oleh

Cerita untuk Kakak Ames (22)

-Cerita-171 views

Bagaimana imajinasimu tentang Krisis Moneter (Krismon) dari suratku kemarin?

Apakah kamu punya gambaran tentang meningkatnya kekerasan dalam rumah tangga, ketika anak jadi pelampiasan frustrasi orang tua, ketika perempuan jadi sasaran amuk suami, dan atau sebaliknya?

Apakah kamu punya gambaran tentang orang jatuh sakit, kemudian terlantar, mati tak tertangani? Bagaimana dengan rumah sakit jiwa, menurutmu banyak yang sakit jiwa? Apakah kamu punya gambaran tentang bagaimana percobaan-percobaan bunuh diri dilakukan di masa itu?

Apakah kamu bisa membayangkan bayi yang alami malnutrisi, kelaparan di mana-mana? Apakah kamu bisa membayangkan bagaimana anak seusiamu putus sekolah, terlempar ke jalanan, tanpa pegangan, tanpa panutan?

Aku harap kamu bisa meresapinya.

Dalam teori sosial, kemiskinan yang terjadi selama Orde Baru disebut Kemiskinan Struktural. Kemiskinan yang terjadi akibat tata kelola pemerintah yang justru membuat banyak orang menjadi miskin, dan menjadikan sekelompok orang menjadi kaya raya.

Dalam kemiskinan struktural tak ada kesejahteraan, hanya kesenjangan. Ketimpangan antara kaya-miskin, antara kota-desa, antara Jawa-luar Jawa, bahkan antara laki-perempuan. Kemiskinan membuat orang miskin hanya memprioritaskan (misalnya menyekolahkan) anak lelakinya. Ini bukan semata persoalan patriarki -kamu akan belajar ini nanti dariku- tapi juga akibat kemiskinan.

Betapa kemiskinan itu menyakitkan, ia berjalan beriringan dengan kekerasan. Ia tidak hanya seperti penyakit yang merusak raga, ia juga melumpuhkan jiwa. Kejahatan terbesar yang dilakukan negara adalah menciptakan kesenjangan, begitu kata Fidel Castro dalam pidato ulang tahunnya.

Baiklah, kita kembali lagi ke peristiwa yang terjadi saat itu.

8 Maret 1998, Soeharto mengumumkan bahwa dia bersedia dicalonkan kembali menjadi presiden untuk periode 1998-2003, setelah pimpinan lima fraksi MPR datang dan meminta Soeharto untuk bersedia dicalonkan menjadi presiden lagi.

Kunjungan itu dilakukan antara pukul 14.30 – 16.40 WIB di Jalan Cendana, kediaman Soeharto. Yang pertama masuk adalah F-ABRI, disusul Fraksi Karya Pembangunan (F-KP), Fraksi Partai Demokrasi Indonesia (F-PDI), Fraksi Persatuan Pembangunan (F-PP), dan terakhir Fraksi Utusan Daerah (F-UD).

Berbeda dengan era demokrasi, seorang calon presiden harus berkampanye, harus berkeliling Indonesia menawarkan visi-misi dan program terbaiknya. Era Orba, anggota MPR berduyun-duyun, dengan membungkuk dan tertunduk, memohon agar Soeharto mau jadi presiden lagi.

11 Maret 1998, MPR mengesahkan Soeharto menjadi presiden RI periode 1998-2003. Pengesahan itu disambut aksi demonstrasi yang semakin besar. Mahasiswa bahkan mulai beraksi di luar kampus.

12 Mei 1998, Tragedi Trisakti terjadi. Tragedi itu berbuntut kerusuhan Mei 1998 di sejumlah lokasi. 19 Mei 1998, mahasiswa berhasil menguasai Gedung MPR/DPR.

21 Mei 1998, Soeharto mundur. Orde Baru mundur satu langkah, tapi ia tak jatuh, apalagi sampai tertimpa tangga.

Ada dua pertanyaan: pertama, apakah kediktatoran Soeharto tumbang akibat persoalan ekonomi?

Ya. Sebab ia membayar semua kompensasi KKN dan segala kekejamannya dengan pembangunan, meski dengan hutang. Ia tahu benar, asal orang bisa makan dan beli barang, orang takkan ribut dengan pelanggaran HAM dan tetek bengek demokrasi.

Ketika orang tak bisa makan dan beli barang, orang menagih itu semua Nak.

Akibat Korupsi Kolusi Nepotisme (KKN) yang menjadi tradisi dalam keseharian Orde Baru, ekonomi kita luluh lantak dengan mudah. Ibarat rumah, ekonomi Indonesia tidak dibangun di atas fondasi yang kokoh. KKN membuat banyak lubang di tembok, tiang rumah keropos di mana-mana.

Korupsi bahkan hari ini masih kuat mengakar. Coba lihat di sekitarmu. Itulah warisan terbesar Soeharto, Presiden paling korup di dunia.

Kedua, bagaimana aksi mahasiswa membesar? Aku ceritakan ini besok.

Besok akan kuceritakan apa yang terjadi di kampusku, Unair, yang terjadi di kampus-kampus lainnya, dan apa yang terjadi di Surabaya saat itu. Sebelum ingatanku rapuh, dan ragaku layu, aku akan ceritakan semua, sedetil mungkin.

Sampai besok.
Peluk ciumku untuk adik-adikmu.

 

Moskow, 2 September 2020
Oleh: Joaquim Lede Valentino Rohi

Komentar

Jangan Lewatkan