oleh

Cerita untuk Kakak Ames (19)

-Cerita-316 views

Siang itu, Opa Oma datang ke rumah Oma Cecil, membawa sekeranjang buah beraneka ragam. Itu pertemuan mereka untuk pertama kalinya. Mereka datang untuk berbicara tentang rencana pernikahanku dan Mama Vira.

Opa bercerita bagaimana ia diusir oleh Satpam PT Immer Motors saat memotret perusahaan itu dari luar. Oma Cecil tertawa. “Aduh maaf ya, tahu begitu..,” kata Oma Cecil yang mewarisi perusahaan itu dari ayahnya. Saat itu karyawan perusahaan 900 orang lebih, salah satu perusahaan mobil terbesar di Indonesia Timur.

Oma Cecil juga mewarisi rumah di perempatan Jalan Raya Darmo, jalan protokol Surabaya, yang kemudian dijual ke pihak Bank – Asuransi Rama. Kecuali anak sulung, semua anaknya lahir di sana, termasuk Mama Vira.

Sebagai pengusaha yang juga mantan pejabat, Oma Cecil memang mudah bergaul dengan siapa saja, karena itu Opa Oma dan Oma Cecil cepat akrab.

Nilai itu mungkin diwarisinya dari ayahnya, tokoh PNI, seorang Soekarnois. Di kompleks makam keluarga di Malang, di sisi pusara ayah-ibu Oma Cecil ada makam Mbok Ngatinem, pembantu (ART) mereka.

Mereka memperlakukan pembantu mereka, saat hidup, juga ketika meninggal dengan terhormat. Di situ berderet juga makam tokoh Malang lainnya seperti Walikota Batu, Imam Kabul.

Oma Cecil adalah pendiri Kosgoro dan anggota Fraksi Golkar DPRD Kota Surabaya. Meski bersuamikan tentara (TRIP) yang kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata Jakarta, Oma Cecil harus lapor diri kepada tentara di markas tentara. Sesuatu yang ditentang olehnya kala itu.

“Kenapa kalau mau jadi anggota dewan harus lapor diri ke tentara?” tanyanya kepadaku. Itu salah satu alasan kenapa ia tak mau lagi jadi anggota dewan. Alasan lainnya adalah soal permainan anggaran, ketidakpedulian, juga perilaku lainnya, yang menurut Oma Cecil tidak pantas, “tidak elok.”

Saat Oma Cecil menjabat, seorang pemuda tampan dengan panggilan Anto sering datang ke rumah. Oma Cecil mendorong Anto untuk terlibat aktif di Golkar, si model setuju. Maklum, ia sedang naksir pada salah satu anak Oma Cecil.

Di kemudian hari Anto berhasil menjadi Ketua Partai Golkar dan Ketua DPR RI, yang kemudian tersangkut kasus mega korupsi. Setya Novanto, demikian nama lengkapnya, gagal meneladani Oma Cecil yang punya cita-cita mulia ketika mengemban amanah.

Tepat setahun lalu, di hari ini, Oma Cecil meninggalkan kita semua. Pagi itu, aku dan Mama Vira berpamitan ke Universitas Surabaya (Ubaya), kami menciumnya seperti biasa.

Oma Cecil agak pucat. Beberapa hari susah makan, hanya sedikit. Menjelang sore, Oma Cecil menelpon Mama Vira, titip bubur kesukaannya saat kami perjalanan pulang nanti. Ketika kami selesai membelikan bubur pesanan Oma Cecil, kami mendapat kabar bahwa Oma Cecil diantar ke Rumah Sakit Islam (RSI) Jemursari. Kami menuju ke sana.

Alat dan obat tak begitu membantu Oma Cecil yang alami sesak. Malam itu adalah saat terakhirnya bersama kami. Kami semua sangat kehilangan, termasuk Opa dan Oma.

Oma bilang, “Aku kehilangan sahabat yang rajin bertanya kabarku. Kehilangan kakak yang rajin mengingatkanku untuk tetap hidup sehat, tetap sabar dan kuat.”

Ketika Opa masih di RSUD Adjidarmo Rangkasbitung, Oma Cecil menelpon Mama Vira, meminta agar mendekatkan telpon ke telinga Opa, entah Oma Cecil bicara apa, tetiba Opa berkaca-kaca, lalu tertumpah air mata. Oma Cecil memang begitu sayang denganku, dengan Opa Oma, juga Adik Rham, adikmu itu.

Saat Adik Rham bersekolah di Surabaya, tiap pagi Oma Cecil menyiapkan segala keperluan sekolah Adik Rham. Begitu pula ketika Adik Rham sepulang sekolah. Dan ketika aku pulang dari Jakarta, Oma Cecil selalu membuat masakan-masakan favoritku. Selalu begitu. Seperti Oma Mimi, Oma Cecil juga memanjakan cucu-cucunya, Adik Rham juga.

Aku kehilangan teman bicara ketika menyusuri kota Surabaya. Kami biasa bicara tentang vitalnya taman-hutan kota, tentang pentingnya kebun binatang dan museum, tentang perlunya perlindungan cagar budaya, dsb.

Di Surabaya nanti, aku akan beli bubur kesukaan Oma Cecil, untuk mengenangnya, mama mertuaku yang hebat itu. Pengusaha yang rendah hati, legislator dengan kegelisahan dari nurani. Sosok yang berani menolak jabatan dari Golkar ketika Orde Baru masih berjaya.

Besok aku akan bercerita padamu tentang Krisis Moneter (krismon) yang merambah dunia, meruntuhkan Indonesia, yang berujung pada Sidang Istimewa (SI) 10-13 November 1998.

SI ini memutuskan diperlukannya percepatan pemilu 1999. Awalnya SI ditolak oleh mahasiswa. Demonstrasi bergelora di mana-mana, militer menggunakan pengamanan swakarsa (pamswakarsa), membenturkan sipil dengan sipil. Korban sipil berjatuhan, salah satunya adalah Tragedi Semanggi.

Peluk ciumku untuk adik-adikmu.

 

Moskow, 29 Agustus 2020
Oleh: Joaquim Lede Valentino Rohi

Komentar

Jangan Lewatkan