oleh

Cerita untuk Kakak Ames (21)

-Cerita-199 views

Krisis Moneter (Krismon). Juni 1997, Rp 2.380 per dolar. Januari 1998, Rp 11.000 per dolar, terus jatuh hingga menyentuh Rp 14.150 per dolar. Kamu tahu arti kalimat itu?

Coba bayangkan dengan menggunakan keadaan sekarang.

Gaji ayahmu tetap. Namun, ayah tak mampu lagi membeli bensin untuk motornya, naik angkot juga tarifnya naik berkali lipat. Ayah memutuskan berjalan kaki ke manapun juga. Ayah menjadi mudah lelah dan cepat marah.

Beras, gas, telur, dan minyak yang bunda biasa beli dengan harga cukup dengan 800 ribu, kini harganya naik menjadi 2,4 juta. Bunda memutuskan untuk tak lagi membeli kopi, teh, dan gula, untuk berhemat.

Bunda hanya membeli garam, bawang, kecap, dan tahu tempe. Cabe mahal, harganya meroket. Lagian kalian tidak suka pedas bukan?

Tak ada lagi air minum mineral dari galon. Kamu harus merebusnya dari air kran yang sedikit berwarna kekuningan itu, tapi kali ini kamu harus merebusnya dari kompor minyak tanah. Ah, bukankah harga minyak tanah juga tidak murah?

Akhirnya Bunda memutuskan untuk tetap berlangganan air mineral, dengan catatan penting, “Hemat air, jangan ada yang tumpah, minum harus habis, jangan ada yang dibuang!”

Namun, Bunda tak bisa menunda beli susu buat adik-adikmu. Bunda bergegas ke toko, tapi di mana-mana susu habis. Kalaupun ada, susu tak terbeli. Orang mengambil untung dari situasi seperti ini. Persis seperti ketika harga masker dan hand sanitizer melambung tinggi.

Bunda lemas, kakiknya bergetar, lesu. Lapar mendera tubuhnya yang kurus. Banyak yang ia pikirkan. Belum tagihan listrik dan air, yang tak mau peduli, telat sedikit, listrik dan air diputus. Bagaimana kalian bisa hidup tanpa air dan listrik?

Sampai di rumah, adik-adikmu lapar, mereka menangis sekeras mungkin. Ayah yang lelah, terbangun, marah. Semua terdiam. Bunda diam-diam menumpahkan air mata, ia tak mampu berkata-kata. Ia mengingat tetangga kanan kiri yang nasibnya lebih buruk lagi.

Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di mana-mana. Orang kehilangan pekerjaannya. Orang bertahan hidup dengan mencuri, merampas. Yang tak beruntung, ditangkap, lalu dibakar hingga mati. Ia mati karena dibakar, ia dibakar karena lapar.

Ayah minta maaf. Lalu ia bilang, kalau ia bisa pinjam di tempat kerjanya. Keesokan hari ayah pulang dengan uang pinjaman dari tempat kerja. Lalu bunda pergi membeli beras, gas, telur, dan minyak. Untuk itu, ia harus antri, berdiri hingga nyaris satu jam lamanya.

Sampai di depan antrian, beras tinggal sedikit. Minyak dan telur habis. Esok hari bunda kembali mengantri di toko lainnya, dengan berakhir dengan cerita yang nyaris sama.

Kamu melihat perangai ayah dan bunda menjadi berbeda dari biasanya. Ayah menjadi makin mudah marah, bunda makin diam dan sering menangis. Sementara sebagai kakak, kamu paksakan dirimu untuk membantu adik-adikmu.

Jatah makanmu, kamu ambil sedikit saja, selebihnya kamu beri untuk adik-adikmu. Kamu bilang bunda ingin membantu keuangan keluarga dengan berjualan kue, tapi harga tepung dan gula naik tinggi kata bunda.

Sekolah mengambil kebijakan belajar dari rumah, karena guru-gurumu tak mampu beli bensin buat kendaraan mereka. Sampai rumah kamu ceritakan hal itu. Kamu pikir ayah bunda akan senang, karena hemat ongkos angkutanmu ke sekolah.

Ternyata tidak. Mereka tak sanggup membeli pulsa untuk kebutuhan internetmu. Kamu tidak bersekolah, dalam jangka waktu lama. Kerjaanmu hanya menonton televisi yang isinya talk show recehan, sinetron murahan, atau berita kriminalitas di mana-mana.

Selain berita kriminal, yang kamu ingat hanyalah, angka putus sekolah, putus kerja, dan kemiskinan meningkat tajam. Banyak bayi malnutrisi, banyak orang kelaparan tak bisa makan. Begitu kata berita. Berita-berita itu coba menekanmu, tapi kamu coba bangkit dan melawan.

Kamu terinspirasi mahasiswa dan pelajar yang menuntut perbaikan ekonomi politik. Demonstrasi pecah di mana-mana. Tuntutan mereka sama. “Turunkan dan Adili Soeharto!” “Hapus KKN – Korupsi Kolusi dan Nepotisme!”

Sampai di sini, kamu punya gambaran situasi saat itu?

Tak semua orang merasakan hal ini. Dalam piramida masyarakat, di manapun itu, jumlah elit (kaya raya dan punya akses politik-kekuasaan) selalu yang paling kecil, jumlah orang miskin selalu yang terbanyak. Kelas menengah terbagi dua; menengah bawah dan menengah atas. Menengah bawah jadi miskin, menengah atas beberapa di antaranya sanggup mencari jalan keluar dari kekacauan.

Kami, para mahasiswa juga terbagi dalam kelas menengah bawah dan menengah atas. Ada yang menyerukan perubahan, dari dalam kampus, ada yang duduk tenang di taman. Di Universitas Airlangga, kami orasi dari fakultas ke fakultas. Kami hanya segelintir orang saja. Beberapa orang bergabung, namun lebih banyak lagi yang diam, pasif, tak bergerak.

Beberapa malahan mengolok kami, bagi mereka tak ada Bapak Pembangunan yang berpengalaman sekian lama sebagai Presiden selain Soeharto.

Sampai besok.
Peluk ciumku untuk adik-adikmu.

 

Moskow, 1 September 2020
Oleh: Joaquim Lede Valentino Rohi

Komentar

Jangan Lewatkan