oleh

Bertahan Hidup di Usia Senja

-Cerita-190 views

SABTU akhir pekan 6 September 2020. Saya berniat mendekati ibu tua ini. Saya iseng menanyakan nama. Namun, ia tak respon. Bisa saja faktor bahasa. Tak bisa berbahasa Indonesia. Hanya Dawan, bahasa lokal.

Di pantai Nualunat, Desa Nualunat, Kecamatan Kotolin, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS ), Si perempuan berusia sekitar 80 tahun sedang asyik memilih batu aneka warna dan jenis. Pantai indah Kolbano, TTS , menyediakan bebatuan kecil aneka warna dan bentuk.

“Batu barangkali jadi tumpuan dan harapan berkat bagi keluarganya,” kata saya bergumam dalam hati.

Tiga jam dari Soe, Kota Kabupaten TTS menuju Nualunat dan Kolbano, rasa penat yang bersarang hilang seketika. Menikmati keindahan alam pantai Nualunat dan Kolbano digandakan dengan kehadiran ibu tua ini.

Dari Soe, orang bisa menggunakan kendaraan sewa jenis pick-up seharga Rp 50.000 per orang. Barangkali tak susah bagi orang berduit bila menikmati Kolbano, utamanya, pantai Nualunat, dan mencari nafkah seperti ibu tua ini adalah pemandangan lain tentang arti perjuangan mempertahankan asap dapur bagi orang rumah.

Hati saya sungguh tersentak. Si ibu ini mengajarkan saya memahami arti hidup atau kerja, kerja dan kerja.

Kolbano menyediakan dirinya tempat pelancong membasuh jiwa. Namun, apakah perjuangan Si ibu tua ini adalah jawaban lain tatkala kita berniat membasuh jiwa kita?

Pertanyaan itu menyelinap dalam hati tatkala saya bergerak dari Nualunat ke jalan utama. Dan Si ibu tua masih bertahan dengan ember dan batu-batu yang ia pungut demi nasib orang-orang yang ia cintai di rumah.

Terima kasih, Mama. Engkau telah mengajarkan banyak hal tentang hidup ini di tengah dunia yang kian bersolek dengan kemewahan.

Perjuanganku melayani “TUHAN” tak seberat Cintamu pada orang lain.

Dari Nualunat saya belajar arti kehidupan sesungguhnya dari seorang ibu tua di usia menjelang ziarah hidupnya di muka bumi.

 

Oleh: Sr. Kristin Lk – Bataona, RVM

Komentar

Jangan Lewatkan