oleh

Bangga Menjadi Anak Tokoh Buruh Muchtar Pakpahan (1)

AIR mata saya masih mengalir ketika hendak menulis refleksi ini. Saya sadar bahwa duka yang saya rasakan akan kepergian ayah yang sangat saya kasihi juga bercampur haru melihat begitu banyaknya orang yang masih mengingat jasa dan perjuangannya terhadap kaum buruh Indonesia dan dunia. Sejak ayah meninggal dunia, dan saya masuk ke ruang N Rumah Duka RSPAD Gatot Subroto Senin dinihari, saya tidak pernah lagi keluar sampai Senin malam. Ketika kami akan kembali ke rumah untuk beristirahat sejenak, saya melihat begitu banyak karangan bunga ucapan turut berduka di rumah duka sampai ke gerbang. Saya juga menerima forward klip berita online tentang berita mengenai ayah, dan saya kembali meneteskan air mata, sambil mengucap, “Lihat ini ayah, mereka tidak melupakan perjuanganmu!” Tulisan ini, atau rangkaian tulisan yang akan saya buat, adalah catatan perjalanan seorang anak tokoh buruh dunia, yang sepanjang hidupnya – bahkan hingga ujungnya, terus berjuang untuk buruh.

Ketika saya mendapat kesempatan bicara berdua minggu lalu, 14 Maret, 2021, beliau mengucapkan bahwa satu hal yang masih disesalinya adalah nasib buruh yang mungkin akan bertambah buruk dengan UU Cipta Kerja. Hal ini ternyata menambah kesusahan hatinya, karena dia merasa tidak berhasil dalam memperjuangkan nasib buruh yang dibelanya. Saya sendiri berefleksi, apakah beban pikiran ini juga yang kembali membuatnya kembali sakit, cancernya yang sampai Januari 2020 dinyatakan bersih, ternyata relapse. Namun, tulisan ini ingin menunjukkan sisi kami, istri dan anak-anak Muchtar Pakpahan, yang ikut berjuang bersamanya. Saya juga ingin mencatat memori saya akan ayah, agar semua cucunya nanti bisa membaca siapa ompung mereka, dan generasi masa depan mengetahui apa yang dia perbuat.

Berbagai kisah yang ingin saya bagi adalah kelembutan hatinya sebagai ayah, dan ketegasannya dalam melawan pemerintahan Orde Baru. Saya juga ingin menampilkan sisi lain Muchtar Pakpahan yang hanya kami keluarga yang rasakan dan alami langsung.

Kisah pertama yang datang ke ingatan saya adalah dilema Ayah ketika anaknya ikut demonstrasi.

Ayah senang sekali ketika saya memutuskan untuk mengikuti ujian masuk STT Jakarta (sekarang menjadi Sekolah Tinggi Filsafat Theologi Jakarta – STFT Jakarta) di tahun 1998. Beliau baru keluar dari penjara waktu itu, setelah Presiden Soeharto turun di periode Reformasi 1998. Ketika mengambil formulir pendaftaran, beliau mengantar saya ke kantor BAA STT Jakarta, dan Ketua STT Jakarta waktu itu, Dr. Jan S. Aritonang melihatnya, lalu menyambutnya dan mengajak ayah ke ruangannya. Alhasil, tinggallah saya sendiri menunggu dia di kantor BAA. Saya sudah sering mendengar dia mengatakan, “Temanku itu” atau “Dulu kami pernah sama-sama” setiap saya menyebutkan sebuah nama yang ingin saya temui. Saya sering merasa, “Orangtua ini sok tahu dan sok akrab,” ketika kata-kata itu keluar dari dia. Lambat laun, masih lama setelah 1998, saya baru sadar bahwa ayah memang serius tentang mengenal banyak orang. Jadi, ketika ayah keluar dari ruang Ketua, saya bilang, “Jangan macam-macam ya ayah, aku mau lulus atas hasil sendiri.”

Sebagai anak orang terkenal waktu itu, pada 1998, hampir setiap hari berita koran nasional menyebut nama ayah saya, beban yang kami rasa cukup berat. Saya selalu dikenal sebagai anak Muchtar Pakpahan. Bahkan, salah satu pertanyaan ujian masuk STT Jakarta bagian pengetahuan umum memberi soal, “Apa nama organisasi buruh yang dipimpin oleh Muchtar Pakpahan?” Nasib anak-anak tokoh adalah bayang-bayang nama besar orangtua akan selalu ada sehingga kami harus membuat karya sendiri untuk bisa keluar dari nama tersebut. Jika berhasil pun, orang akan mengatakan, “dia berhasil karena Bapaknya” atau kalau gagal, “kenapa ya dia tidak bisa seperti Bapaknya?” Pokoknya serba salah. Reputasi ini terus melekat, bahkan ketika masuk ke dunia yang sama sekali berbeda, teologi. Buktinya, waktu masa Ospek mahasiswa baru, saya sering mendengar kakak kelas mengatakan, “Mana anak Muchtar Pakpahan itu?” lalu memberi tugas yang tidak masuk akal ke saya, seperti merayu pohon (waktu itu, memang pola ospek masih seperti itu). Saya pikir, “it’s going to be a long period…”

Setelah ospek, demonstrasi masih marak di jalanan menuntut perubahan. Mahasiswa mencoba menjaga momentum Reformasi dan menuntut pemerintahan Presiden B. J. Habibie untuk meletakkan dasar demokrasi dan mendesak penyelenggaraan Pemilihan Umum. Mahasiswa STT Jakarta juga ikut dalam pergerakan ini, dan sebagai anak “tokoh buruh” yang notabene sering mensponsori demonstrasi, saya juga merasakan panggilan alami untuk ikut demonstrasi. Mahasiswa STT Jakarta masuk dalam gerakan Forum Kota, yang salah satu simpul nasionalnya adalah bang Adian Napitupulu. Sebagai mahasiswa teologi, kami kerap kali berada di barisan depan demonstrasi, bersama dengan teman-teman mahasiswa IAIN Syarif Hidayatullah (sekarang UIN). Mungkin, kami diminta untuk menjadi barisan pendoa. Tapi, pendoa barisan Forkot ini cukup frontal juga, karena ada di depan, setahu saya pendoa harusnya di belakang. Saya langsung ikut berbagai demonstrasi 1998. Sebagai barisan depan, kami berhadapan langsung dengan macam-macam blokade demonstrasi, mulai dari tameng polisi sampai pasukan kuda. Biasanya kalau sudah begini, kami berdoa di depan mereka, agak demonstratrif juga, namanya juga jurusan rohani. Mama saya cukup sering melarang saya, karena khawatir akan anaknya. Mungkin dia pikir, “Ini anak masuk teologi kok demo juga seperti ayahnya.” Bukan hanya demo, saya juga sering membawa mobil ayah ikut demo sebagai bagian dari logistik. Mobil Daihatsu Zebra merah ayah sering saya bawa untuk logistik demo, sambil tidak lupa membubuhi tanda palang merah.

Satu demonstrasi agak spesial, karena mama melarang saya pergi membawa mobil. Ayah mengatakan biarlah dia pergi. Ketika saya akhirnya pergi, demonstrasi menuntut agenda reformasi berujung ke Tragedi Semanggi November 1998. Kami melakukan aksi di atas jembatan pejompongan menuju gedung MPR/DPR. Jalan diblokade, dan mobil saya diparkir persis di atas jembatan, parkir bersama mobil logistik lainnya. Saya sendiri seperti biasa posisi mahasiswa STT, pergi ke garis depan. Di sana kami menemui barikade tameng dan kuda polisi. Barisan mahasiswa STT tidak terlalu provokatif, maklum kami anak yang berlaku teologis (apapun artinya itu), dan sering mengajak polisi berbicara. Namun, situasiyang tadinya kondusif berbalik menjadi chaos. Perintah pembubaran memukul mundur mahasiswa, saya lari namun merasakan juga beberapa kali pentungan di punggung saya karena kami paling dekat dengan barisan terdepan polisi. Mobil saya tinggalkan, yang penting selamat dulu. Kami lari ke gang-gang yang ada di daerah Pejompongan, dengan mengoleskan odol di bawah mata untuk mengurangi efek gas air mata.

Ternyata peristiwa tersebut masuk TV nasional. Mama saya menyaksikan mobil ayah terkena pentungan dan kondisi kaca pecah justru dari televisi. Saya bertelepon ke rumah dengan rasa gentar bukan karena baru kena pukul pentungan, namun untuk memberi kabar bahwa saya kehilangan mobil selagi demo. Mama dan ayah mengatakan bahwa mereka justru tahu mobil ada di mana. Asisten ayah saya pergi menjemput mobil ke kantor polisi yang sudah dalam kondisi kaca pecah. Di luar dugaan saya, Mama dan Ayah justru mengkhawatirkan saya, “Bagaimana kabarmu amang?” kata mereka.

Besoknya, saya mau pergi demo lagi. Korban jiwa mahasiswa ternyata ada dalam peristiwa sebelumnya.Eskalasi situasi sudah menjadi buruk. Forkot merencanakan demo besar, dan saya mau ikut lagi. Saya minta izin lagi ke ayah dan mama. Di sinilah saya merasakan jiwa perjuangan ayah. Ayah berkata ke mama, “Jangan larang lagi dia ma, nanti kalau dilarang justru terjadi apa-apa, bilang saja hati-hati ya, dan doakan keselamatannya. Perjuangan mahasiswa ini penting.” Akhirnya mereka berdua mengizinkan saya pergi.

Ayah memang selalu mendukung perjuangan untuk idealisme, apa pun harganya. Pada masanya, jalur menyampaikan aspirasi memang mentok, sehingga aksi demonstrasi diperlukan untuk membuka ruang dialog. Saya belajar banyak dari ayah mengenai berani memperjuangkan apa yang benar, apa pun risikonya. Bahkan ketika mengetahui risiko yang akan saya ambil dalam demonstrasi, ayah mendukung perjuangan kebenaran. Mama mengajari saya untuk berhati-hati dan berdoa. Entah bagaimana kedua orangtua saya menjadi satu campuran yang pas, satu pendemo satu pendoa. Katanya waktu mereka berdua anggota GMKI Medan, mereka ada dalam dua golongan yang berbeda, ayah di golongan aksi dan mama di golongan doa. Dua golongan ini menghasilkan kami anak-anak mereka.

Sejak kecil, ayah dan mama mengajari kami untuk peduli kepada rakyat kecil. Kami sering diajak untuk mengikuti mereka dalam perjuangan mereka. Waktu saya umur 3 atau 4, saya ingat samar-samar, yang dipertegas oleh foto-foto lama keluarga di mana kami ikut dibawa ke kampung-kampung (bahkan ada satu foto saya sepertinya takut akan babi), bahwa ayah selalu bilang ketika kami pergi mengunjungi daerah yang dia berikan advokasi dan mengatakan, “Kita harus peduli kepada mereka yang menerima ketidakadilan, karena itu tugas kita dari Tuhan, kita juga adalah rakyat, sesama rakyat harus saling membela.” Ucapan ini dipegangnya, dan diperjuangkannya dengan risiko maut sekali pun. Karena itu, ketika saya pergi demonstrasi sebagai mahasiswa tingkat 1, dengan risiko tinggi, dia tetap melepas kepergian saya.

Saya masih ingat kisah ketika saya melihat sendiri nyawanya diancam karena perjuangannya, dan dia tidak gentar. Kejadian ini seperti film intelijen ala James Bond yang akan saya tulis di catatan berikutnya.

 

Oleh: Pdt. Binsar Jonathan Pakpahan

Komentar

Jangan Lewatkan