oleh

Menteri di Timor Leste Alumni Undana Kupang

SELAMAT Ulang Tahun, kawan Adio. Semoga sehat selalu dan penuh berkat Tuhan. Hari ini kawan Adio, Wakil Ketua Fraksi Partido Democratico Parlemen Nasional Timor Leste, berulang tahun. Pada 2017 Adio pernah menjabat semacam Menteri Sekretaris Kabinet di Indonesia.

Ingatan saya kembali ke tempo doeloe. Kami seangkatan di Undana. Tahun 1991. Sama-sama di satu program studi. Sama-sama pula penikmat koran dan majalah. Kalau tak di ruang perpustakaan Undana, kami akan ke perpustakaan P dan K depan kampus lama.

Tatkala peringatan Konfrensi Asia-Afrika di Bandung beberapa tahun lalu dan kegiatan dilanjutkan di Jakarta, Adio juga hadir. Kala itu sebagai Wakil Ketua Parlemen Nasional Republik Demokratik Timor Leste ia bersama Presiden Timor Leste.

Tiga belas tahun lalu, Adio sempat di Jakarta dalam sebuah kunjungan resmi. Kami kontakan agar bisa bertemu di tengah kesibukan urusan kunjungan kenegaraan. “Kawan ke hotel agar kita ngobrol santai. Pas agenda resmi sudah selesai,” kata Adio, sapaan akrab Adriano do Nascimento.

Tentang bagaimana ia banting stir dari guru dan masuk gelanggang politik, ia ceritakan sekilas saat kami ngobrol sambil nostalgia saat beliau tinggal di kos-kosan semasa kuliah. Saya mencatat baik dan menulis di majalah HIDUP. Testimoni itu saya rampungkan dalam judul ‘Berpolitik dengan Semangat Kasih’. Berikut artikel yang saya share kembali bersamaan HUT Adio hari ini.
—————————————————————
Sejak terpilih menjadi anggota Parlemen Nasional Timor Leste 2007, politisi asal Kovalima tetap berusaha memainkan peran politik yang tetap menjunjungi tinggi nilai keadilan dan perdamaian dalam semangat cinta kasih.

“Ini yang menjadi impian saya saat mendapat kepercayaan duduk di Parlemen Nasional Timor Leste,” kata Adio, sapaan akrabnya.

Tokoh pejuang kemerdekaan Republik Demokratik Timor Leste Dr Jose Ramos Horta tertegun dan kagum menyaksikan penampilan Adriano do Nascimento di atas panggung di sebuah sudut kota di Dili, Timor Leste.

Saat itu, Adio berkampanye untuk Partido Democratico, partai yang ia ikut dirikan bersama sejumlah anak muda berpandangan jauh ke depan untuk Timor Leste.

“Saat turun dari atas panggung, Ramos memeluk saya. Beliau mengatakan baru kali ini menyaksikan seorang anak muda tampil begitu bagus berkampanye. Bahkan beliau menanyakan di mana saya belajar kampanye. Dalam hati, saya hanya pikir punya pengalaman pidato saat menjalani Mabim di Jalan Soeharto 20. Tak lebih dari itu,” kata Adio, Ketua Fraksi Partido Democratico (Partai Demokrat) Timor Leste kepada penulis, usai bersama anggota Parlemen Timor Leste bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara Jakarta, belum lama ini.

Mabim yang dimaksud Adio adalah masa bimbingan, sebuah jenjang pembinaan bagi para anggota baru di lingkungan PMKRI Santu Fransiskus Xaverius Cabang Kupang, NTT. Organisasi mahasiswa Katolik itu beralamat di Jalan Jenderal Soeharto No. 20 Naikoten, Kupang.

Sebelumnya, pelaksanaan kegiatan Masa Penerimaan Anggota Baru (MPAB) berlangsung di stasi Buraen, kurang lebih 10 KM dari Kupang. Saat mengkuti Mabim, para anggota diajar berpidato dan berdebat di depan ratusan rekan-rekannya.

Jadilah Adio memiliki ketrampilan dalam berbicara di depan forum. Begitu pula dengan berbagai pengalaman di tingkat internasional.

Sempat jadi guru

Setelah menyelesaikan sarjana Bahasa Inggris di FKIP Undana, Adio menjadi guru di Kovalima, tanah kelahirannya. Saat itu ia mengajar bidang studi Bahasa Inggris di SMA Katolik dan SMP Katolik Ave Maria Suai.

Berbagai problematika yang melilit daerahnya membuat sang guru Adio putar otak. Dalam hatinya, mesti ada sesuatu yang dikerjakan untuk ikut memberdayakan masyarakat terutama dalam mengelola konflik di masyarakat.

“Tahun 1998, saya dan beberapa rekan mendirikan Conflict Management Group/CMG. Melalui NGO ini kita ikut membantu masyarakat mengidentifikasi persoalan yang dihadapi dalam kehidupan bermasyarakat saat itu. Kemudian bagaimana kita juga mencari alternatif penyelesaiannya tetapi tetap dengan konsep perdamaian,” kata Adio.

Kematangan dalam berorganisasi memudahkan Adio melangkah lebih jauh. Misalnya, ia dipercaya menjadi Koordinator Bidang Politik CNRT Kabupaten Suai (saat itu). Namun, jabatan itu dipegang seumur jagung karena ia terbang ke Amerika untuk melanjutkan studi.

“Saat itu saya mendapat kesempatan studi peace building di Mennonite University dengan konsentrasi conflict resolution,” katanya.

Usai merampungkan studi di Mennonite University, ia juga terlibat dalam kampanye kemerdekaan Timor Leste. Bersama Ramos Horta ia melakukan kampanye di Amerika Serikat. Ia juga menjadi salah satu putra Timor Timur yang berkesempatan mengikuti Sidang PBB tahun 1998 di New York.

“Selama seminggu di New York, saya diminta mempresentasikan berbagai persoalan Timor Timur di Kantor Pusat PBB dan bagaimana menyelesaikan persoalan-persoalan tersebut. Saya juga dilibatkan untuk kampanye di beberapa negara di Eropa seperti Inggris, Irlandia, Spanyol, Portugis, dan Belgia. Setelah Timor Timur merdeka, saya kembali ke Australia dan ikut kampanye di sana,” katanya.

Setelah merdeka, Adio meninggalkan negeri Kangguru dan kembali ke Suai. Ia bersama rekan-rekannya melanjutkan Conflict Management Group, lembaga yang mereka dirikan. Panggilan guru yang kuat mendorongnya kembali mengajar di SMA Katolik Ave Maria Suai.

Sembari mengajar, ia menjadi District Advisor Council atau Badan Penasehat Distrik Untaet. “Saya juga mendapat tugas tambahan sebagai Koordinator Kerja Sama Suai dengan salah satu kota di Melbourne,” jelas Adio.

Dirikan partai politik

Panggilan membangun negerinya terus membuncah dalam hati. Pada saat Pemilu tahun 2000, Adio dan rekan-rekan mahasiswa yang pernah studi di Indonesia dan Timor Leste mulai memikirkan mendirikan sebuah partai politik (parpol).

Melalui wadah itu diharapkan agar mahasiswa juga bisa menyalurkan aspirasi politiknya dalam membangun Timor Leste ke arah yang lebih damai berlandaskan kasih.

“Saat itu, kami ingin terlibat dalam politik praktis. Jadi, semangat partai politik yang kami dirikan yakni karena masih adanya partai-partai tua yang didirikan oleh generasi tahun 1975. Kita tahu, saat itu ada lima partai yakni Fretelin, UDT, Trabalista, Kota, dan Apodete,” jelas Adio.

Setelah melewati serangkaian pertemuan, pada 2000-2001 didirikan Partido Democratico. Salah satu tokoh di balik kelahiran partai itu adalah Fernando Lasama de Araujo. Lazama yang pernah studi di Indonesia kini menjadi Ketua Parlemen Nasional Timor Leste. Partai politik ini menampung anak-anak muda yang punya visi ke depan dalam membangun Timor Leste.

Mereka juga tidak mau terlibat dalam pertikaian politik warisan masa lalu. “Kami mengangkat Fernando menjadi Presiden Pertama Partido Democratico Timor Leste. Kita tahu. Beliau adalah bekas narapidana Cipinang Jakarta. Sedangkan Mariano Sabino kita angkat sebagai Sekretaris Jenderal. Kami didukung beberapa veteran, tokoh klandestin, dan valentil,” cerita Adio.

Pada Pemilu 2001, Adio mengikuti kampanye namun gagal menuju kursi Parlemen Nasional karena tidak memperoleh dukungan mayoritas. Ia hanya bertengger di urutan kedua. Kemampuan dan kematangannya membuat ia ditarik menjadi Komisaris Politik Partido Democratico untuk wilayah barat.

Kemudian, pada Konggres Nasional Pertama 2006 di Dili ia diangkat menjadi Wakil Ketua I Partido Democratico. “Pada Pemilu tahun lalu, kami melakukan konsolidasi di semua distrik kemudian mendapat dukungan masyarakat. Saat itu, saya terpilih menjadi anggota Parlemen Nasional. Dalam hati saya bertekad untuk berpolitik dengan semangat kasih sebagaimana diajarkan Yesus Kristus. Itu yang dibutuhkan Timor Leste ke depan,” kata Adio, Wakil Ketua I Partido Democratico Timor Leste.

Adio

Lahir : Holbelis, Suai, 12 Januari 1970

Jabatan:
-Ketua Fraksi Partido Democratico Timor Leste Juli 2007–sekarang.

-Wakil Ketua I Partido Democratico Timor Leste, 2006–sekarang.

Pengalaman:
-Guru di SMP dan SMA Ave Maria Suai, Timor Timur 1997–2001.

-Mewakili Partido Democratico pada pertemuan konsultasi tentang Timor Leste yang diorganisir PBB di New York, Amerika, 2007

Pelatihan:
– Pelatihan tentang Programe Design di Bangkok; pelatihan advokasi di Dili, Timor Timur, dan pelatihan tentang peace building di University of Notre Dame, USA tahun 2004.

– Pelatihan tentang Community Coaching di City of Port Philip-Melbourne, Australia tahun 2001.

 

Jakarta, 12 Januari 2021
Oleh: Ansel Deri

Sahabat seangkatan Loro Mau

Sumber: HIDUP, edisi 2 Maret 2008
(Pengalaman & jabatan di atas tentu sudah berubah)

Komentar

Jangan Lewatkan