oleh

“Wa’u Rono” Tradisi Budaya Manggarai yang Terancam Punah

-Budaya-706 views

RADARNTT, Borong – Mangga Maci, Mangga Lere, begitu sebutan pribahasa Tanah Nuca lale Manggarai tentang budaya adat yang tak jarang diucap oleh masyarakatnya.

Adat istiadat setiap daerah tentu berbeda-beda. Setiap suku tentunya memiliki kekhasan tersendiri. Perbedaan itulah yang menghasilkan keragaman budaya. Keragaman budaya tersebut tidak terlepas dari tokoh atau pelaku sejarah suku adat di suatu daerah.

Detik berganti menit, menit berganti jam, jam beralih ke hari dan hari berganti bulan pun bulan menjadi tahun, tat kala budaya adat istiadat Warisan para Leluhur terkadang mendapat pengaruh dari budaya asing yang dulunya sangat bermakna bagi perkembangan suatu suku atau tempat kini hampir hilang ditelan waktu.

Sebagai residu dari semua yang hampir hilang itu dan kini memang tidak terlalu distal di kalangan zaman ini adalah budaya adat tentang Wa’u Rono dalam adat istiadat Manggarai.

Pada mulanya di masa kini adat Wa’u Rono memang hampir tak dikenal lagi. Meski demikian sejarah lisan masih mencatatnya dalam sejarah real zaman ini.

Apa itu Wa’u rono?

Wa’u rono merupakan salah satu dari serangkaian tradisi adat Tanah Nuca Lale. Martinus Madi, Toko masyarakat asal Gendang Watang Jawang, desa Golo Kantar Kecamatan Borong kepada wartawan menjelaskan tentang Wa’u Rono sebagai bentuk ritual awal dari rumah tangga baru.

Kapan Wa’u Rono dilaksanakan?

Dikatakannya, kebiasaan ini dilakukan setelah proses perkawinan dalam adat, masyarakat Tanah Nuca Lale.  Ketika pasangan keluarga baru mengawali rumah tangga baru, terlebih dahulunya mereka melaksanakan ritual yang disebut “Wa’u Rono”.

Bagaimana Prosesinya?

Martinus menjelaskan suksesi peristiwa “Wa’u Rono” dengan antusias, “jadi begini, prosesi Wa’u rono ini terjadi setelah weda rewa tuke mbaru. Pengantin baru selama lima hari tidak boleh keluar dari rumah. Sementara dahulunya pasangan tersebut harus berada di dalam kamar terus. Bisa keluar rumah setelah lima hari dan di kukuhkan dengan ritual adat Wa’u rono,” jelas Martinus.

Setelah Komunikasi adat berjalan, dan proses perkawinan adat selesai baru di laksanakan ritual adat Wau rono, dan itu terjadi selama pengatin wanita sudah dihantarkan (Podo) di keluarga Mempelai Laki -laki, ungkap Matinus di selah selah perbincangan acara “hesot” di rumah salah seorang warga kampung Jawang 11 September 2017 silam.

Lima leso, lima Wie, Wina rona Paka kaeng one Lo’ang, toe neka lar peang. Hang bone Lo’ang, eme poli lima Wie lima leso ga, hitu po ngo be peang. Lampuk wa wae cebong. Demikian penuturannya yang artinya, selama lima hari, lima malam, pasangan suami istri tetap berada didalam kamar, tidak diperkenankan untuk keluar kamar, dan makan pun didalam kamar. Setelah lima hari, kemudian keduanya langsung ke sungai tempat pemandian warga untuk menggelar ritual “Wa’u Rono”.

Yang sangat paham tentang ritual ini adalah mereka generasi tahun 1980an. Menurutnya, generasi yang sekarang ini mungkin sudah lupa, tuntas Martinus seraya menebar senyum sumringahnya.

Setelah selesai ritual ini, di hari kelima, kedua pengantin wajib mandi di sungai tempat pemandian warga (cebong one ngalor wae). Intinya hal itu dilakukan untuk melepaskan semua karakter atau sifat yang kurang baik semasa remaja.

Sembari menikmati suguhan tuak sopi minuman khas Manggarai, Martinus terus menceritakan bahwa setelah itu baru ada gambaran melalui mimpi di dalam keluarga, apakah hal itu berhasil memberikan keturunan baru atau tidak.

Makna Mimpi terkait Wa’u Rono

Dikatakan Martinus, biasanya setiap selesai ritual adat yang satu ini digelar, ada pemberitahuan melalui mimpi, nah mimpi itu disebut “Nipi De’i”.

”Apabila ada salah satu anggota keluarga besar bermimpi kedua atau salah satu pengantin yang melaksanakan ritual Wa’u Rono menimbah air, atau mendapatkan pisau atau parang, maka itu berhasil”, tambahnya. Hal itu dibenarkan oleh Aloysius Majid, kakak dari Martinus.

Kata Aloysius menambah, apabila dalam mimpi, air yang ditimbah menggunakan (Tawu) tempat Air para leluhur yag terbuat dari labu botol, maka hasilnya adalah akan mendapatkan keturunan perempuan.

Apabila menggunakan (Nggading) tempat penyimpan air dari bambu, maka akan mendapatkan keturunan Laki laki, jelas Aloysius bercerita.

Orang yang lahir di Manggarai, menurut leluhur katanya, pasti akan tahu kapan dirinya tutup usia atau meninggal.
Dahulu mimpi timbah air( teku wae) berperan penting untuk menentukan umur panjang atau tidaknya seseorang kelahiran Tanah nuca lale.

Makna Mimpi Menimbah Air, katanya, konon menurut leluhur mimpi-mimpi hasil Wa’u Rono memilki makna, bahkan sampai pada penentuan ajal pada kelahiran baru, tambah Aloysius.

“Eme nipi teku wae wa’a ko wae tebur, hitu tandan ga hitut reme dading toe manga molor, landing eme teku wae mata ko wae gelo, hitu ngong di’a ngasangn. Eme wae teku toe penong tawu ko Nggading, hitu de ngong umur wokok, agu eme penong teong, hitu de ngon umur lewe,” tutur Aloysius dalam bahasa Manggarai yang artinya, apabila mimpinya menimbah air keruh dan air banjir, maka itu maknanya yang sedang dikandung tidak bertahan lama atau takan berumur panjang,  Tetapi apabila menimbah air bersih dari mata air maka hasilnya bagus.

Apabila air yang di timbah memenuhi tempat (Nggajing atau tawu), menurut leluhur itu artinya umur panjang. Dan apabila airnya tidak penuhi kedua tempat tersebut, atau setengah maka yang terjadi adalah umur pendek”, tutup Aloysius mengakhiri perbincangan siang itu.

Jejak Wa’u Rono Masih Membekas di Tanah Nuca Lale.

Berhasil dihimpun, Walaupun Ritual Adat Wa’u Rono dibeberapa daerah Tanah Nuca Lale semakin memudar, namun faktanya masih eksis dibeberapa kampung.

Pada 30 November 2020 lalu, Pasangan Suami Istri Fabianus Klaudius Baeng dan Yunita nehong menggelar acara Ritual Adat Wa’u Rono di kampung Nampar macing Desa Golo Leleng Kecamatan Sano Nggoang Kabupaten Manggarai Barat,Flores NTT.

Mengisahkan pengalamannya, Mempelai Wanita yang kerap disapa Yuanita bahwa tradisi Wa’u Rono yang digelar oleh keluarganya setelah tiba di kampung suaminya merupakan hal yang tidak asing lagi.

“Di kampung kami (kampung Nampar Macing), kami menamai ritual itu dengan sebutan Wa’u Wae. Setelah tiba di kampung suami, Kami berada didalam rumah selama lima hari. Setelah lima hari, kemudian baru turun ke Sungai tempat pemandian warga untuk menggelar ritus adat Wa’u Rono atau Wa’u Wae,” tutur Yuanita.

Dikatakannya, setelah tiba di sungai atau Ngalor Wae, juru bicara adat yang mengatur prosesi itu memandikan kami dengan air kelapa.

Lanjutnya, tak lama kemudian kelapa yang telah di bela dua, secara berturut turut selama lima kali, dilemparkan kedepan. Melewati kepala kedua mempelai. Keatas permukaan air.

“Eme cai wa wae, tela Nio hitu, berarti tanda’n ga anak ata cai cepisa, Inewai. Eme tegep, ngong nggo’o hitu ga Ata Rona cai’n cepisa,” jelas Yuanita.

Setelah melakukan prosesi Wa’u Rono atau Wa’u Wae, kedua pengantin disonsong pulang dengan berbalutkan pakaian adat serba Songke. Tiba dirumah. Setelah acara Wa’u Rono, ada ritual adat Turuk Manuk Wina Rona, (acara ritual penyembelihan ayam Betina dan jantan). (GN/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan