oleh

Cerita untuk Kakak Ames (20)

-Cerita-194 views

Opa dulu bercerita bahwa tentara di jamannya, dilatih bergerak dengan dibekali sejumlah informasi valid, tidak membabi buta. Informasi intelijen sangat diperlukan dalam pergerakkan militer. Karena itulah biasanya serangan tidak dimulai jika tak ada informasi dari dalam tubuh musuh mereka.

Hari ini aku membaca sejumlah tentara digerakkan oleh kabar bohong, lalu merusak asset milik negara. Aku sedih. Harusnya tentara kita makin professional.

Professional itu tak hanya bicara tentang strategi, disiplin, dan alat utama sistem pertahanan (alutsista), tapi juga membersihkan diri dari tradisi yang salah, berani mengakui kesalahan-kesalahan di masa lalu, dan tentu saja, tidak berpolitik.

Selama angkatan perang kita masih terlibat dalam dukung mendukung entitas bisnis, masih merasa perlu mendeklarasikan dirinya netral dalam proses pemilihan umum, masih terlibat dalam konflik perburuhan, sengketa tanah dan petani, mereka sulit bergerak maju.

Soal pertikaian dengan sesama angkatan perang atau polisi, akarnya panjang sejak Orde Baru berkuasa, menjadikan satu angkatan perang sebagai kakak sulung di antara lainnya.

Akibatnya Panglima datang dari angkatan itu-itu saja, bahwa siapa yang bisa naik pangkat atau tidak naik pangkat tergantung kakak sulung, bahwa pemasukan dari Surat Ijin Mengemudi (SIM) pun harus dikelola kakak sulung, dsb. Harus berani keluar dari sana.

Termasuk berani untuk mengakui peristiwa demi peristiwa, mulai dari 1965, Tragedi Malari, Tanjung Priok, Kedung Ombo, Blangguan, Santa Cruz, Marsinah, Semanggi, Trisakti, penculikan aktivis, dsb. Selama hal seperti ini tak diakui, mereka akan terus terbeban akan masa lalu. Sulit bergerak maju.

Baiklah, kita lanjutkan lagi tentang Pemilihan Umum (Pemilu) 1997 dan perburuan keduaku itu. Pemilu yang dihelat pada 29 Mei 1997 itu adalah pemilu ke-6 Orde Baru, dan pemilu ke-7 sejak Republik Indonesia berdiri.

Seperti biasanya, Golkar menang lagi, dengan perolehan suara 74.51 persen. PPP 22.43 persen suara, dan PDI 3.06 persen suara. Seperti biasanya pula, Soeharto lewat tangan militer mengatur siapa yang berhak duduk di kursi DPR-MPR, dan DPR-MPR memilih Soeharto sebagai Presiden kembali.

Bedanya, protes di masyarakat masih meluas, sebagai akibat praktik KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme) yang sangat lama, pasca kerusuhan 27 Juli 1996, dan lahirnya Koalisi Mega Bintang. Salah satu protes utama adalah peran politik ABRI.

Sebelumnya, militer menduduki 100 dari 500 kursi di parlemen. Soeharto meredam protes dengan menerbitkan Undang-Undang No. 5/1995 tentang Susunan dan Kedudukan MPR baru. Dalam UU ini, jumlah kursi ABRI di DPR dikurangi, dari 100 menjadi 75.

Di jaman Orba, demokrasi (pemilu) secara prosedural memang ada, tapi secara substansial tidak. Sebab, ada militer aktif yang tidak dipilih, melainkan ditunjuk, juga ada golongan yang bukan partai politik yang ikut dalam pemilihan umum tersebut.

Sebelumnya aku bercerita padamu bahwa bicara suksesi adalah tabu. Nama Soeharto begitu sakral, namun bibit perlawan terhadap tabu itu sudah dimulai sejak 1993. Setahun menjelang Sidang Umum (SU) MPR 1993, seorang perempuan berusia 37 tahun, aktivis Partai Demokrasi Indonesia (PDI) berani mencanangkan dirinya sebagai calon Presiden RI.

Raden Ajeng Berar Fathia mengumumkan hal tersebut di kantor Lembaga Pembela Hak Asasi Manusia (LPHAM) yang diketuai HJC Princen. Istri pegawai negeri itu seolah hendak menentang pernyataan para ulama dan Muktamar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang meminta Soeharto bersedia dipilih kembali, serta keputusan PPP yang mencalonkan kembali Soeharto sebagai Presiden.

Gejolak protes kian memanas. Sesuatu yang baru. Biasanya hangat politik hanya menjelang pemilu. Kini, sesudah pemilu pun pembicaraan politik tak berhenti.

Kami memanfaatkan situasi ini untuk terus mengkonsolidasikan diri, membuat pertemuan-pertemuan, mengorganisir petani, buruh, dan kaum miskin perkotaan.

Semakin banyak orang berani bicara politik, semakin orang haus akan kebenaran. Namun itu tak membuat posisi rejim goyah, hingga sesuatu terjadi; Krisis Moneter (Krismon).

Krisis ini pertama kali dimulai pada 2 Juli 1997 ketika Thailand mendeklarasikan ketidakmampuan untuk membayar utang luar negerinya. Krisis merambat ke seluruh Asia, dan ke seluruh dunia.

Thailand, Korea Selatan, dan Indonesia adalah negara yang paling terkena dampak krisis ini. Hongkong, Malaysia, Laos, dan Filipina juga terpengaruh krisis, tetapi tak separah 3 (tiga) negara tersebut. Sementara Cina, Taiwan, Brunei, Vietnam dan Singapura hampir tak merasakan krisis finansial tersebut.

Pada Juni 1997, nilai tukar rupiah terhadap dolar masih di angka Rp 2.380 per dolar. 31 Desember 1998, rupiah anjlok hingga Rp 8.000 per dolar. Januari 1998, dolar menyentuh Rp 11.000, dan rupiah terus merosot hingga Rp 14.150.

Akibatnya harga barang melesat tak terkendali, PHK di mana-mana, jumlah penduduk di bawah garis kemiskinan meningkat, angkanya tercatat sekitar 50% dari total penduduk.

Sebelum aku melanjutkan tentang gesekan di lapangan, aku merasa perlu untuk memberitahumu, bahwa sama seperti kemerdekaan Indonesia yang dipengaruhi kekalahan Jerman di Eropa, yang diikuti kekalahan Jepang pada Perang Pasifik.

Demikian pula pada proses tumbangnya Rejim Orde Baru, ada faktor global yang kuat mempengaruhi.

Aku kutip dari halaman pertama skripsiku.

“Dalam konteks kekinian, untuk menjelaskan suatu kondisi masyarakat tak bisa begitu saja melupakan faktor-faktor eksternal yang melingkupinya. Theda Skocpol telah membahas panjang lebar, tentang revolusi dan setiap jengkal perubahan di tiga negara besar yang ditelitinya. Dengan sangat meyakinkan, ia menyatakan bahwa semua kejadian besar akan saling mempengaruhi bukan hanya di tingkatan nasional ataupun regional, tetapi bahkan internasional.

Ia mencontohkan, bagaimana “…pengaruh revolusi (Prancis) ini menyebar dari Jenewa sampai Santo Domingo, dari Irlandia sampai Amerika Latin dan India, dan selanjutnya mempengaruhi para teoritikus revolusi dari Babeuf sampai Marx dan Lenin, serta kaum anti kolonialis abad ke-20”. Begitu pula dalam konteks menjelaskan kronologis kemerdekaan Republik Indonesia, yang tak akan terlepas dari peristiwa pemboman Hiroshima dan Nagasaki di Jepang oleh sekutu.”

Itulah mengapa peringatan “Hari Kemerdekaan” Indonesia sama-sama berusia 75 tahun dengan peringatan “Hari Kemenangan” Russia atas Jerman pada Perang Dunia II. Semuanya saling mempengaruhi.

Sampai besok.
Peluk ciumku untuk adik-adikmu.

 

Moskow, 31 Agustus 2020
Oleh: Joaquim Lede Valentino Rohi

Komentar

Jangan Lewatkan