oleh

Gembala Baik Itu Pergi ke rumah-Nya via Kupang

SUATU malam pesan singkat (short message service/SMS) itu muncul. Disertai foto. Dari Ceger, Cipayung, Jakarta Timur. Pesan singkat itu mengabarkan Romo Bernardus Kebesa Kedang Pr, Pastor Paroki Santu Joseph Boto, Dekanat Lembata, Keuskupan Larantuka, ada di Ceger. Duduk berdampingan dengan kaka Doni Paulus Ruing, si pengirim pesan. Bahagia, tentunya setelah tahu kabar Romo Bernard Kedang tengah di Jakarta.

“Maaf, saya lupa beritau bele dengan bonsu Peter, ama John dan ama Pius. Tapi pasti tite herun (ketemu), bele,” kata bele tuan Nadus dari balik telepon. “Alus ka pe, bele,” kata saya.

Bonsu yang dimaksud ialah kaka Petrus Bala Pattyona, sesepuh kami dari Boto. Sedang John dan Pius yang dimaksud adalah John Laba Wujon serta Pius Klobor, sesama orang kampung dari Boto. “Coba tanya bapa Romo kapan waktunya kita ketemu kalau urusan bapa Romo beres,” kata kaka Petrus setelah kabar keberadaan bele tuan Nadus segera saya infokan ke Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan.

“Bapa tuan nanti kontrol kesehatan di Rumah Sakit Sint Carolus. Saya akan cek lewat kaka Polce. Kapan waktunya bisa janjian bareng John dan Pius ketemu di Carolus,” kata saya kepada kaka Petrus Bala Pattyona.

Beberapa hari setelah bele tuan Nadus istirahat, kaka Petrus meminta kita ketemuan di Carolus, Jalan Salemba Raya. Sekalian bisa ngobrol santai dengan imam kelahiran kampung nelayan Lamalera ini. Saya segera menghubungi John di kantornya, kompleks KWI Jalan Cut Mutiah, Menteng Jakarta Pusat.

“Saya menyesuaikan saja, kaka. Usai kantor saya meluncur ke Carolus. Pius kayanya ngga bisa. Masih ada tugas dari kantor. Kita bertiga dulu ketemu di sana. Jam 03.00 saya sudah di Carolus,” kata ade John.

“Wah, saya juga pas mau meluncur lagi ke sana. Kita bisa cerita dan semangati Romo agar beliau makan minum obat teratur sesuai anjuran dokter, tetap semangat agar segera kembali melayani umatnya di Boto,” ujar kaka Polce Ruing.

Kontrol biasa

Setelah keluar pintu lift di lantai 3 RS Sint Carolus segera melapor diri di suster petugas jaga. Melapor diri agar petugas segera mengarahkan ke kamar nomor berapa pasien yang hendak dibesuk. “Mau besuk bapa tuan Nadus. Tuan Nadus dari Boto. Romo Paroki kami di kampung,” kata saya. Si petugas jaga terdiam sejenak. Senyum-senyum. “Siapa nama lengkap pasien?” tanya petugas sambil melihat para pasien penghuni. “Pastor Bernardus Kebesa Kedang Pr? Tuan Nadus ngga ada,” katanya. “Ralat bu. Nama itu yang saya maksud. Lupa. Maaf, ya?. Lidah saya masih agak kaku,” kata saya. Petugasnya saya liat senyum-senyum. Apa karena omongan saya “lidah masih kaku” yang saya lepas tadi.

Masuk dalam ruang perawatan tuan Bernard, ada dua suster biarawati dari Lamalera yang lagi ngobrol dengan tuan Nadus. “Selamat sore, bele tuan. Selamat bertemu. Kabar nani ga?” kata saya. Kabar nani ga, bagaimana kabar.

“Melangen, baik,” kata bele tuan Nadus. “Saya ijin Bapa Uskup agar kontrol kesehatan dulu. Keliling stasi-stasi di Boto, mungkin cape jadi saya ijin kontrol dulu di Carolus. Kontrol biasa agar pas pulang bisa layani lagi umat dalam kondisi sehat selalu,” katanya.

“Lebih bagus lagi, bele. Medan pelayanan kita di Boto tentu menguras tenaga jadi tubuh perlu juga sehat agar lebih maksimal dalam pelayanan,” kata saya. “Sebentar lagi kaka bonsu dan ade John bergabung. Piua masih ada tugas jadi belum bisa bergabung kali ini,” kata saya lagi.

Tak lama, kaka Polce, kaka Petrus dan ade John bergabung. Juga ina Ethy Bataona, perawat asal Lamalera yang bekerja di RS St Carolus. Sungguh perjumpaan membahagiakan bagi kami semua sesama orang kampung karena saling berbagi pengalaman dan meneguhkan satu sama lain. Cerita kembali Boto di lereng Labalekan, wilayah paroki yang meliputi sejumlah stasi/desa yang berjauhan satu sama lain. Misanya, stasi Bata, Belame, Lamalewar, Liwulagang, Atawai, Boto (Kwcamatan Nagawutun), Puor, Bamut, Imulolong, dan Posiwatu (Kecamatan Wulandoni).

“Kapan bapa Romo check out, nanti kita kaka ade semua dari kampung ngobrol santai di rumah Ciganjur. Bapa Romo makan dan minum obat teratur agar cepat keluar. Istirahat satu dua hari baru pulang kampung,” kata bonsu Petrus.

Namun, agenda bertemu tanggal. Romo Bernard Kedang segera terbang kembali ke Kupang. Berbagai tugas menantinya. Beliau sangat dirindukan umat paroki agar segera berada di tengah mereka. “Setiap hari mereka mengirim doa agar saya lekas sembuh. Tuhan sungguh baik. Doa dan perhatian umat menambah semangat saya. Dalam doa saya juga ingat mereka semua agar tetap semangat juga dalam kehidupan sosial keagamaan,” katanya.

Kadang pula ia tertawa mendengar cerita tempo doeloe dari kaka Petrus. Cerita bagaimana semangat para pastor yang pernah berkarya di paroki kami seperti tuan Lambertus Paji Seran SVD, tuan Tarsisius Tupeng Pr, tuan Nicholas Strawn SVD, tuan Elias Pali Werang Pr, tuan Piet Dua Maing Pr, dan beberapa imam sebelumnya yang menjalani TOP di Boto.

Beberapa waktu lalu, reu Jos Diaz Beraona, kerabat tuan Nadus mengabarkan saya kalau tuan Nadus berada di Kupang, Timor. Tuan Nadus menjalani medical chekc up akibat sakit yang diderita. Jos, sahabat baik ini bolak balik rumahnya ke Rumah Sakit WZ Johannes Kupang. Menurut reu Jos, tuan Nadus menjalani pemeriksaan medis. Hasil diagnosa menyebut tuan Nadus menderita sakit ginjal sehingga dokter menyarankan imam kami ini menjalani cuci darah rutin.

“Reu bisa sampaikan orangtua, bapa mama kaka ade semua asal Boto di grup WA bantu doa agar kalau Romo menjalani cuci darah, prosesnya berjalan lancar. Kita semua doa dan berserah agar Tuhan menunjukkan jalan-Nya,” kata Jos.

Kabar itu segera saya sebar di grup WA Boto, Klua & Belabaja (BKB). Pertanyaan meluncur soal kondisi terakhir Romo Bernard Kedang. Saya segera menyampaikan bahwa bapa tuan Nadus akan menjalani cuci darah kalau itu sudah jadi keputusan dokter. Saya mengirim pesan singkat ke kaka Petrus agar sebagai sesama umat stasi Boto di rantau, saya mengimbau kami semua ambil bagian selama tuan Nadus.

“Kita bantu beli rinso dan sabun mandi. Tentu ada yang cuci baju bapa Romo. Kita tambah-tambah juga beli buah mangga, pisang atau alpukat. Juga kalau ada keluarga bapa tuan mau antar baju tuan, kita bantu ongkosnya,” kata saya ke kaka Petrus.

“Kasi rekeningmu di grup lalu imbau kita semua ambil bagian. Segera agar kalau ada kaka ade mau ambil bagian, mereka bisa kirim lalu diteruskan ke Kupang. Kita doakan dan bantu bapa Romo agar beliau cepat semangat dan lekas sembuh,” kata kaka Petrus. “Setelah saya sampaikan ada kiriman dari kaka Petrus dan orangtua, kaka ade semua di grup beliau sampe menangis, reu. Beliau akan ingat selalu dalam doa meski tengah didera sakit,” kata Jos.

Sabtu pagi hari ini Jos mengabarkan Romo Bernadus Kebesa Kedang Pr, Pastor Paroki St Joseph Boto kembali ke rumah-Nya. Saudara maut menjemputnya di kota Karang tanpa didampingi umat kesayangannya di Boto. Selamat jalan, bapa tuan Nadus.

Terima kasih banyak atas karya pelayananmu bagi umat Paroki Boto. Mohon maaf bila ada kilaf, kesalahan kami umatmu baik di lefo maupun di rantau. Onek kame sedih, bele. Mengaji me soro kame ribu ratu teti Boto no lefo Lamalerap. Damailah di sisi-Nya.

 

Jakarta, 24 Juli 2021
Oleh: Ansel Deri
Orang udik dari kampung;
Umat asal Stasi Boto di Paroki Halim Perdanakusuma

Komentar

Jangan Lewatkan