hidup. Pak Karel Danoriku, pemilik Yayasan Cahaya Reformasi Semesta, yang menerbitkan OZON menghadiahi Cahyo Rp. 50 ribu. Uang itu tanda terma kasih Pak Karel, pria asal kampung Todo, Manggarai Barat. Base camp alias alamat sementara kantor redaksi OZON menempati sebuah rumah tua di samping kediaman resmi Wakil Presiden RI, tak jauh dari Taman Suropati, Menteng, Jakarta Pusat.

“Saya percayakan kamu sebagai Redaktur Pelaksana OZON. Rubrikasi dan urusan content saya percayakan kamu dan teman-teman. Saya butuh teman Anda yang eks seminaris agar bisa membantu kamu menerjemahkan dokumen-dokumen Perserikatan Bangaa-Bangsa terkait isu-isu lingkungan hidup global. Kita harus ikut membantu Pemerntah Indonesia kampanye masalah perlindungan lingkungan hidup melalui media untuk kelangsungan hidup umat manusia,” kata Pemimpin Redaksi kraeng tua Karel Danoriku kepada saya.

Cahyo adalah salah satu sahabat baik yang saya kenal lewat Djoko Murnantyo, mahasiswa ekstension Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta. Beberapa kali kami bertemu saat saya belum bergabung di OZON. Demi mengamankan amanah Pak Karel, saya juga tak mengalami kesulitan mencari rekan-rekan di jajaran redaksi untuk memperkuat kerja-kerja kami di awal-awal majalah terbit. Apalagi dengan latar sekolah calon pastor seperti mas Cahyo. Melalui Cahyo, ada sejumlah teman di jajaran redaksi dengan pengetahuan dan pengalaman mumpuni. “Ada juga teman saya Justinus Dwi Hartono, Franz Pagono dan Dion Pare. Saya pikir ilmu dan kemampuan menulis tak diragukan. Yustinus lulusan Sarjana Muda Filsafat dari Roma. Kalau Bapak Dion dari Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero. Kraeng tentu tahu kampus itu,” kata mas Cahyo bergurau.

Saya sendiri tak kesulitan menyodorkan nama Yustinus Ade Stirman, Triwinarsiyati Achie Triwin, Natalia Natalina Harianja, dan Subekti. Yustinus Stirman lama menjadi wartawan di Surabaya yang kerap menulis kasus pencemaran lingkungan di Pantai Kenjeran Surabaya. Sedang Natalina, Triwinarsiyati Achie Nayla, dan Subekti pernah sama-sama menjadi wartawan Tabloit LAJUR. Subekti adalah fotografer yang bekerja cepat dengan nilai foto yang tinggi saat dijadikan ilustrasi setiap majalah terbit. “Saya mengendap di banjir dan menunggu momen bagus saat Presiden Megawati Soekarnoputeri dan Gubernur DKI Sutiyoso jalan di tengah banjir, mas? Sampe ada anggota Paspampres tegur dan usir saya. Tapi, Alhamdulilah. Kita punya dokumen foto bagus untuk OZON edisi banjir Jakarta,” kata Subekti, kini fotografer TEMPO yang ngepos di Istana Negara, Medan Merdeka. “Covernya kita pakai foto Bu Mega dan Pak Sutiyoso lagi jalan di tengah banjir mengunjungi warga. Saya pikir ini foto dengan nilai jual tinggi,” kata Cahyo saat rapat redaksi.

Akrab

Saya dan mas Cahyo arab sejak awal bertemu. Rumah kerabat di Rawasari, belakang Sekolah Tinggi Manajemen Transportasi (STMT) Trisakti selalu ia sambangi di sela-sela kami menuntaskan majalah OZON setiap awal bulan. Selain mengajak beliau sekadar ngobrol bareng, ia pernah tertawa saat saya ajak beliau mampir setelah ada kiriman jagung titi (emping), kopi Boto, dan ikan pari kering dari Boto, kampung halaman di Kecamatan Nagawutun, Lembata. “Kebetulan ada jagung titi dan ikan pari kering dari kampung. Pas mas Cahyo santai saya putar kopi di mok besar kita minum sama-sama,” kata saya kepada mas Cahyo. “Putar kopi kah? Putar kopi kah. Kau bisa putar kopi kah,” kata mas Cahyo bertanya. Ia ketawa ngakak. Saya belum paham. Apakah saya salah menyebut “putar kopi”, saya bertanya-tanya dalam hati. Kalau bukan “putar kopi”, ya “bekin kopi”. Salahku opo?

Kisah istilah “putar kopi” pun juga sering saya ucapkan kepada rekan-rekan seperti Franz Pagono, Yustinus Stirman, Djoko Murnantyo, Dion Pare atau Parlindungan Sihotang, teman-teman di redaksi. “Putar kopi” menjadi pertanyaan wajib kalau saya ajak Cahyo ke rumah kerabat di Rawasari atau di sekitar kompleks PWI Cipinang Muara, rumah kontrakan yang saya tempati selama hampir tiga tahun saat bekerja di OZON. “Kalau naskahmu sudah beres, kita pigi kau punya kos. Kau putar kopi lalu rebus ubi kayu kita makan,” kata mas Cahyo. Kebetulan redaksi OZON di bilangan Ros Merah tak jauh dari kontrakan. Kami lebih mudah santai setelah tugas selesai kami kerjakan. Karena itu, baik isteri dan anak saya menganggap mas Cahyo seperti keluarga sendiri. Saya putar kopi dan beli singkong sekadar kami nikmati bersama. Tapi, sahabat baik ini malah memberikan uang belanja. “Kali ini Redaktur Pelaksana OZON meng-handle urusan biaya putar kopi dan beli ubi kayu,” katanya sembari tertawa saat ia mengganti posisi saya sebagai redaktur pelaksana.

Usai resign dari OZON kami masih berkomunikasi. Nomor telepon rumah mertua di sekitar kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, ia beri. Isterinya, mba Devi dan mas Ulung, sang putra, juga saya kenal baik. Beberapa kali ia ajak ke rumah mertuanya saat ia menjabat Redaktur Pelaksana EVEN GUIDE, majalah internal Jakarta International Expo, pengelola Pekan Raya Jakarta milik pengusaha nasional Murdaya Poo. “Nanti saya putar kopi kita minum sambil berbagi cerita dari tempat kerja masing-masing,” kata mas Cahyo. Dari sini, Tuhan sungguh baik dalam banyak hal melalui mas Cahyo. “Baiknya adìkmu tinggal saja dengan orangtua saya di daerah Condong Catur, Sleman. Tinggal tidak usah bayar. Saya sudah beritahu bapa saya. Adikmu Nikodemus Ola Klobor tinggal dengan mereka. Kalau kuliah di Univeritas Pembangunan Veteran, tinggal jalan kaki ke kampus. Kan murah meriah,” kata mas Cahyo.

Ke Lembata

Pius Kia Tapoona, praktisi asuransi nasional dan dosen Unika Atma Jaya adalah orang yang berperan membuat mas Cahyo bisa sampai di Lamalera, kampung halamannya. Juga Boto, tanah kelahiran saya, Lembata. Pius pingin membiayai dua wartawan terbang ke Lembata via Kupang. Bele Korohama Marselus Blikololong tahu saya lama di media. Ia meminta saya mencari satu lagi wartawan ikut ke Lembata untuk peresmian Bade Ile Gole, perahu milik Pius yang dikelola Alo Geneser Tapoona, sang kaka yang juga seorang lamafa. “Kalau mas Cahyo sudah siap, kabarin agar sayà booking tiket Jakarta-Kupang-Lewoleba. Urusan makan minum di jalan, kaka Pius sudah serahkan ke saya. Kita tinggal kita ketemu di bandara Soekarno Hatta. Di Kupang, kita nginap di Hotel Kristal dan besok pagi lanjut ke bandara Wunopito,” kata Marsel Korohama.

Tiga hari di Lembata adalah waktù berharga bagi kami. Di Lamalera dan Cahyo mengikuti prosesi adat Bade Ile Gole sebelum digunakan secara resmi untuk pigi lefa, berburuh paus di laut Sawu. Cahyo pun ikut naik di atas badan Bade Ile Gole yang bertolak dari Lamalera menuju Wulandoni sekadar ujicoba perahu mini. Kala itu matahari panas membakar. Jurnalis ini rupanya belum tahu bagaimana akibat panas yang membakar di atas laut di bibir pantai nelayan yang sudah menjadi destinasi wisata dunia itu. “Badan saya seluruhnya terbakar. Rasanya perih. Tapi kata mereka, tidak boleh digaruk. Nanti luka,” kata mas Cahyo saat kami nikmati kopi manis Boto yang diputar adik perempuan saya. “Seumur-umur saya minum kopi pagi sambil menikmati alpukat matang dari pohon. Luar biasa indah Lembata. Cuma jalan dari Lewoĺeba menuju Lamalera sangat buruk. Padahal, di wilayah ini daerahnya sangat potensial baik tanaman niaga maupun pertanian. Masalah jalan perlu menjadi perhatian bupati setelah masa tugas Pak Ande Manuk,” kata Cahyo saat kami ngopi di dusun Kluang (Boto).

Beberapa waktu lalu, sahabat baik Yustinus Dwi Hartono mengabarkan bahwa Cahyo dirawat di sebuah rumah sakit di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara. Cahyo terserang stroke ringan di sela-sela mengurus Uwong Coffee, cafe sekaligus cottaege miliknya di Yogyakartà. Beberapa kali, ia menyampaikan kalau saya berkesempatan ke Jogja bisa mampir agar ia juga mau putar kopi sambil diskusi banyak hal. Ia juga menawarkan kalau ada adik-adik dari Lembata kuliah di Jogja, mampir saja di kafenya. Sakit yang diderita mas Cahyo rupanya mematahkan ziarah hidupnya.

Stroke ringan dan musim pandemi Covid-19, oleh dokter disarankan agar keluarga maupun kerabat untuk sementara tak mengunjungi beliau. “Semalam kondisi malah lebih menurun. Ada penggumpalan darah di otak dan perlu scan. Biayanya sangat mahal,” kata Mas Dwi Hartono. “Ah, kantan. Doa untukmu, Cak,” kata J Heru Margianto, Redaktur Pelaksana Kompas.com, bekas wartawan OZON. Cak Kantan adalah sapaan lain mas Cahyo setelah ia menulis bekantan, monyet khas Kalimantan yang suka menggoyang-goyangkan pinggul saat musim kawin. Selamat jalan, mas ‘Putar Kopi kah?’, sahabat baik. Terima kasih atas kebaikanmu. Terima kasih sudah sudi mampir di Lembata dan boleh sama-sama putar kopi sambil nikmati alpukat segar. Semoga mba Devi, isterimu dan anak-anak beroleh penghiburan. Damailah di sisi-Nya. Berkah Dalem.

 

Jakarta, 19 April 2021
Oleh: Ansel Deri

Komentar