oleh

Berto Lalo dan Tebet Timur Dalam

-Berita-1.455 views

TIBA di Jakarta akhir Agustus 1998. Naik taxi ke Rasawari dari Pelabuhan Tanjung Priuk saya sungguh merasa asing melihat wajah Jakarta. Kepala mulai pening hirup udara Jakarta. Pun perut mulai agak mules setelah menempuh rute panjang dengan KM Dobonsolo mulai Larantuka-Makassar-Batu Licin-Semarang-Tanjung Priuk Jakarta. Niat merantau jadi kuli disket, tak pernah saya beritahu Bapak Siprianus Pletu Botoor atau isterinya, ibu Agnes Letek Klobor, adik ibu saya. Pa Pri, begitu bapa Siprianus Botoor disapa di kalangan umat di lingkungan Paroki Santo Bonaventura Pacuan Kuda, Pulomas, Dekanat Jakarta Timur. Pasutri ini tinggal di Rasawari, belakang gedung perkulakan tak jauh dari Sekolah Tinggi Manajemen Transportasi (STMT) Tri Sakti, Jakarta Timur.

“Saya baru saja tiba di Priuk. Pingin merantau agar dua adik saya bisa punya kesempatan kuliah. Rencananya ke margasiswa PMKRI di sekitar Gondangdia, Menteng. Saya sudah kontak teman agar bisa numpang tidur dan mandi sementara sebelum dapat kerja,” kata saya ke ibu Nes. “Ke rumah saja, no. Nanti ada waktu kamu ke margasiswa,” kata ibu Nes. Telpon putus. Saya hanya punya modal koin 3 biji untuk telpon dari Priuk, pelabuhan paling hingar bingar di utara Jakarta.

Tiba dengan wajah ndeso dengan kaos oblong agak kumal, saya pede saja. Mendengar komunikasi kerabat dengan logat Jakarta kental, saya agak silih silih agar tak terkesan saya muka baru di Jakarta; orang udik. Maklum. Lidah saya masih terpenjara logat Kupang karena lama mengakrabi kota Karang itu selama pigi melarat melanjutkan kuliah di Universitas Nusa Cendana, almamater Orient Riwu Kore, bupati terpilih Sabu Raijua yang belakangan bikin heboh Indonesia. Selain logat Jakarta kental, diam-diam saya nguping logat tulang (om) Bonar Napitupulu, tetangga ibu Nes persis depan rumah.

“Macam mana kabarmu, adik? Kau baru dari NTT ya?” Itu pertanyaan tulang Napitupulu saat kami ngobrol. “Itu logat Sunda kah?,” kata saya bertanya ke ibu Nes. “Udik amat sih, anakku ini. Itu mah logat Batak, Sumatera sana,” kata ibu Nes. “Mama juga orang udik macam saya e,” ujar saya menimpali. Kami ngakak sambil makan jagung titi dan kopi yang ikut berlayar dari Lembata sampe Jakarta.

Naik Vespa

Masih di Kupang, saya tahu Pak Pri bakerja sebagai aparatur sipil negara (ASN) di kantor Penghubung Pemerintah Provinsi NTT Jakarta. Kantornya di Jalan Tebet Timur Dalam, Jakarta Selatan. Kedekatan Pak Pri dan Gubernur NTT Piet A Tallo seperti bapa dan anak. Pa Pri adalah ASN yang juga menjadi supir pribadi El Tari, mantan Gubernur NTT hingga Pa Piet A Tallo (Alm). Pa Piet Tallo beberapa kali bertemu saat saya di Kupang. Tak terlalu dekat juga. Piet Tallo adalah Gubernur NTT dan orang baik dengan siapa saja. Saya pernah bertemu dan mewancarai beliau di kantor Perwakilan Pemda NTT Jakarta. “Engko bisa naik bus tingkat arah Pulogadung-Blok M. Tapi turun di Matraman baru ke Malayu. Dari Melayu engko naik Metro Mini lalu omong supir kasi turun di Wisma NTT,” kata ibu Nes. Nah, saya mulai bingung. Khawatir kebablasan. Apalagi modal cuma Rp25 ribu di dompet. “Saya naik vespa saja. Kelihatan lebih mudah,” kata saya. “Naik vespa dengan siapa? Engko sudah kenal teman itu,” kata ibu Nes. “Itu bukan vespa tapi bajaj,” kata ibu Nes. Kami ngakak.

Saya beruntung. Selain dimudahkan Pak Pri bertemu Gubernur Piet A Tallo di Wisma NTT Tebet Timur Dalam, saya juga kenal dan akrab dengan kraeng Valens Bura, Kepala Penghubung Pemda NTT Jakarta kala itu. Selain itu kae Berto Lalo, seorang ASN yang baik hati dan suka bertanya.

Ngobrol dengan kae Berto membuat saya kian akrab. Ia seorang teman diskusi yang baik. Guyonan beliau selalu mencairkan suasana antarkita yang baru kenal. Sejumlah staf ASN di Wisma NTT mulai akrab. Ada moat Piet, amatana Suherlan, Zakarias, dan seorang ASN Kris (Amfotis). “Saya baru turun dengan ‘vespa’. Naik dari Rawasari. Mau naik oto tapi takut nyasar,” kata saya kepada kae Berto Lalo.

“Aji bukan naik vespa ko. Itu namanya bajaj,” kata kae Berto kepada saya. Anehnya, jawaban “vespa” juga meluncur saat ditanya Pa Piet Tallo naik apa dari rumah Pak Pri.

Kae Berto adalah salah seorang yang berjasa dalam proses komunikasi tim pemekaran Lembata di Lembata dan Jakarta hingga menjadi daerah otonom tahun 1999. Setelah menjabat Kepala Badan Penghubung NTT di Jakarta, kae Berto dipercayakan Gubernur Nusa Tenggara Timur Viktor Bungtilu Laiskodat sebagai Kepala Biro Organisasi Sekretariat Daerah Nusa Tenggara Timur.

Seingat saya, kae Berto, Pak Pri Botoor, Pak Valens Bura sering bolak balik ke kantor Departemen Dalam Negeri RI melakukan komunikasi guna melengkapi surat-surat yang diminta agar proses finalisasi Lembata menjadi daerah otonom segera terwujud. Wisma NTT adalah tempat pertemuan paling ideal tim pemekaran Lembata kala itu untuk mengatur strategi Lembata menuju “kemerdekaan”, lepas dari Flotim.

Selain itu, Hotel Marcopollo juga disewa berbulan-bulan Pak H. Sulaeman L Hamzah, anggota MPR RI dan Ketua Masyarakat Flobamora Papua dan Papua Barat agar tim perjuangan otonomi Lembata bekerja lebih nyaman agar kerinduan ribu ratu di lewotana, leu awuq punya kabupaten sendiri terwujud segera mungkin.Hotel Marcopollo juga disewa berbulan-bulan Pak H. Sulaeman L Hamzah, mantan anggota MPR RI Utusan Golongan dari Papua dan Ketua Masyarakat Flobamora Papua dan Papua Barat agar tim perjuangan otonomi Lembata bekerja lebih nyaman agar kerinduan ribu ratu di lewotana, leu awuq punya kabupaten sendiri terwujud segera mungkin. Pak Haji Sulaeman kini menjabat anggota DPR/MPR RI Partai NasDem periode kedua dari Daerah Pemilihan Papua.

Kae Berto menyimpan selera humor tinggi. Suatu waktu saat ikut mengurus tim Lembata beliau ajak naik taxi dari kompleks DPR/MPR RI Senayan. Taxi berhenti di lobi timur Gedung Nusantara 1 lalu cepat-cepat ia bukakan pintu depan untuk rekannya sesama ASN di Wisma NTT. Si rekan itu berbadan kurus. Setelah duduk aman di samping supir, kae Berto memberi hormat. Lalu, “aji, naik sudah. Kita dua di belakang. Mas, hati-hati larinya ya? Yang di depan itu komandan saya. Beliau bisa marah kalau mas lari ugal-ugalan. Ingat ya. Itu komandan saya,” kata kae Berto kepada supir taxi. “Siyap, om. Diamankan perintahnya,” kata supir menimpali. Saya senyam senyum saja.

“Mana sipil dan militer, saya jadi bingung,” kata saya tertawa. “Aji diam-diam saja. Kita musti banyak guyon dengan siapa saja. Nyatanya supir itu bisa kita ngobrol selama dalam taxi,” kata kae Berto. Berto berbadan tinggi. Perawakannya bisa bikin orang kira beliau seorang anggota polisi atau tentara.

Akan halnya dengan kae Berto, Pak Valens, Pak Pri, usif Zakarias dan Kris, Pak Piet Tallo juga mengingatkan saya hal penting saat saya dan rekan Konrad Mangu mewawancarai beliau setelah Pak Pri meminta waktunya. Setelah Pak Tallo bertemu dengan Pangdam Udayana Brigjen William da Costa di Wisma NTT, tiba giliran saya dan Konrad Mangu mewawancara beliau. Setelah tahu saya ponakan Pak Pri dan Ibu Nes, suasana sedikit akrab. Tanya sana sini asal usul dan media, Pak Piet menjawab juga pertanyaan kami. Kami harus rekam agar tak salah kutip. “Kami naik ‘vespa’ dari Melayu,” ujar saya kepada Pa Piet. “Maksudnya anak berdua naik bajaj ke sini. Bukan naik vespa,” kata Pa Piet lalu kami ketawa setelah kopi suguhan om Kris kami dua Konrad tuntaskan.

“Ini buat anak berdua. Kamu bagi lalu ingat juga berdoa. Doakan juga bapa dan seluruh ASN di NTT agar mereka sehat untuk melayani warga. Jaga kesehatan dalam tugas,” kata Pa Piet menyodorkan amplop putih. Isinya, Rosario dari cendana.

Kisah dari Tebet tempo doeloe langsung muncul dalam sosok kae Berto Lalo. Seorang sahabat dan ASN rendah hati yang saya sudah kenal lama di Wisma NTT Tebet Timur Dalam. Pagi ini, kae Berto berpulang karena sakit akibat virus korona. Selamat jalan, kae Berto. Doaku sekeluarga mengiringi langkahmu menuju rumah Bapa di Surga. Dewa beka.

 

Jakarta, 6 Februari 2021
Oleh: Ansel Deri

Komentar

Jangan Lewatkan