oleh

Keindahan dan kekuatan dalam keanekaragaman “Belu dan Likurai”

-Budaya-246 views

Indonesia adalah negara yang sangat kaya dan sangat beragam dalam kebudayaan. Keberagaman budaya ini terdiri dari berbagai jenis yakni Bahasa daerah, rumah adat, pakaian adat, tarian daerah dan lain-lain. Keanekaragaman budaya ini ketika muncul menjadi satu maka timbullah suatu keindahan dan kekuatan bangsa. Keindahan adalah idaman setiap orang. Pasti setiap orang ingin tampil beda dengan apa yang ia miliki. Demikian juga daerah Belu yang ber-ibu kota Atambua pun tak ingin kalah dalam menampilkan apa yang mereka miliki terutama tarian tradisional yang membedakan mereka dari daerah-daerah lain yang ada di Indonesia terutama di wilayah Propinsi Nusa Tenggara Timur.

Belu adalah daerah perbatasan antara Indonesia dan negara tetangga Republik Demokratik Timor Leste yang sebelum merdeka dikenal dengan nama Timor-Timur. Ia memiliki satu tarian adat tradisional yang khas yakni Tarian Likurai. Pada zaman dahulu tarian ini digunakan untuk menyambut para pahlawan desa yang baru pulang dari perang. Tetapi pada masa kini digunakan untuk menerima tamu-tamu agung atau pada upacara-upacara besar dan acara- acara tertentu.

Setiap masyarakat Belu kecil-besar, tua-muda wajib tahu tarian ini. Dalam membawakan tarian ini jumlah pesertanya tidak dibatasi. Kadang belasan wanita, kadang puluhan wanita bahkan sampai ratusan wanita memukul alat tari ini yang disebut gendang. Mereka memukulnya secara dinamis dengan beranekaragam warna pukulan tetapi tetap menjaga kekompakan, tempo dan gerakan tubuh yang beraturan sesuai dengan bunyi yang dihasilkan. Dalam membawakan tarian ini biasanya ada juga beberapa penari pria yang menggunakan selempang di tangan yang panjangnya kira-kira satu setengah meter sampai dua meter. Tugas mereka adalah maronggeng atau dalam bahasa sehari-hari orang Belu dikenal dengan sebutan “Bidu”. Tempat beberapa pria ini tergantung dari barisan atau lingkaran yang dibuat oleh para penari wanita. Jika para penari wanita membuat suatu barisan panjang maka mereka akan berada di depan atau di belakang tetapi jika para penari wanita membuat satu lingkaran penuh maka mereka berada ditengah lingkaran. Gerakan mereka ini tidak kalah lincanyanya dengan para wanita.

Mengingat zaman semakin berkembang dan juga minat untuk melestarikan tarian daerah ini semakin menurun maka upaya- upaya pun dilakukan pemerintah daerah agar tarian ini tetap lestari sebagai budaya yang khas yang memberi keindahan dan kekuatan tersendiri bagi masyarakat Belu. Pemerintah menyarankan sekolah-sekolah agar mengadakan kegiatan ekstrakurikuler, mengadakan lomba-lomba tarian antar sekolah, mengadakan festival yang membangkitkan minat generasi muda untuk mempelajari tarian daerah. Salah satu contoh kongkritnya adalah Festival “Fulan Fehan” di kecamatan Lamaknen tahun 2018 yang dihadiri oleh Menteri Pariwisata Bapak Arief Yahya.

Saat itu sekitar 1.500 penari hadir, mereka berasal dari berbagai sekolah di kabupaten Belu dan  juga dari kabupaten-kabupaten  tetangga seperti kabupaten Malaka, kabupaten Timor Tengah Utara dan  Negara Tetangga Timor Leste. mereka menampilkan tarian ini dengan begitu indah dan mempesona sehingga setiap orang yang ikut hadir dalam ajang festival ini ketika pulang ke rumah dan asal mereka masing-masing membawa ceritera yang berkepanjangan dan terasa tidak bosan untuk diceritakan ulang apa yang telah mereka alami dan lakukan.

Festival Fulan Fehan ini juga merupakan wujud nilai-nilai Pancasila; keramahtamahan, toleransi, gotong royong dll bagi masyarakat Belu sebagai warga Negara Indonesia. Selain festival Fulan Felan tarian ini juga sudah dipentaskan untuk pertama kalinya di Istana Negara pada saat Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Negara Republik Indonesia yang ke-74. Penampilan perdana di Istana Negara ini memukau hati para penonton semuanya. Hal ini memberi kebanggaan tersediri bagi seluruh masyarakat Belu, terutama bagi anak-anak muda yang telah menampilkan tarian ini dan ini menjadi motivasi bagi generasi muda yang lain. Sebagai warga Belu patut berterimakasih kepada Tuhan lewat Pemerintah Pusat dalam kolaborasi dengan pemerintah daerah untuk motivasi dan dukungan kepada generasi muda zaman now agar tetap semangat melestarikan budaya warisan leluhur.

Pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa upaya pemerintah dalam melestarikan budaya di Indonesia pada umumnya sudah cukup baik. Namun upaya pelestarian itu akan menjadi lebih baik jika seluruh masyarakatnya pun turut berperan aktif. Seperti tarian Likurai dapat dilestarikan dengan baik dan itu akan tetap ada jika masyarakat Belu turut berpartisipasi untuk melestarikannya. Di sini hanya satu hal yang dibutuhkan yakni kesadaran setiap orang untuk memiliki budaya yang ada sebagai identitas dirinya karena ketika orang merasa memliki apa yang ada dan memaknai itu maka dengan sendirinya ia akan merasa bangga dengan apa yang ia miliki dan menjadi mudah baginya untuk terus melestarikannya. Dan ketika orang mengambil budaya itu sebagai identitas dirinya ia akan mampu melihat keindahan dan kekuatan yang terdapat dalam kebudayaan tersebut.

 

Oleh: Roswita, CM

Komentar

Jangan Lewatkan