oleh

Jelajah Nada Timor, Lestarikan Musik Tradisional

-Budaya-157 views

RADARNTT, Kupang – Upaya melestarikan musik tradisional budaya pulau Timor dengan inovasi penyajian musik instrumen gaya baru bagi generasi perlu ditingkatkan oleh para seniman.

Demikian sebut Musisi Tarwis Lifani Haning ke awak media dalam keterangan pers.

Dia menjelaskan bahwa Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah provinsi yang kaya warisan budaya, adat istiadat, bahasa dan musik tradisional. Salah satu jenis budaya yang mengakar kuat pada masyarakat NTT adalah budaya tutur atau lisan.

“Tradisi ini ada dalam kehidupan, mulai dari ritual adat, syair gembala saat mengembalakan ternak, nyanyian saat panen hasil kebun, nyanyian saat membangun rumah adat, hingga nyanyian penghiburan di acara kedukaan,” sebutnya.

Di berbagai daerah termasuk di daratan pulau Timor, jelas Haning, seseorang yang fasih berbahasa daerah, memiliki status sebagai penutur yang bisa melantunkan syair tradisional. Dalam perjalanannya, tidak adanya pengarsipan membuat sulitnya pewarisan syair-syair tersebut ke generasi selanjutnya. Hal ini menjadi keresahan karena di dalam syair terkandung makna/nilai kehidupan yang sangat tinggi.

Kehadiran musik cukup berpengaruh dalam dinamika sosial masyarakat. Musik juga mampu menetralkan kondisi perasaan manusia termasuk juga sebagai “agen” pemberitaan sosial budaya. Dalam hal ini, setiap lirik lagu mampu memberi pengetahuan baru kepada pendengar. Kini penyajian musik beragam, hal ini mempermudah dalam menikmati, memahami dan memaknai musik.

Di generasi saat ini, kata Haning, musik bisa mudah diterima apabila relevan dan mengikuti zaman. Kenyataannya musik tradisional memiliki sedikit peminat karena dianggap jadul dan kedaerahan padahal sebenarnya semua jenis musik memiliki nilainya masing-masing. Hal ini kemudian menjadi konstruksi bahwa musik tradisional adalah milik orang daerah dan masyarakat tertentu saja, tentu hal ini berpengaruh pada generasi sekarang karena tidak mengenal musik tradisonal atau daerahnya sendiri.

Maka dari itu, tegasnya, salah satu solusi agar bisa mengenal dan merasa dekat dengan musik tradisional adalah menyajikan musik baru dengan gaya sekarang dipadukan dengan instrumen musik modern sehingga menjadi warna baru dan lebih mencintai identitas budaya serta tidak luntur oleh zaman.

“Hal ini juga sebagai bentuk pelestarian terhadap nilai budaya dengan cara yang inovatif dan kreatif,” tandas Haning.

Beralaskan keresahan ini, kata dia, maka lahirlah ide yaitu “Inovasi Penyajian Musik Instrumen Tradisional dan Penciptaan Karya Gaya Baru Ciri Khas Budaya Pulau Timor sebagai Upaya Pelestarian Musik Tradisional Bagi Generasi, dengan tajuk kegiatan Jelajah Nada Timor”.

Jelajah Nada Timor adalah perjalanan merekam nada, syair, tutur dan musik tradisional di lima kabupaten yang ada di pulau Timor, diselaraskan dengan musik oleh Tarwis Lifani Haning atau juga dikenal dengan Shagah, musisi post-rock/ambient dari Kota Kupang, menghasilkan 1 Extended Play (EP) atau mini album yang terdiri dari lima lagu.

Rangkaian panjang Jelajah Nada Timor dimulai dari Riset dan Pemantapan Konsep, di mana Shagah dan tim produksi memilih dan meneliti syair, tutur dan musik tradisional ciri khas Pulau Timor. Konsep dimatangkan lagi agar terfokus pada bidang, nilai yang diambil. Proses ini dilakukan di Kota Kupang.

Kemudian, Ekspedisi Nada Timor atau perjalanan merekam syair. Shagah dan tim produksi melakukan perjalanan ke lima kabupaten yang ada di pulau Timor juga mendokumentasikan cerita, foto, studio, serta video sebagai arsip dokumentasi.

Setelah selesai, tim akan kembali ke Kupang untuk produksi musik atau studio session (aransemen, perekaman, editing, mixing dan mastering), dilakukan di studio musik di Kota Kupang. Dan terakhir ialah Perilisan EP atau mini album bersamaan dengan dokumentasi selama ekspedisi.

“Akan ada Pre-Release lagu dahulu yang diputarkan di beberapa radio lokal. Lagu bisa diakses di berbagai platform musik juga diproduksi/dicetak dalam bentuk CD album fisik original. Rangkaian Jelajah Nada Timor berlangsung selama 3 bulan dari Oktober 2022 hingga Januari 2023,” ujar Haning.

Selain Tarwis Lifani Haning sebagai Project Leader dan Composer, proses kreatif penggarapan EP juga melibatkan etnomusikolog Rayhan Sudrajat sebagai Producer, juga Rapper Malysk sebagai Mixing Engineer.

Kegiatan Jelajah Nada Timor didukung oleh Ditjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia.

Media Partner adalah Pos Kupang, Harian Detik Indonesia, Garda Indonesia, Radar NTT, Vox NTT, LEKO, Timor Express, Warta Perempuan Indonesia, RRI Kupang dan Radio Tirilolok. Support Partner ada Kopi Rangkum dan Coba Sa Dulu.

Untuk mendapatkan informasi terkait kegiatan ini dapat melalui Instagram: @jelajahnadatimor, Halaman Facebook: Jelajah Nada Timor dan Surel: Jelajahnadatimor@gmail.com. (TIM/RN)

Komentar