oleh

Cerita untuk Kakak Ames (23)

-Cerita-144 views

Pemuda kelas menengah, terutama mahasiswa (dan pelajar) adalah agen perubahan. Mereka lebih leluasa bergerak daripada kaum pekerja, daripada yang sudah berkeluarga, daripada para pemuda putus sekolah. Mereka punya banyak keistimewaan; masih muda, intelek, punya waktu, biasanya tak terikat urusan menghidupi ekonomi keluarga.

Dalam situasi krisis parah yang dibuat oleh rejim, rakyat marah. Apakah kemarahan rakyat ditangkap oleh mahasiswa? Sebagaimana dalam suratku sebelumnya, ada yang menangkap kegelisahan rakyat ini, ada yang tetap duduk bersenang-senang.

Perlahan tapi pasti, kami semakin banyak, siap bergerak. Pada awalnya, kami masih terus lakukan aksi di dalam kampus. Kami lantas berpikir untuk menyambungkan gerakan mahasiswa di dalam kegelisahan rakyat di luar sana. Kami harus bergerak keluar.

Di sini, muncul friksi.

Sebagian mahasiswa tidak setuju, mereka bilang sebaiknya mahasiswa lakukan aksi hanya di dalam kampus. Mereka bilang mahasiswa adalah penjaga moral, gerakannya pun gerakan moral, bukan gerakan politik praktis.

Di kalangan mahasiswa yang bergerak mucul dua kubu: Gerakan Politik (GP) dan Gerakan Moral (GM). Pada tahap selanjutnya, GP menolak Sidang Istimewa (SI), GM menerima dengan syarat: “Menerima SI asal…”

GM aktif adakan diskusi di ruang kelas. GP aktif lakukan aksi dari fakultas ke fakultas. Dua kubu sama-sama punya pengaruh luas.

Ketika jumlah kami cukup, kami bergerak keluar kampus, lewat pintu barat Universitas Airlangga Kampus B. Polisi menghadang kami. Sementara di luar sana, di perkampungan Gubeng Kertajaya dan Gubeng Airlangga, rakyat menunggu kami, siap menyambut kami.

Dorong mendorong berakhir dengan korban, kami dipukul, beberapa luka dan berdarah. Ketika kami dipukul, kami hanya mundur, tidak membalas aksi kekerasan aparat. GM menuding GP mengorbankan kawan. GP membalas, “Sok moralis kalian!”

Kami ulangi lagi keesokan harinya, begitu terus hingga kami menemukan format yang pas untuk menjebol barikade polisi. Aksi mulai terpimpin. Sampai di pintu barat korlap aksi (koordinator lapangan) menyanyikan lagu “Tong potong roti, roti pakai mentega, Belanda sudah pergi, Soeharto-lah gantinya.” Lalu ia memberikan aba-aba, ketika nyaris menjebol barikade, polisi dari belakang kembali memukuli kami.

Entah sudah berapa banyak jatuh korban di pihak mahasiswa, entah setelah ke berapa kalinya, kawan-kawan mulai membalas pukulan itu dengan lemparan batu. Beberapa polisi juga menjadi korban.

Esok hari hal serupa terjadi lagi; polisi memukul, kami membalas dengan pukulan tangan, tendangan, dan lemparan batu. Ada juga mahasiswa di barisan depan yang terkena lemparan batu kawannya sendiri dari barisan belakang.

Bentrokan berdarah terjadi tiap hari. Pusat aksi perlawanan kami ada di tenda keprihatinan. Beberapa mahasiswa lakukan aksi mogok makan di depan Gedung Perpustakaan Universitas. Dokter Yudha, secara sukarela memeriksa kondisi pelaku aksi mogok makan. Ia juga memberikan vitamin untuk kami.

Kala itu, perkualiahan masih berjalan. Daniel Sparringa, mengadakan kelasnya di samping tenda, bukan di ruang kelas. Beberapa dosen memberikan dukungan luar biasa. Dede Oetomo misalnya. Ia punya jaringan luas, ia membantu logistik teman-teman.

Api aksi makin membesar, kemarahan kepada negara membesar. Kami bertekad keluar. Aksi bersama rakyat di luar pagar. Suatu hari, aparat kewalahan meladeni perlawanan kami.

Kami membalas dengan gigih, dengan tekad, dengan keberanian, dengan teratur dan rapi. Polisi berjatuhan, sebagian berlarian. Kami tidak mengejarnya. Kami tetap merapatkan barisan. Rakyat bersorak kegirangan.

Hari pertama keluar kampus, kami masih berjalan sendiri, belum bergabung dengan rakyat, kami masih harus hati-hati, harus bisa membedakan mana rakyat, mana intel aparat.

Kami keluar kampus seolah pemenang hari itu, padahal kami hanya keluar dari pintu barat, berjalan mengitari kampus untuk masuk kembali lewat pintu timur, depan Gedung Serba Guna. Ini kemenangan kecil.

Kemenangan kecil yang berdampak besar. Hari demi hari kami mulai aksi keluar kampus, aparat mengawal, tak ada lagi bentrokan depan pintu barat. Malahan, pihak universitas membangun pintu portal di situ.

Apakah itu untuk menghadang langkah kami, atau justru melindungi kami? Tak ada yang pasti. Sama tak pastinya dengan isu tentang serangan tentara kepada kami di tenda perlawanan itu. Tiap malam kami berjaga bergantian. Malam demi malam, serangan tentara tak kunjung datang. Tapi kami benar-benar siap menyambut mereka.

Hari demi hari, mahasiswa dari universitas lain bergabung dengan kami dengan jaket almamater masing-masing. Kampus kami jadi kampus warna warni dipenuhi ratusan orang. Atau mungkin ribuan, entahlah. Kita lanjutkan besok.

Peluk ciumku untuk adik-adikmu.

 

Moskow, 4 September 2020
Oleh: Joaquim Lede Valentino Rohi

Komentar

Jangan Lewatkan