oleh

Sekilas Riwayat Hans Ch Louk

PRIA berperawakan kurus tinggi itu dilahirkan dengan nama HANS CHRISTIAN LOUK, tapi biasa ditulis Hans Ch. Louk. Dalam lingkup keluarga inti dan sahabat dekat, dipanggil dengan nama Pace.

Om Pace lahir di Waingapu, Sumba Timur pada 21 Juli 1959. Dua bulan lagi akan genap 62 tahun. Lahir sebagai anak ketiga dari lima bersaudara.

Nomer satu Soleman Marianus Louk, biasa dipanggil Buce, berdomisili di Surabaya. Nomer dua mendiang Petrus Louk, yang akrab disapa Pit, adalah suami dari Pendeta Emeritus Lusy Louk-Rumlaklak. Nomer empat Indriaty Dina Louk, bekerja di Kantor Sinode GMIT.

Dan yang bungsu Hans Yan Louk, berdomisili di Yogya. Tidak bisa hadir.

Lima anak ini merupakan buah kasih dari mendiang bapak Johanes Jakobus Louk dan mendiang mama Yudit Bertha Louk-Leyloh.

Om Pace tamat SD Masehi Waingapu tahun 1972. Lalu tahun 1975 tamat dari SMP Kristen Payeti. Dan lulus dari SMA Katolik Andaluri tahun 1979.

Saat Om Buce, kakaknya sudah jadi pegawai sebuah bank di Surabaya, Om Pace minta ijin mau kuliah di Jawa. Pilihannya jatuh di Universitas Negeri Jember. Kos-kosannya di Jember sama dengan Jonas Salean, Walikota Kupang tahun 2012-2017.

Sebagai mahasiswa om Pace aktif dalam berbagai kegiatan ekstra kurikuler. Aktivitas ekstra ini membawanya melamar menjadi wartawan Harian Suara Indonesia Malang yang berdiri tahun 1984. Koran yang diterbitkan Sinar Kasih Grup ini kemudian dibeli oleh Jawa Pos Grup.

Kenikmatan kerja di dunia jurnalistik membuatnya meninggalkan bangku kuliah. Kuliahnya tidak selesai.

Kurang jelas berapa lama menjadi wartawan Suara Indonesia di Malang, Jawa Timur. Setelah itu Om Pace pindah ke koran baru lagi Harian Surya, terbit di Surabaya, Jawa Timur. Surya adalah salah satu Koran milik Kelompok Pers Daerah atau Persda, milik Kelompok Kompas Gramedia.

Surya mempercayakan Om Pace menjadi Kepala Biro Surya untuk Kabupaten Jember. Di Surya pun tidak lama juga. Mendiang Om Valens Goa Doy dan Om Damyan Godho, dkk, menginisiasi terbit harian pertama di NTT, Surat Kabar Harian (SKH) Pos Kupang.

Bakal hadirnya Pos Kupang menggoda Om Pace untuk bergabung sekaligus kesempatan pulang kampung halaman di NTT.

Pada 1 Desember 1992, SKH Pos Kupang resmi terbit reguler, dan om Pace didapuk di posisi Redaktur Pelaksana atau Redpel 1 dan Pius Rengka, Redpel 2, mendampingi mendiang Om Damyan Godho sebagai Pemimpin Redaksi.

Tujuh tahun di Pos Kupang, Om Pace berhenti. Lalu bersama Dani Ratu, Ana Djukana, Paul Bolla, sama-sama wartawan Pos Kupang, dan mendiang Harry Harzufri mendirikan koran baru NTT Ekspres pada tahun 2000. Om Pace menjadi Pemimpin Redaksinya.

Tahun 2003 NTT Ekspres resmi berhenti terbit. Om Pace terpilih menjadi Komisioner KPUD NTT yang baru terbentuk. Yang lain sudah punya tempat berkarya baru.

Sebelum para pendirinya menyebar bekerja di tempat baru, dipersiapkan koran pengganti bernama KURSOR, dipimpin Ana Djukana.

Om Pace terpilih dan berkarya di KPUD NTT 2003-2008. Tahun 2009, Om Pace, bergeser ke KPUD Kabupaten Kupang sebagai Ketua selama dua periode, dan berakhir pada tahun 2019.

Om Pace tahu sekali bahwa menjadi seorang jurnalis, bukanlah profesi yang membuatnya bisa kaya secara instan. Meski begitu, ternyata Om Pace telah membagi kekayaannya sebagai seorang jurnalis dan etos kerja-kerja politik.

Om Pace telah berkontribusi besar dalam kemajuan demokrasi di Indonesia, khususnya di Nusa Tenggara Timur.

Selamat jalan suami, ayah, opa, saudara dan sahabat terkasih, HANS CHRISTIAN LOUK. …”engkau jauh di mata, tapi dekat di doa,” kami akan selalu merindukanmu.

 

Oleh: Hironimus Bifel

(Sumber: Kakak Paul Bolla, mantan jurnalis PK dan NTT Expres)

Komentar

Jangan Lewatkan