oleh

“Amu Hawu” Rumah Sabu

-Budaya-223 views

Amu Hawu (Rumah Sabu). Konstruksinya berbentuk perahu terbalik. Ada tiang agung. Ada buritan. Ada haluan. Dan sebagainya. Semua berada dalam filosofi Do Hawu (Orang Sabu). Bahwa hidup ini adalah perjalanan menggunakan perahu. Hidup ini hanya sementara.

Tujuan hidup di dunia adalah hidup di seberang kematian. Rumah adalah perahu, tempat tinggal sementara dalam perjalanan menuju kehidupan baru.

Itulah pandangan Do Hawu tentang Amu Hawu. Saya tahu ini dari teman saya, RD. Adri Dimu, alias Ama Kolo. Dia menulis skripsi tentang Amu Hawu.

Kemarin sore, dalam perjalanan melaksanakan tugas di Sabu, saya berjumpa dengan beberapa orang dari Suku Kerala yang tinggal di Amu Hawu. Amu Hawu ini terkena badai Seroja. Bagian kiri rusak tertimpa pohon beringin. Kini sedang dalam upaya perbaikan.

Rumah ini dulunya menjadi pusat ritual agama asli Do Hawu yang disebut Jingitiu. Karena warga suku Kerala di sini telah menjadi Katolik, maka ritual adat tidak lagi dilakukan. Namun rumah adat dan segala perlengkapan di dalamnya tetap dipelihara.

Amu Hawu Suku Kerala ini terletak di ketinggian, di sebuah bukit. Lingkungannya dipagari pagar batu tebal berbentuk benteng. Keaslian kampung tetap dipelihara. Dulu, katanya, di sinilah dilaksanakan pelbagai upacara adat sesuai kalender suku.

Misalnya upacara penerimaan bayi ke dalam suku. Ritus inisiasi. Ditandai dengan air sirih pinang di dahi. Tanda berbentuk salib. Juga gunting rambut berbentuk huruf Alfa dan Omega. Ritus ini jelas ada pengaruh dari kekristenan. Konon dari pengaruh Portugis.

Amu Hawu dan aneka ritus adat di dalamnya adalah warisan budaya leluhur yang amat kaya nilai hidup. Warisan ini terancam punah. Generasi Sabu masa kini perlu merawat warisan ini dengan penelitian dan studi budaya, lalu menemukan format baru yang mengintegrasikan filosofi leluhur dan teologi agama dalam perspektif hidup moderen.

Tentu tidak mudah. Tapi bukan tidak mungkin. Asal ada kemauan untuk mulai dan berproses dalam waktu. Studi ini akan menjadi sumbangan besar dalam khazanah ilmu budaya.

Ini cuma mimpi. Mimpi di pagi hari, di Rai Hawu, tentang Do Hawu yang melestarikan filosofi Amu Hawu. Semoga mimpi ini menjadi kenyataan. Suatu hari nanti. Colek Ama Kolo dan Ina Wennyi.

 

Oleh: Romo Sipri Senda

Komentar

Jangan Lewatkan